MENGASIHI TANPA SYARAT

I Yohanes 4: 7 – 12

Pernikahan merupakan salah satu mujizat terbesar dalam kehidupan manusia.

Bayangkan saja, dua orang ‘asing’ yang berbeda satu sama lain memilih dengan rela dan suka cita menjadi satu dan membentuk keluarga. Mereka harus menjalani hidup bersama dalam rentang waktu yang tidak tentu. Pernikahan membutuhkan komitmen dan kesetiaan yang berlangsung seumur hidup.

Ini sesuatu yang luar biasa!

Pada suatu hari seorang pria sambil menunggu temannya yang akan menjemputnya di bandara ia melihat seorang pria berjalan ke arahnya dan berhenti persis di sebelahnya untuk menyambut keluarganya.

Pertama-tama ia memberi isyarat kepada puteranya yang kira-kira berumur sembilan tahun sambil meletakkan kopernya. Mereka saling berpelukan dengan penuh kasih.

Saat mereka saling berpelukan sang ayah itu berkata, “Nak, senang sekali melihatmu, ayah kangen kepadamu.” Puteranya tersenyum bahagia dan menjawab: “Saya juga kangen sama ayah.”

Kemudian pria itu berdiri dan menatap mata puteranya yang paling besar yang kira-kira berumur duabelas tahun. Sambil memegangi muka pureranya dengan kedua tangannya ia berkata: “Engkau sudah jadi pemuda. Ayah sangat mengasihimu.” Mereka juga saling berpelukan dengan penuh kasih.

Tak lama kemudian ia berkata: “Saya menyimpan yang terbaik untuk yang terakhir” lalu maju dan memberi istrinya ciuman yang hangat dan penuh cinta. Mereka berpandangan, melemparkan senyuman lebar satu sama lain sambil berpegangan tangan.

Orang yang tengah menanti di jemput temannya itu seolah-olah sedang melihat sepasang pengantin baru. Lalu ia bertanya pada pria itu, “Wow, sudah berapa lama Anda menikah?”

Pria itu menjawab, “Sudah hampir 20 tahun.” Tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah istrinya.

“Lalu, sudah berapa lama Anda pergi?” tanya orang itu. Pria itu menjawab,”Dua hari.”

Orang itu kaget luar biasa. Dari hebatnya sambutan itu ia berpikir pria itu sudah pergi paling sedikit beberapa minggu atau beberapa bulan. Tapi ini dua hari.

Lalu orang itu berkata kepada pria itu,” Saya berharap bahwa pernikahan saya masih akan penuh gairah seperti Anda setelah dua puluh tahun.”

Pria itu dengan tersenyum menjawab, “Teman, jangan berharap tetapi putuskan sekarang juga bahwa engkau menginginkan pernikahan yang penuh gairah dan cinta.”

Saudara, dari cerita ini kita dapat melihat bahwa untuk mewujudkan sebuah pernikahan yang kokoh, penuh gairah dan cinta diperlukan sebuah keputusan, sebuah komitmen. Sebuah tekad bersama untuk mewujudkannya.

Karena itu, untuk kedua mempelai …… dan ……..  janganlah berharap tetapi putuskan sekarang bahwa hidup pernikahan yang kalian bangun mulai hari ini adalah hidup pernikahan yang penuh gairah dan cinta.

Jangan berharap tetapi putuskan sekarang juga bahwa pernikahan Anda akan abadi dan memberikan kebahagiaan bagi semuanya. Jangan berharap, tetapi berkomitmenlah untuk mencipatakan sebuah kehidupan yang utuh dalam pernikahan kalian berdua.

Putuskan sekarang juga, bukan berharap, bahwa kalian menginginkan ikatan pernikahan yang kokoh yang akan memberikan perkembangan kepribadian dan pertumbuhan rohani yang semakin matang dan berbuah bagi sesama.

Dalam surat I Yohanes 4: 7 – 12 dikatakan bahwa dasar untuk menciptakan ikatan pernikahan  yang kokoh antara suami dan istri ialah Kasih. Suami dan istri yang saling mengasihi berarti mereka hidup di dalam hormat ketaatan kepada Allah yang telah mempertemukan dan menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan ini. Dari surat Yohanes ini kita dapat melihat bahwa kasih bukanlah semata-mata sebuah perasaan melainkan sebuah sikap hidup yang harus terlihat setiap hari.

Seorang penyair Rusia yang terkenal yang bernama Dostoyevsky mengatakan bahwa:  “Menikah berarti memasuki sekolah cinta kasih”

Itu berarti sebagai suami dan istri setiap saat harus terus belajar dan mempraktikkan cinta kasih di dalam kehidupan keluarga mereka.

Bagaimana wujud kasih dalam kehidupan keluarga, khususnya antara suami dan istri? Wujud kasih di dalam kehidupan pernikahan adalah:

1. Saling percaya.

Modal utama pernikahan adalah saling percaya. Bukankah kalian memutuskan untuk menikah juga karena kalian saling percaya bahwa kalian telah mendapatkan pasangan yang sepadan dari Allah.  Jangan mudah percaya apa yang dikatakan orang lain mengenai pasangan Anda. Bagaimana pun kalian lebih tahu, lebih mengenal pasangan hidup kalian.

2. Saling menghargai.

Kalau bukan suami atau istri yang menghargai pasangannya siapa lagi? Mulailah dari hal-hal yang paling sederhana. Hargai pasangan anda dan jangan berbuat sesuatu yang mempermalukannya.

3. Saling memaafkan.

Bersedialah untuk saling memaafkan. Kesediaan memaafkan akan memberikan kedamaian dalam hati dan tidak akan menimbulkan akar pahit dalam kehidupan. Kekecewaan dan kemarahan yang dipendam dan terpendam dapat menjadi bom waktu yang dapat merusak cinta dan hubungan suami istri.

4. Mau berbagi suka dan duka.

Dalam diri kita harus ada prinsip hidup: Kebahagiaan pasangan saya adlah juga kebahagiaan saya, dukacita pasangan saya adalah dukacita saya. Apabila ini dapat kita lakukan maka hubungan dan ikatan kasih kita kepada pasangan hidup kita setiap hari akan semakin besar. Dan kita akan semakin mencintainya dengan amat sangat. Kasih kita kepada pasangan kita akan selalu baru setiap paginya.

5. Menerima kekurangan pasangan hidup kita.

Ingatlah bahwa pasangan hidup Anda bukanlah malaikat. Maka terimalah dia dengan segala kekurangan yang ada padanya. Justru ketika kita menerima kekurangan pasangan hidup kita maka pasangan kita itu menjadi sempurna bagi kita.

6. Selalu berpikiran positif.

Ingatlah, bahwa banyak keluarga dan hidup pernikahan yang kandas di tengah jalan karena selalu membangun pikiran yang negatif tentang pasangannya. Pikiran negatif akan membuat kita selalu curiga bahkan cemburu yang berlebihan pada pasangan hidup kita. Cemburu boleh saja tetapi jangan sampai terbakar oleh api cemburu yang belebihan dan menghanguskan.

7. Tetap mesra.

Jangan hilangkan saat mesra di antara kalian berdua. Bangunlah kemesraan. Sebab itu akan sangat menolong kalian untuk menjaga api cinta dan gairah cinta di antara kalian berdua.

Pernikahan menyatukan dua pribadi dan dua kehidupan.

Kesatuan pernikahan tidak sekedar persatuan tubuh melainkan juga kesatuan hati dan pikiran. Oleh sebab itu, kasih atau cinta yang tulus itu harus menjadi perekat diantara suami dan istri.

Dalam setiap pernikahan yang harmonis dan penuh bahagia selalu terdapat hubungan yang mendalam antara suami dan istri.  Jangan berharap tetapi putuskan sekarang dan lakukanlah mulai sekarang bahwa kalian ingin mewujudkan sebuah keluarga yang harmonis, penuh damai sejahtera dan memberikan kebahagiaan.

Tuhan memberkati. Amin.

be blessed,

Pdt. Jotje Hanri Karuh

About these ads

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Tulisan ini dipublikasikan di Khotbah Pernikahan dan tag . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s