HAKIKAT PEREMPUAN DAN LELAKI YANG SALING MELENGKAPI

Kejadian 2: 18 – 25

Tuhan Allah berfirman: “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kejadian 2: 18)

Ketika Tuhan sedang sibuk menciptakan Hawa, Adam menonton dengan asyiknya. Sebentar-sebentar ia berkomentar, “Tuhan, bikin rambutnya yang keriting! Tuhan alis matanya jangan begitu! Tuhan matanya yang belo yah! Tuhan, hidungnya kok pesek? Tuhan, bibirnya jangan terlalu tebal ! Tuhan, dadanya yang begini dong! “Ah, kamu hanya merecoki saja. Kamu diam saja, tanggung beres,” kata Tuhan kepada Adam sambil terus bekerja. Tetapi adam masih saja terus mengoceh. Pada akhirnya Tuhan hilang kesabaranNya dan berkata, “Sudah kamu tidur saja!” Karena itu Tuhan menjadikan Adam tertidur dengan nyenyaknya ketika Hawa dijadikan. Akibatnya Adam menerima seorang istri semacam “terima jadi”. Begitulah tutur si empunya cerita, makanya sampai sekarang suami adakalanya kurang puas dengan sikap, tindakan, penampilan dan rupa istrinya.

Cerita tadi adalah salah satu  dari sekian banyak cerita para rabi agama Yahudi yang mengunggulkan pria dan melecehkan kedudukan wanita. Kedudukan laki-laki diutamakan sedangkan kedudukan wanita diremehkan.

Saudara, tidak berbeda dengan masyarakat timur Tengah lainnya, demikian juga masyarakat Yahudi purba menganut budaya pria-centris. Dalam budaya demikian wanita bukanlah suatu pribadi melainkan benda, sebuah barang. Ia mutlak  milik suaminya yang boleh diperlakukan sesuka hati.

William Barclay pernah meringkaskan pandangan yang meremehkan kaum wanita sebagaimana yang terungkap dalam Talmud (semacam penjelasan dari hukum taurat) dengan kata-kata demikian: “Dalam doa pagi orang Yahudi……seorang pria Yahudi setiap pagi mengucapkan doa syukur kepada Allah bahwa Allah tidak menciptakan dia sebagai seorang kafir, seorang budak atau seorang wanita.” Adalah sebuah kemalangan jika seseorang dilahirkan sebagai seorang wanita.

Selanjutnya, suatu tragedi, bahwa diantara bapak-bapak gereja yang pertama, yang karena terpengaruh oleh Talmud daripada kebenaran Alkitab, ada yang merendahkan derajad kaum wanita dalam ucapan-ucapannya. Tertualianus, misalnya, menyatakan bahwa wanita  adalah pintu masuk iblis, wanita adalah pembujuk pria. “Engkau wanita begitu mudah merusak gambar Allah, yaitu pria. Akibat ganjaran yang  engkau terima yaitu kematian bahkan Anak Allah, Yesus, pun harus menderita kematian.”

Kejadian 2: 18-25 justru menekankan hal yang sebaliknya. Melalui pembacaan kita hari ini hendak ditekankan bahwa dalam pandangan Allah laki-laki dan perempuan adalah sama, sederajat. Sama-sama ciptaan Allah yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej.1:27).

Tujuan Allah menciptakan laki-laki dan perempuan adalah agar manusia mempunyai teman, penolong yang sepadan. Sebab tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Penolong yang sepadan adalah penolong yang seimbang dan sederajat. Penolong yang dapat saling melengkapi satu dengan yang lainnya.

Penggambaran bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki jangan dipahami bahwa lelaki lebih tinggi dari perempuan; melainkan suatu gambaran atau simbol yang hendak menegaskan bahwa manusia itu akan menjadi lengkap, sempurna, apabila laki-laki dan perempuan menempatkan dirinya dan berperan sebagai penolong satu dengan yang lainnya. Seorang laki-laki saja belum sempurna sebagai manusia. Manusia barulah sempurna apabila laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupannya bersedia saling melengkapi dan saling menyempurnakan.

Persatuan manusia yang paling dalam antara pria dan wanita adalah dalam perkawinan atau hidup berkeluarga. Perkawinan adalah maksud dan rencana Allah sendiri untuk mempersatukan manusia. Dalam perkawinan itu juga manusia mengenal penolongnya dengan lebih dekat dan lebih dalam lagi. Dalam perkawinan itu juga, manusia saling memberi, menerima dan menopang satu dengan yang lainnya.

Tetapi saudara, persatuan antara pria dan wanita tidak hanya tercipta dalam ikatan perkawinan. Persekutuan itu juga dapat terwujud dalam:

  1. Hubungan atau interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan kehidupan dunia kerja.
  2. Hubungan atau interaksi psikologis. Maksudnya, pria dan wanita saling melengkapi kekurangan dari kepribadian seorang pria dan wanita. Saling melengkapi dari interaksi psikologis ini selain dapat memperkaya kualitas kepribadian, juga akan mematangkan atau mendewasakan kepribadian. Itu sebabnya, hubungan pria dan wanita perlu dikembangkan secara lebih positif dalam hubungan persahabatan yang tidak selalu menunjuk kepada hubungan intim secara seksual.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Perbedaan antara laki-laki dan perempuan adalah kehendak Allah sendiri. Allah sengaja menciptakan perbedaan itu. Tetapi perbedaan ini diciptakan Allah agar terbentuk suasana hidup saling menopang dan menolong di dalam interaksi atau hubungan sosial dan psikologis. Di dalam interaksi sosial dan psikologis yang saling menopang dan menolong inilah seorang manusia, baik laki-laki dan perempuan, dapat mencapai kematangan dan kedewasaan dalam kepribadian dan kehidupan rohaniahnya.

Bagaimana dengan kita selama ini? Sudahkah kita mengembangkan pola hidup yang saling menopang dan menolong di dalam kesederajatan yang sama? Amin.

Be blessed!

Pdt. Jotje Hanri Karuh

About these ads

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Tulisan ini dipublikasikan di Khotbah Pernikahan dan tag . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s