TUHAN SUNGGUH-SUNGGUH DAPAT DIANDALKAN

Mikha 7: 7 – 13

“Bukan mati untuk iman yang  berat tetapi justru hidup untuk iman.” Tetapi justru di sinilah letak kegagalan banyak orang.

  • Tersinggung dan membakar tempat ibadat orang lain bila ada yang menghina.
  • Membunuh demi agama.
  • Doa bukan sebagai tanda penyerahan diri dan pengakuan kebesaran Tuhan, melainkan jadi alat untuk memaksa Tuhan membuat keajaiban segera untuk kita.
  • Ibadah yang meriah tetapi tidak menyentuh hati dan pikirannya.

Semua itu adalah ciri dari sebuah kerohanian yang salah, yang hanya menghasilkan orang yang puas dengan diri sendiri, merasa benar sendiri, tidak dapat menghargai dan mengasihi orang lain dan hidup dengan kemunafikan.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Kehidupan orang Israel pada masa hidup Mikha tidak ada bedanya dengan apa yang telah saya katakan.

  • Ibadah meriah tetapi tidak menyentuh hati dan pikiran mereka.
  • Doa bukan sebagai tanda penyerahan diri.
  • Persembahan sebagai alat untuk menyogok Tuhan agar semakin memberkati mereka; bukan sebagai tanda syukur.

Oleh sebab itu, tidak heran apabila dalam hidup mereka marak apa yang namanya : perselingkuhan, pemerasan, penindasan dan penipuan.

Melihat hal ini, Tuhan – melalui Mikha menyampaikan kekecewaannya. Allah menolak semua ibadat, doa dan persembahan mereka. Hidup beragama yang benar dinyatakan dengan baik dalam Mikha 6:6-8.

Saudara yang terkasih,

Mikha dalam ayat 7 & 8 tetap menaruh pengharapan kepada Allah bahwa Allah tetap mengasihi Israel. Mikha percaya dan mempercayakan diri kepada Allah bahwa Allah akan menolong Mikha dan mereka yang masih setia kepada Allah untuk memperbaharui keadaan yang bobrok itu.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Ada seorang anak wanita yang berulang tahun. Pada hari ulang tahunnya itu ia mendapatkan berbagai macam hadiah yang bagus-bagus dan menarik serta mahal. Tetapi pada hari ulang tahunnya itu ia juga mendapatkan sebuah hadiah boneka yang terbuat dari kain-kain bekas yang didapat dari pamannya. Ia sangat menyenangi boneka yang terbuat dari kain-kain bekas ini. Boneka ini menjadi teman tidurnya di malam hari.

Beberapa tahun kemudian ketika anak ini telah dewasa dan bekerja. Pada suatu hari ia membuka kembali kotak mainannya. Dan ia menemukan boneka kainnya itu yang telah usang dan rusak. Bentuk boneka itu sudah tidak karuan. Bagian kepalanya sudah tidak ada matanya dan bagian kaki serta tangannya tinggal satu. Sang ayah mengusulkan agar ia membuang boneka itu karena sudah jelek dan usang. Tetapi ia menolak dan berkata, “Boneka ini boleh rusak dan usang. Tetapi ia adalah milik saya yang paling berharga dan yang paling saya sayangi. Oleh sebab itu saya tidak akan pernah membuangnya.”

Saudara yang terkasih,

Kita semua adalah sebuah boneka usang seperti dalam cerita tadi, yang cacat dan patut untuk dibuang. Setiap kita mempunyai kebobrokannya masing-masing. Tetapi kita adalah boneka usang yang dikasihi Allah. Allah mengasihi kita bukan karena kita tidak bercacat. Allah mengasihi kita bukan karena kita sempurna. Hanya ilah yang palsu dan kerdil yang dapat dibeli dengan persembahan dan perpuluhan.

Hanya ilah yang palsu dan buruk yang dapat dipuaskan dengan ibadat yang meriah. Hanya ilah yang tidak punya hati yang mau menjual kasih dan anugerahnya kepada mereka yang memberi paling banyak.

Saudara, Allah mengasihi kita karena kita berharga di matanya, “Oleh karena engkau berharga di mataKu dan mulia, dan Aku ini mengasihi Engkau.” (Yesaya 43 : 4a).

Salib adalah tanda bukti betapa berharganya kita di mata Allah, sehingga Ia mau berkorban bagi kita. Ini adalah anugerah terbesar yang Allah berikan bagi kita.

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Dalam Minggu Sengsara IV ini kita diingatkan, betapa berharganya kita di mata Allah. Dan salib adalah tandanya. Oleh sebab itu, Tuhan sungguh-sungguh dapat diandalkan sebagai penyelamat kita. Tuhan dapat diandalkan untuk menolong kita membaharui kehidupan kita.

Kepada kita yang telah menerima kasih-Nya, kita pun diminta untuk membalas kasih-Nya. Allah ingin agar Ia juga berharga di mata kita.

Apa tandanya jika kita membalas kasih-Nya ?

1. Hidup untuk Iman

Memperlihatkan buah-buah iman kita seperti yang Tuhan minta kepada orang Israel, yaitu : berlaku adil, rendah hati, penuh syukur dan setia baik kepada Allah maupun kepada pasangan hidup kita. Sebab iman seseorang dinilai bukan dari apa yang dikatakannya tetapi  dari apa yang yang dilakukannya.

2. Percaya dan mempercayakan diri : BELIEF & TRUST

Percaya belum tentu mempercayakan diri. Mempercayakan diri berarti sepenuhnya mengandalkan Tuhan, dan bukan kekuatan serta kepandaian sendiri.

Dalam Minggu Sengsara IV ini diingatkan bahwa betapa berharganya kita di mata Tuhan. Dan salib adalah tandanya.

Dan apabila kita sungguh-sungguh mengasihi Allah dan menjadikan Allah sungguh-sungguh berharga dimata kita maka kita akan: Percaya dan mempercayakan diri kepada Allah; serta menunjukkan kehidupan iman yang sungguh-sungguh yang terlihat melalui sikap dan tindakan kita yang berlaku adil, rendah hati, penuh syukur, setia kepada Alah dan pasangan hidup kita masing-masing. Amin.

Have a blessed Sunday,

Pdt. Jotje Hanri Karuh

About these ads

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Tulisan ini dipublikasikan di Khotbah Minggu dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s