MELAYANI DENGAN HATI

oleh : Pdt. Jotje Hanri Karuh

Laurie Beth Jones, penulis buku Jesus CEO, berkata: “yang membedakan antara pelayan yang sejati dengan pencari kejayaan adalah prinsip kepelayanannya.” Prinsip pelayanan menunjuk kepada aspek spiritualitas.  Apa yang dimaksudkan dengan spiritualitas? Howard Rice mendefinisikan spiritualitas sebagai “the pattren by which we shape our lives in response to our experience of God as a very real presence in and around us.” Pelayanan adalah salah satu bentuk respon kita terhadap Allah yang kehadiranNya kita rasakan dalam seluruh hidup keseharian kita.

Dalam kaitan dengan hal tersebut di atas kita akan membicarakan perihal melayani dengan hati. Ada pertanyaan yang perlu kita renungkan. Dalam aktifitas pelayanan kita selama ini apakah kita melayani manusia (gereja dan anggota-anggotanya) ataukah melayani Allah? Dengan penuh  keyakinan kita dapat menjawabnya yaitu melayani Allah melalui pelayanan terhadap sesama manusia. Tetapi dalam praktiknya hal ini tidak mudah kita lakukan menjadi satu perpaduan yang utuh dan menimbulkan sukacita dalam pelayanan.

Untuk hal ini, saya ingin mengajak Saudara untuk melihat satu hal penting yang terdapat dalam Filipi 2:7 yaitu Kristus mengambil rupa seorang hamba. Kata yang dipakai untuk menunjuk hal tersebut ialah Kenosis. Ada dua hal yang perlu kita ingat dan perhatikan apabila kita berbicara tentang kenosis Yesus dalam pelayananNya. Pertama, Kenosis berarti mengosongkan diri. Mengosongkan diri bukan berarti kita menghilangkan jatidiri diri kita sehingga kita menjadi aneh dan bertingkah aneh dari biasanya, melainkan melepaskan diri dari semua pikiran yang hanya berpusat pada diri sendiri. Kenosis berarti penyangkalan diri. Penolakan terhadap segala isi hati yang akan menjauhkannya dari persekutuannya dengan Allah dan manusia. Kenosis berarti membuang hal buruk dalam diri yang dapat menjadi tembok penghalang kita berhubungan dengan tulus, jujur dan penuh kasih pada sesama.

Kedua, kenosis berarti juga mencurahkan diri. Artinya, mereka yang ingin melayani seperti Kristus melayani harus dapat memperkaya kehidupan orang lain. Bukan secara materi melainkan memperkaya kehidupan, pengalaman batin, keterampilan dalam pelayanan dan sebagainya.  Dalam melayani yang diutamakannya ialah Kristus bukan dirinya dengan segala egonya, ambisinya. Kita memuliakan Kristus dengan sikap dan tindakan kita yang memampukan orang lain untuk berkembang bukan menjatuhkannya. Berkembang bersama dalam pelayanan bukan menjadi penghambat pelayanan.

Tanpa adanya kedua hal tersebut di atas  ada bahaya besar menanti dan mengancam diri serta pelayanan kita, yaitu pelayanan yang mengedepankan kepentingan diri sendiri ketimbang untuk kepentingan Kritus.

Pentingnya hati dalam pelayanan atau melayani dengan hati ditekankan Yesus juga dalam Injil Matius 12: 35 ketika Ia berkata: “orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.” Di mana letak perbendaharaan itu? Hati kita. Sedangkan dalam Amsal 27: 19 dikatakan, “seperti air mencerminkan wajah demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.”

Beberapa hal dapat menjadi perhatian kita dalam melayani dengan hati ialah:

  • Melayani dengan hati terarah kepada kemungkinan transformasi pribadi dan kelompok (komisi, jemaat, keluarga, masyarakat). Sehingga nama Kristus semakin ditinggikan dan dimuliakan. Transformasi sebuah kelompok atau komunitas hanya bisa terjadi jika terjadi transformasi hati.
  • Pelbagai konflik kepentingan yang seringkali menimbulkan perbedaan pendapat yang tajam, perpecahan, sikap eksklusif bahkan perpecahan, melalui prinsip kepelayanan melayani dengan hati yang bersumber dari kenosis (pengosongan diri dan pencurahan diri),  dapat diubah  dan diarahkan pada  penyadaran diri yang bercirikan inklusif, positif dan transformatif.
  • Melayani dengan hati berarti jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Tidak menjelekkan orang lain atau organisasi di mana ia ada di dalamnya melainkan mengembangkan rasa bangga dan kecintaannya pada kelompok atau organisasi atau gereja dimana ia ada di dalamnya.
  • Melayani dengan hati berarti pertama-tama tidak menunjuk pada apa yang harus atau telah diperbuat orang lain, melainkan pertama-tama menunjuk  pada apa yang seharusnya kita lakukan untuk orang lain dan gereja kita.
  • Tidak menyalahkan orang lain atau kelompoknya untuk melepaskan tanggungjawab atas suatu kegiatan atau bidang pelayanan tertentu.

Pelayanan yang sejati dicapai dengan memberikan hatinya (itu berarti juga seluruh hidupnya) terhadap pelayanan yang tidak mementingkan diri sendiri. Dalam pelayanan kita mengedepankan Kristus dan keharuman namaNya bukan popularitas diri. Be blessed!

About these ads

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Tulisan ini dipublikasikan di BINA SPIRITUALITAS dan tag . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s