EMPAT KUNCI SUKSES BERKELUARGA

I Korintus 11: 11 – 12

oleh : Pdt. Jotje Hanri Karuh

Kenapa kita ingin menikah? Jawaban atas pertanyaan ini bisa amat beragam. Antara lain:

  • “Saya ingin berbagi kehidupan dengan orang yang saya cintai dan mencintai saya.”
  • “Saya ingin mendapatkan sesuatu yang dulu tidak pernah saya dapatkan dari keluarga saya.”
  • “Saya tidak ingin kesepian.”
  • “Saya tidak ingin menjalani kehidupan ini seorang diri.”
  • “Saya ingin ada yang merawat dan menemani kalau saya tua nanti.”

Saudara, jawaban-jawaban tersebut terdengar sangat logis dan tidak salah.

Dengan menikah kita memang bisa mendapat berbagai hal seperti yang disebutkan oleh berbagai jawaban itu: tempat berbagi, teman seiring dalm hidup, orang yang akan menjaga dan merawat kita.

Akan tetapi tidak semua jawaban-jawaban itu tepat dan lengkap. Jawaban-jawaban itu menyiratkan egoisme dan egosentrisme, hanya berfokus pada kepentingan diri sendiri, harapan dan keinginan pribadi serta apa yang ingin kita dapatkan.

Padahal, dalam sebuah pernikahan tidak selalu berisi apa yang bisa kita dapatkan dari pasangan kita. Pernikahan juga berisi apa yang bisa kita berikan kepada pasangan kita.

PERNIKAHAN YANG HANYA BERFOKUS PADA APA YANG INGIN KITA DAPATKAN,  AKAN MENJADI SEBUAH PERNIKAHAN YANG PENUH TUNTUTAN – TIDAK SEIMBANG -TIDAK FAIR – HANYA AKAN MELAHIRKAN SEBUAH PERNIKAHAN YANG RAPUH DAN KEROPOS.

Ibu Theresa pernah berkata, “Bagikan kasih ke mana saja Anda pergi; pertama di rumah Anda sendiri.

Bagaimana hari-hari kehidupan kita jika kita tidak hidup di dalam kasih? Mungkin Anda dan saya perlu merenungkan hal berikut ini:

  • Sunday (Minggu)     menjadi   Sadday (hari penuh kesedihan)
  • Monday (Senin)        menjadi Moanday (hari penuh keluhan/rintihan)
  • Tuesday (Selasa)       menjadi Tearsday (Hari penuh air mata)
  • Wednesday (Rabu)   menjadi Wasterday (Hari yang penuh kesia-siaan)
  • Thursday (Kamis)      menjadi Thirstday (hari haus akan cinta)
  • Friday (Jumat)           menjadi Fightday (Hari perkelahian)
  • Saturday (Sabtu)       menjadi Shatterday (Hari penuh kehancuran hati)

Dari bacaan kita, I Korintus 11: 11 – 12 kita dapat melihat beberapa pokok penting yang perlu kita pahami dalam kaitannya dengan hidup pernikahan dan membangun sebuah keluarga.

  • Pernikahan adalah relasi dua arah dan seimbang.
  • Kedudukan suami tidak lebih tinggi daripada istri. Begitu juga kedudukan istri tidak lebih tinggi daripada suami.
  • Yang satu tidak lengkap tanpa yang lain.

Dari bacaan kita setidaknya ada empat (4) hal yang dapat kita lihat dan kembangkan sebagai kunci sukses dalam membangun sebuah pernikahan.

1. Pernikahan harus dilihat sebagai sebuah komitmen pada sebuah hubungan yang permanen.

Yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya adalah komitmen. Hidup pernikahan dibangun di atas serangkaian komitmen antara suami dan istri. Komitmen untuk saling mengasihi, saling menghargai, saling mengingatkan, saling mendoakan dan komitmen untuk menjalani kehidupan pernikahan sampai maut memisahkan. Oleh sebab itu, Yesus pernah berkata, “Apa yang telah dipersatukan oleh Allah jangan dipisahkan oleh manusia.”

Komitmen untuk mengasihi dan mencintai harus menjadi dasar hidup pernikahan.

Komitmen menjadikan rumah tangga kita semakin hari semakin kokoh dan semakin terasa menyenangkan.

2. Pernikahan harus dilihat sebagai sebuah panggilan untuk melayani dengan penuh kesetiaan.

Pernikahan adalah sebuah panggilan bagi masing-masing, suami dan istri, untuk melakukan yang terbaik bagi pasangannya. Alangkah indahnya sebuah rumah tangga yang di dalamnya satu sama lainnya terdorong untuk saling melayani dan saling memberi.

3. Pernikahan harus dilihat sebagai sebuah proses pemurnian.

Pernikahn adalah sebuah perpaduan dua pribadi, di mana masing-masing pribadi, suami dan istri, dengan kesadaran penuh memberikan sebagian ruang dalam hidupnya bagi pasangannya. Sehingga tidak ada lagi aku atau kamu. Yang ada adalah kita. Bukan kepentinganmu atau kepentinganku, yang ada adalah kepentingan kita bersama.

4. Pernikahan harus dilihat sebagai sebuah anugerah.

Tidak ada orang yang tidak senang menerima hadiah. Hadiah akan selalu disambut dengan sukacita dan rasa syukur sesederhana apa pun bentuknya.

Dengan memandang pernikahan sebagai sebuah hadiah, kita akan menjalaninya dengan penuh sukacita dan penuh rasa syukur, bukan sebagai beban apalagi sebagai penjara.

Saudara yang terkasih,

Pertunangan adalah suatu masa yang lebih mendalam dari sekedar berpacaran.

Dalam masa itu, keduanya sudah tiba pada tahap perencanaan yang lebih matang untuk membentuk dan memasuki kehidupan berkeluarga.

Memang, tidak semua orang mempunyai pandangan yang sama mengenai makna sebuah pertunangan. Ada yang menganggap pertunangan itu sama resminya dengan perkawinan sehingga tidak boleh diputuskan.

Ada juga yang menganggap bahwa pertunangan adalah tahap yang lebih serius bagi pasangan tersebut untuk menentukan apakah keduanya benar-benar memutuskan untuk menikah atau tidak. Oleh sebab itu, dalam pertunangan pemutusan hubungan masih dimungkinkan.

Tetapi apa pun juga pendapat orang, pertunangan tetap tidak sama dengan perkawinan.

Karena itu, masih ada batas-batas yang tidak boleh dilakukan oleh pasangan yang bertunangan tersebut seperti layaknya seorang suami-istri.

Oleh sebab itu, masa pertunangan sangat baik apabila diisi dengan pengenalan yang lebih jauh terhadap pasangannya.

Setiap pribadi harus dengan penuh hormat menjaga kesucian pasangannya. Selain itu, mereka ini harus mulai membersamakan visi kehidupan keluarga yang akan mereka bentuk nantinya.

Masa pertunangan yang berhasil dan menjadi berkat bagi seluruh anggota keluarga ialah apabila pasangan yang bertunangan ini menjadikan masa pertunangan mereka sebagai masa dimana mereka mempersiapkan diri membentuk sebuah keluarga yang dilandasi oleh sebuah komitmen untuk hubungan yang permanen, panggilan untuk melayani dengan penuh kesetiaan, sebagai sebuah proses pemurnian dan sebagai sebuah anugerah dari Tuhan untuk kalian.

Jika demikian, niscaya keluarga yang sedang kalian persiapkan untuk dibentuk dalam masa pertunangan ini akan menjadi sebuah keluarga yang penuh damai sejahtera. Keluarga yang akan mematangkan kepribadian dan rohani kalian.

Selamat bertunangan. Tuhan memberkati.

*). Khotbah Pertunangan – Bandung, 27 Desember 2007

About these ads

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Tulisan ini dipublikasikan di Khotbah Pernikahan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s