PERASAAN BERSALAH

oleh : Pdt. Jotje Hanri Karuh

Setiap orang pasti pernah mengalami perasaan bersalah. Ada berbagai macam faktor penyebab seseorang mengalami perasaan bersalah dalam hidupnya. Apakah yang dimaksudkan dengan perasaan bersalah? Perasaan bersalah adalah perasan yang muncul yang berhubungan dengan tingkah laku atau pengambilan keputusan moral yang merupakan tanggungjawanb pribadi dan yang dinilai salah oleh hati nurani akibat tidak memenuhi standar nilai moral atau nilai-nilai keagamaan yang dianutnya.

Sigmund Freud, seorang pakar psikologi, berpendapat bahwa konflik batin seseorang dengan hati nuraninya akibat tingkah laku atau perbuatan yang dilakukannya akan menimbulkan semacam kecemasan. Ia menyebut kecemasan yang berasal dari perasaan bersalah itu sebagai moral anxiety (kecemasan moral).

Apa yang umumnya dilakukan seseorang yang mengalami perasaan seperti itu? Hal yang sangat manusiawi ialah melakukan pertahanan diri atau membela diri. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi kecemasan atau rasa bersalahnya. Ada beberapa macam pola pertahanan diri yang umum dilakukan oleh mereka yang berada dalam perasaan bersalah, yaitu:

  1. Represi, mencoba melupakan kesalahannya dan menekan kecemasannya ke alam bawah sadar. Cara ini merupakan cara yang paling banyak dilakukan. Cara ini tidak menyelesaikan masalah. Diperlukan energi yang besar untuk tetap menyimpannya di dalam alam bawah sadar dan suatu saat perasaan itu akan muncul kembali.
  2. Rasionalisasi, yaitu membangun argumentasi, pendapat, yang tujuannya adalah untuk membenarkan atau mendukung apa yang telah diperbuatnya yang walaupun oleh hati nuraninya sendiri dinilai salah. Misalnya: kalau saya sedikit korupsi tidak apa-apa sebab yang lain juga melakukannya bahkan lebih besar dari yang saya lakukan.
  3. Proyeksi, melemparkan kesalahan pada orang lain. Misalnya ketika Adam menyalahkan Hawa dan Hawa menyalahkan iblis. Mereka yang melakukan hal ini umumnya akan cepat sekali melihat kesalahan pada orang lain dan menghakiminya. Dengan cara ini ia menyalahkan orang lain sambil membenarkan dirinya sendiri.

Satu hal yang perlu kita ingat, dengan melakukan pembelaan diri seperti cara tersebut di atas sebenarnya kita tidak menyelesaikan masalah. Masalah tidak dilupakan, kecemasan tidak hilang. Apabila keadaan seperti ini terus berlangsung maka akan terjadi keletihan mental yang pada gilirannya akan menimbulkan masalah-masalah baru yang akan meruntuhkan bangunan kehidupan yang sedang dirangkainya.

Beberapa dampak negatif  yang dapat muncul dari perasaan bersalah yang tidak terselesaikan dalam hidup seseorang.

  • Dapat mengalami keletihan emosional. Misalnya merasa tidak bersemangat dalam hidup, penuh dengan keluhan, pandangan yang suram/negatif terhadap hidup, orang lain, atau bahkan terhadap dirinya sendiri.
  • Tidak lagi mempunyai energi untuk berkonsentrasi, belajar dan berpikir kreatif akibat banyaknya energi yang dipakai untuk  mempertahankan dirinya sendiri. Dengan keadaan seperti ini maka ia akan mengalami kegagalan dalam mengerjakan berbagai tugas dalam hidupnya.
  • Akibat dari berbagai kegagalan dan panmdangan yang suram tersebut, oarng jadi suka menghakimi dirinya sendiri, tidak percaya diri dan tidak dapat melihat sisi positif dari dirinya sendiri.

Dampak negatif tersebut tidak hanya dirasakan oleh mereka yang mengalami perasaan bersalah; melainkan juga sangat berpengaruh  pada orang-orang yang  berada di sekitarnya. Mereka yang mengalami keletihan emosinal tersebut akan bereaksi sangat emosional dan tidak pada tempatnya pada sikap dan tindakan orang lain atau berbagai kejadian yang dialami dalam hidupnya. Dan mereka pun akan menilai orang lain secara negatif dan penuh prasangka.

Perasaan bersalah  yang tidak terselesaikan dapat membentuk semacam lingkaran setan yang tidak ada putusnya. Sehingga akan amat meletihkan. Rasa bersalah karena satu kejadian secara tidak langsung (melalui pandangan hidup yang suram dan ketidakmampuan dalam berkonsentrasi) dapat melahirkan rasa bersalah yang lainnya lagi.

Bagaimana menyelesaikan rasa bersalah yang ada dalam diri kita?

  • Hal pertama yang diperlukannya ialah pengampunan. Untuk itu seseorang perlu mengakui kesalahannya. Untuk hal ini kita dapat belajar dari kehidupan raja Daud. Dalam II Samuel 12: 13, Daud mengakui kesalahannya setelah ditegur oleh Nabi Natan. Pengakuan yang dilakukan Daud bukan sebatas ucapan bibir tetapi sebuah pengakuan yang jujur, tulus dan sungguh-sungguh. Mazmur 51: 3 – 5 memperlihatkan betapa dalamnya penderitaannya akibat rasa  bersalah yang selama ini dipendamnya.
  • Hal kedua yang dilakukan Daud ialah ia tidak terus larut dalam penyesalan dan penghakiman diri atas apa yang telah dilakukannya; sebaliknya ia memusatkan perhatiannya pada masalah yang dihadapinya di masa kini danm berharap hari esok menjadi lebih baik.

Bagaimana Daud dapat melakukan kedua hal tersebut? Daud dapat melakukannya karena ia mengenal dengan baik Tuhan dan dirinya sendiri. Tuhan bagi Daud adalah sosok yang penuh kasih yang tetap mengasihi umatNya apapun keadaannya. Teguran Tuhan dilihatnya sebagai bentuk cintaNya kepada dia. Sehingga ia tidak perlu merasa membela diri atau mempertahankan diri dihadapan Tuhan.   Selain itu, Daud mempunyai hati nurani yang memahami kasih karunia Tuhan. Sehingga hati nuraninya tidak terus-menerus menekannya malainkan membimbingnya untuk semakin dekat dengan Tuhan dan membangkitkan kembali harga dirinya agar  kembali menjadi manusia yang bermartabat.

Mengapa seseorang seringkali larut dalam perasaan bersalah? Pertama, karena tidak memiliki iman seperti Daud; bahwa Tuhan mengasihi bahkan sangat mengasihi kita satu persatu tanpa terkecuali. Selain itu, juga menyadari bahwa Tuhan menginginkan kita hidup menurut kehendakNya. Kedua, biasanya karena faktor hati nuraninya sendiri yang lebih kejam dari orang lain bahkan Tuhan. Penyebabnya adalah karena kita tidak dapat mengasihi diri kita sendiri seperti Tuhan mengasihi diri kita. Hati nurani kita sendiri yang kadangkala tidak mau mengampuni diri sendiri.

Melakukan kesalahan adalah manusiawi. Sebab tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi ini tidak boleh menjadi alasan untuk terus berbuat kesalahan. Perasaan bersalah  tidak dapat diselesaikan dengan melupakannya atau melakukan tindakan pembelaan diri.

Perasaan bersalah pada satu sisi dapat menimbulkan penderitaan secara emosional; tetapi di lain pihak, rasa bersalah dapat juga menjadi sebuah peringatan kepada kita agar berhati-hati dalam bertingkah laku atau mengambil keputusan dan mempertimbangkan keberadaan orang lain.

About these ads

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Tulisan ini dipublikasikan di BINA SPIRITUALITAS dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s