KOMUNIKASI DALAM KELUARGA

KOMUNIKASI DALAM KELUARGA[1]

oleh : Pdt. Jotje Hanri Karuh

Masalah utama dalam pernikahan dewasa ini, seperti yang diungkap banyak ahli konseling keluarga, bukanlah:

Seks…….

Uang…….

Anak-anak……..

Melainkan hilangnya atau lemahnya komunikasi antara suami dan istri.

Pernikahan merupakan pertemuan dua pribadi yang berbeda dan unik untuk saling berbagi hidup. Perbedaan diantara dua pribadi tidak dapat dihindari. Mereka hidup terpisah lebih kurang 20 – 30 tahun, dan selama jangka waktu itu mereka telah mengembangkan selera, kesukaan, kebiasaan, kesenangan dan ketidaksenangan serta nilai-nilai hidup yang dipegangnya. Sangat tidak masuk  akal apabila kita menuntut dua orang, yang karena menikah harus selalu melakukan hal yang sama dengan cara yang sama dan pada waktu yang sama.

Tuhan menciptakan kita sebagai makhluk sosial yang hidup dalam relasi/hubungan satu sama lain. Tidak ada seorang pun yang dapat hidup tanpa kehadiran orang lain. Itulah salah satu makna kehidupan ketika Tuhan menjadikan hawa sebagai pendamping bagi Adam. Oleh sebab manusia adalah makhluk sosial maka mau tidak mau komunikasi menjadi hal yang  penting bagi kehidupan manusia, termasuk di dalam hidup pernikahan.

Tujuhpuluh persen dari keseluruhan waktu kita dipergunakan untuk berkomunikasi. Apakah yang dimaksudkan dengan komunikasi?  Komunikasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk saling berhubungan dengan pihak lain; yang didalamnya seseorang mengungkapkan atau membagikan aneka gagasan, pemikiran dan ungkapan perasaan hatinya kepada orang lain.  Proses komunikasi selalu melibatkan seorang ‘pengirim’ yang menyampaikan berita, gagasan dan ungkapan perasaan  kepada seorang ‘penerima’.[2]

Bernard Wiese dan Urban Steinmetz mengatakan hal berikut mengenai masalah yang terjadi dalam rumah tangga: “Ketidaksesuaian pendapat tak terelakkan dalam suatu pernikahan dan kehidupan keluarga. Kadangkala masing-masing pribadi dapat menjadi pesaing, seperti juga penolong dan pelengkap bagi pasangannya. Setiap pasangan harus menghindari sikap menjauhkan diri yang sering muncul ketika konflik terjadi; dan membenahi hubungan mereka supaya tidak ada lagi sakit hati, keinginan untuk saling membalas atau saling menuduh. Untuk dapat mencapai hal itu, perbedaan-perbedaan harus didiskusikan secara terbuka. Sehingga komunikasi yang baik dapat dipulihkan. Reaksi kemarahan memang tak dapat dihindari dalam kehidupan seseorang, tetapi yang paling penting adalah apa yang diperbuat seseorang dengan amarahnya itu.”[3]

Komunikasi keluarga yang tersumbat akan menghancurkan kehangatan rumah tangga. Kebuntuan komunikasi  mendinginkan suasana hubungan antar pribadi yang ada di dalamnya. Hilangnya atau lemahnya komunikasi dalam keluarga adalah inti masalah di balik meroketnya angka perceraian di masyarakat, termasuk juga di kalangan keluarga Kristen. Itulah sebabnya mengapa penting bagi kita untuk membangun dan mengembangkan komunikasi yang efektif dalam pernikahan dan keluarga.

Dalam pernikahan, saling pengertian tidak berarti tanpa perbedaan, melainkan mampu membicarakan perbedaan tersebut serta memahami pasangannya. Bukankah cara terbaik untuk menghadapi perbedaan bukanlah dengan memeranginya, melainkan berusaha mencari titik temu atau persamaan. Dua orang yang saling mengasihi tetapi tidak mampu memahami isi hati dan pikiran pasangannya akan terus mendapat kesulitan dalam hubungan mereka.

Keluarga yang bahagia bukanlah keluarga yang tanpa konflik, tanpa masalah. Masalah akan selalu muncul dan akan selalu ada. Keluarga yang bahagia ialah keluarga yang dapat mengelola setiap problem kehidupan/konflik yang muncul dalam keluarga mereka. Itu berarti,  keluarga yang bahagia adalah keluarga yang mempunyai jalinan komunikasi yang efektif di dalamnya.

Komunikasi yang efektif bukanlah sesuatu yang siap pakai tetapi sesuatu yang terus-menerus diusahakan melalui pengalaman sehari-hari ketika suami-istri itu saling berbagi hidup.[4] Komunikasi dikatakan efektif apabila didalamnya terjadi proses pendewasan, pematangan, pemulihan bagi setiap pribadi yang terlibat di dalam proses komunikasi tersebut (suami, istri, anak dan sebagainya);  menghasilkan persatuan walaupun di tengah perbedaan pendapat, melahirkan rasa kebersaman yang kuat, saling memahami dan mengerti serta memperlihatkan sikap hormat, kasih dan kepedulian kepada lawan bicara; dan setiap pribadi yang terlibat dalam proses itu dapat mengungkapkan pendapat dan perasaannya tanpa merasa tertekan oleh pihak yang lain.

Agar komunikasi yang kita lakukan mencapai maksud dan tujuannya maka pada saat proses komunikasi itu berlangsung diperlukan beberapa faktor pendukungnya, yaitu:

  • Sikap saling percaya. Apabila tidak ada unsur saling mempercayai, komunikasi tidak akan berhasil. Sebab kedua belah pihak dikuasai oleh perasaan curiga.
  • Pertalian. Keberhasilan komunikasi berhubungan erat dengan situasi atau kondisi lingkungan pada waktu komunikasi berlangsung. Misalnya situasi atau keadaan yang sedang kacau, maka komunikasi akan terhambat sehingga komunikasi tidak berhasil.
  • Kepuasan. Komunikasi harus dapat menimbulkan rasa kepuasan antara kedua belah pihak. Kepuasan ini tercapai apabila isi berita dapat dimengerti oleh pihak penerima berita dan sebaliknya penerima berita mau memberikan respon positif kepada pemberi berita.
  • Kejelasan. Dalam berkomunikasi dibutuhkan kejelasan isi berita, tujuan yang hendak dicapai dan kejelasan makna istilah yang dipergunakan
  • Keterbukaan. Bersikap terbuka berarti rela mengungkapkan semua informasi yang relevan dan dibutuhkan untuk menjalin hubungan kerja sama yang harmonis dengan sesama
  • Dukungan. Situasi keterbukaan belum cukup apabila komunikasi kita berada dalam tekanan dan ketakutan. Apabila kita tahu akan dikritik dan dicaci maka kita akan segan untuk berbicara. Oleh sebab itu, situasi yang mendukung akan mendukung keberhasilan komunikasi kita.

Ada beberapa sikap dalam berkomunikasi yang harus kita hindari dan waspadai dalam sebuah pernikahan, yaitu:

  • Kritik (criticism). Apabila salah satu pasangan atau keduanya saling mengkritik dan menjatuhkan. Ia hanya berpikir negatif tentang pasangannya.
  • Memandang rendah pasangan hidupnya (Contempt). Apabila salah satu atau keduanya memandang rendah dan tidak menghormati dan membangun rasa percaya diri pasangannya.
  • Saling mempertahankan diri (Defensiveness). Apabila salah satu atau keduanya menolak untuk mendengarkan kebenaran yang diungkapkan pasangan hidupnya.
  • Diam membatu (Stonewalling). Apabila salah satu atau keduanya bungkam, tidak mau bicara apa-apa dan mulai menarik diri serta menjauhkan diri  dari pasangannya.
  • Mendominasi percakapan. Seseorang dapat merintangi proses komunikasi dengan memaksakan pendapatnya sendiri. “Ada dua jenis orang yang tidak banyak bicara, yaitu mereka yang diam,  dan mereka yang berbicara terlalu banyak.”

Berbeda dengan orang lain adalah wajar bahkan dapat menambah keasyikan hubungan dengan pasangan kita. Karena setiap orang unik dan segala sesuatu yang dibawanya juga unik, maka konflik pasti akan timbul. Bahkan akan ada banyak konflik di sepanjang kehidupan pernikahan mereka. Ini bukan sesuatu yang yang buruk; wajar-wajar saja. Yang terpenting ialah bagaimana menanggapi dan menyelesaikannya.

Pasangan yang berhasil membina keharmonisan bukanlah orang-orang yang memiliki pemikiran, perilaku dan sikap yang persis sama — mereka bukan jiplakan dari pasangannya. Mereka adalah pasangan yang sudah belajar menerima perbedaan melalui proses penerimaan, pengertian dan akhirnya saling melengkapi.

Cinta tidak datang secara otomatis, tetapi cinta mencapai kematangan dalam pernikahan ketika dua orang yang bersatu dalam pernikahan terus-menerus mengupayakan komunikasi yang hangat dan efektif. Supaya ada kesatuan hati antara suami dan istri, percakapan yang yang dilakukan hendaknya tidak hanya berkisar soal ekonomi rumah tangga dan soal anak, tetapi juga soal pendapat dan perasaan yang dialami sehari-hari.

Inti dari pernikahan adalah cara berkomunikasi. Tidak setiap pasangan memulai pernikahan dengan komunikasi yang efektif. Tetapi ingat bahwa komunikasi hanyalah cara, bukan tujuan dari pernikahan itu sendiri.

Relasi dan komunikasi antara suami dan istri akan menentukan relasi dan komunikasi dalam keluarga. Apabila suami dan istri saling menghormati, menghargai perbedaan dan mencari solusi bersama dengan baik serta mengasihi dalam tindakan maupun perkataan, maka besar kemungkinan bahwa anak-anak mereka juga akan melakukan hal yang sama.

Pernikahan adalah satu-satunya permainan yang dapat dan harus dimenangkan oleh kedua belah pihak. Selain itu, pernikahan juga dapat diibaratkan seperti sebuah gunting, yang berpadu sehingga tak terpisahkan; sering bergerak ke arah yang berlawanan, tetapi selalu memotong segala sesuatu yang hadir di antara mereka.

Panduan komunikasi pernikahan

Amsal 18:21; 25:11; Ayub 10:2; Yakobus 3:8-10; I Petrus 3:10

  1. Jadilah pendengar yang baik dan jangan berbicara sampai yang lain selesai berbicara. Amsal18:13; Yakobus 1:19
  2. Lambatlah untuk berbicara. Pikirkan dulu. Jangan terburu-buru. Bicaralah sedemikian rupa sehingga yang lain dapat mengerti dan menerima perkataan Anda. Amsal 15:23,28; 21:23; 29:20; Yakobus 1:19
  3. Ungkapkanlah selalu kebenaran tetapi nyatakanlah dengan kasih. Jangan melebih-lebihkan. Efesus 4:15,25; Kolose 3:9
  4. Jelaskan mengapa Anda ragu-ragu membicarakan masalah tersebut. Jangan berdiam diri untuk membuat frustrasi orang lain.
  5. Nyatakan ketidaksetujuan Anda tanpa harus bertengkar. Jangan terjerat dalam pertengkaran. Amsal 17:24; Roma 13:13; Efesus 4:31
  6. Tanggapilah dengan lembut dan ramah. Jangan cepat marah. Amsal 14:29; 15:1; 25:15; 29:11; Efesus 4:26,31
  7. Jika Anda salah, akuilah dan minta maaf. Yakobus 5:16. Jika pasangan hidup Anda mengaku salah dan meminta maaf, katakan bahwa Anda memaafkan segala kesalahannya. Pastikan bahwa hal itu dilupakan dan tidak diungkit-ungkit dihadapannya. Amsal 17:9; Efesus 4:32; Klose 3:13; I Pterus 4:8
  8. Hindari omelan. Amsal 10:19; 17:9; 20:5
  9. Jangan salahkan atau kritik pasangan Anda. Sebaliknya pulihkan…beri semangat….perbaiki. Roma 14:13; Galatia 6:1; I Tesalonika 5:11. Jika pasangan Anda menyerang dengan kata-kata, mengkritik atau menyalahkan Anda, jangan tanggapi dengan cara yang sama. Roma 12:17,21; I Petrus 2:23; 3:9
  10. Cobalah untuk mengerti pendapat pasangan Anda. Berilah ruang bagi hadirnya keberbedaan. Perhatikan minat atau perhatian pasangan Anda. Filipi 2:1-4; Efesus 4:2

Sumber: H. Norman wright, Komunikasi: Kunci pernikahan bahagia, Jogjakarta: Gloria, 2000


[1] Disampaikan sebagai materi pembinaan untuk Bina Pra-Nikah GKI Bandung dan sekitarnya

pada tanggal 20 Nopember 2004 di GKI Jl. Jend. Sudirman 638  Bandung.

[2] Pdt. Jotje Hanri Karuh, Kawan Sekerja Allah: Materi pembinaan bagi Penatua Jemaat,

Bandung, 1998 (untuk kalangan sendiri).

[3] Sebagaimana dikutip oleh H. Norman Wright, Komunikasi: Kunci pernikahan bahagia,

Yogyakarta: Gloria, 2000  hal. 175.

[4] Ibid, Hal, 26.

About these ads

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Tulisan ini dipublikasikan di BINA KELUARGA dan tag . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s