PEMANAH, BUSUR DAN ANAK PANAH

Kahlil Gibran, seorang penulis penuh hikmat berdarah Libanon, pernah menuliskan sebuah puisi indah mengenai salah satu aspek kehidupan keluarga, yaitu hubungan orangtua dan anak. Ia menuliskan demikian:

Anakmu bukan milikmu

Mereka milik Sang Hidup

Yang rindu pada dirinya sendiri

Lewat kita mereka ada

Namun tidak dari kita

Mereka ada pada kita

Tetapi bukan milik kita

Berikan mereka kasih sayang

Tetapi jangan sodorkan bentuk pikiran kita

Patut diberi rumah untuk raganya

Tetapi tidak untuk jiwanya

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan

Yang tak mungkin kita kunjungi

Meskipun hanya dalam mimpi

Kita dapat berusaha menyerupai mereka

Namun tidak mungkin mereka disuruh menyerupai kita

Kehidupan tak kan berjalan mundur

Pun tidak tinggelam di masa lampau

Katakan kita busur

Merekalah anak panah yang meluncur

Sang Pemanah Mahatahu sasaran bidikan keabadian

Dia merentangkan tangan kita dengan kekuasaanNya

Hingga anak panah melesat, jauh dan cepat

Puisi Kahlil Gibran ini menurut saya sangat dalam maknanya untuk kita renungkan bersama. Menurut Kahlil Gibran, orangtua adalah kawan sekerja Allah dalam proses pendidikan anak. Orangtua dipanggil untuk berperan sebagai pengasuh dan pembimbing kehidupan anak agar  setiap anak, yang digambarkan sebagai anak panah itu,  dapat melesat jauh dan cepat menuju sasaran kehidupan yang penuh keabadian, yaitu hidup yang bermakna bagi dirinya sendiri, orangtua, gereja, masyarakat, dan tentu saja Tuhannya.

Ajakan Kahlil Gibran tentu saja bertolak belakang dengan pola pengasuhan orangtua yang cenderung otoriter, memaksakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak mereka sehingga anak tidak mempunyai kemampuan untuk berkembang kepribadiannya secara utuh dan matang. Seorang anak memang perlu dijaga, dicukupi kebutuhan hidupnya, disekolahkan, diarahkan dan dibimbing hidupnya. Tetapi tidak untuk menjadikan mereka photo copy kita dalam segala hal. Itu adalah sebuah kemustahilan. Dan juga sebuah kekeliruan besar apabila kita melakukannya.  Sebab jiwa mereka adalah penghuni masa depan yang tak mungkin kita kunjungi meskipun dalam mimpi. Demikian Kahlil Gibran memberikan pandangannya.

Pola asuhan kita bagi kehidupan anak harus sesuai dengan kehendak Allah Bapa. Dialah Sang Pemanah kehidupan sedangkan kita adalah busur kehidupan Sang Pemanah. Bukankah busur panah harus selaras dengan bidikan Sang Pemanah. Sehingga anak panah itu melesat jauh dan cepat dengan arah yang tepat menuju masa depannya. Bukankah ini suatu panggilan yang kudus dan mulia dari Allah untuk setiap orangtua?

Salah satu unsur penting orangtua sebagai busur kehidupan Sang Pemanah bagi anak panah itu ialah bagaimana kita memberikan teladan hidup yang benar kepada mereka. Keteladanan merupakan unsur penting dan menentukan tegaknya suau kehidupan. Ucapan, perintah atau himbauan yang tidak disertai teladan nyata hanya akan melahirkan kebingungan, kesinisan dan ketidakpercayaan. Itu semua pada akhirnya akan merusak seluruh sendi hubungan antar pribadi di dalam keluarga.

Apabila kita belajar dari kehidupan Yesus, maka kita dapat melihat bahwa dalam pola pendidikannya kepada para murid Ia tidak hanya memberi perintah, nasehat dan pengajaran semata; melainkan juga memberikan teladanNya. “ Sebab Aku telah memberikan teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadaMu”(Yohanes 13: 15). Bahkan seluruh kehidupanNya adalah teladan yang paling sempurna, “dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan samapi mati di kayu salib.” (Filipi 2: 8). Saya berpikir, hal itulah yang menyebabkan mengapa Yesus menjadi guru dan nabi yang sangat dikagumi dan disegani banyak orang saat itu.

Adalah ideal apabila sebagai orangtua kita bertindak seirama dengan kata-kata yang kita ucapkan. Anak-anak tentu kecewa terhadap ketidakselarasan sikap dan kehidupan kita. Selanjutnya, mari kita perhatikan apa yang pernah dikatakan oleh Dorothy Nolte mengenai keteladanan tersebut:

Seorang anak yang hidup dengan kecaman

Ia belajar untuk mengutuk

Seorang anak yang hidup dengan belas kasihan

Ia belajar untuk mengasihani diri sendiri

Seorang anak yang hidup dengan dorongan semangat

Ia belajar untuk percaya diri

Seorang anak yang hidup dengan saling berbagi

Ia belajar untuk bermurah hati

Seorang anak yang hidup dengan cemoohan

Ia belajar menjadi pemalu

Seorang anak yang hidup dengan kecemburuan

ia belajar untuk merasa iri hati

Seorang anak yang hidup dalam kejujuran dan keadilan

Ia belajar memahami apa kebenaran dan keadilan

Seorang anak yang hidup dalam cinta akan Tuhan dan sesama

Ia belajar untuk mencintai Tuhan dan sesamanya

Sikap anak yang meneladani sikap dan tindakan orangtuanya merupakan bukti kepercayaan seorang anak terhadap orangtuanya. “Bukankah perahu layar akan meluncur lurus mengikuti irama arah angin, dan anak harimau takkan bertingkah meniru kambing?” Begitu kata nasihat orang bijak.  Oleh sebab itu, jangan kecewakan rasa kepercayaan mereka terhadap kita dan jangan sesatkan mereka dalam meniti hari esok kehidupan yang memang milik mereka. Amsal 22: 6 mengingatkan kita, “didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”

Have a blessed day,

Pdt. Jotje Hanri Karuh

About these ads

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Tulisan ini dipublikasikan di Renungan Harian dan tag . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s