SPIRITUALITAS ADVENT

Sesuai tahun gerejawi – Minggu ini, 28 Nopember 2010 –  kita memasuki minggu Advent yang pertama dan diakhiri dengan minggu Advent keempat yang jatuh pada tangal 19 Desember 2010.

Apa sebenarnya yang sedang kita lakukan pada masa Advent? Kata Advent berasal dari kata “Adventus” (Bahasa Latin) yang berarti kedatangan. Istilah ini dulu dipakai dalam kekaisaran Romawi untuk menyambut kedatangan kaisar yang dianggap sebagai dewa. Di dalam perkembangan kemudian kata ini dipakai oleh pengikut-pengikut Kristus untuk menyatakan bahwa bagi mereka bukan kaisar, melainkan Kristus yang adalah Raja dan Tuhan.

Masa Advent adalah masa persiapan sebelum Natal, yakni masa persiapan untuk menghayati makna kedatangan Kristus, sesuai dengan penantian Mesias oleh umat Israel yang terungkap dalam kitab-kitab Perjanjian Lama, juga sehubungan dengan kedatanganNya pada akhir Zaman. Jadi, makna kedatangan Kristus yang diperingati gereja pada masa Advent mempunyai makna ganda. Minggu-minggu Advent tidak hanya menunjuk kepada kedatangan Kristus pada hari Natal tetapi juga sekaligus kedatanganNya yang kedua kali pada akhir jaman.

Kedatangan Yesus yang pertama yang terjadi dalam peristiwa Natal berbeda jauh dengan kedatangan-Nya yang kedua. Kesederhanaan, kehinaan, ketidakberdayaan, ketidakmampuan menjadi benang merah yang amat mewarnai kedatangan-Nya yang pertama. KedatanganNya dalam Natal diliputi kehinaan, lahir dalam situasi yang sulit ketika dunia menolak-Nya sehingga kelahiran-Nya harus terjadi di palungan. Pada kedatangan-Nya yang pertama ini Yesus mendatangi ruang hidup manusia dengan segala kesederhanaan-Nya dan kehinaan-Nya, agar manusia yang arogan, tinggi hati, maunya menang sendiri, merasa benar sendiri, berlumur dosa menjadi luluh dan luruh dalam pelukan Yesus. Ia memanggil setiap manusia yang berbeban berat untuk bersimpuh di hadapan-Nya dan menerima pembebasan serta penyelamatan. Hal tersebut berbeda jauh dengan kedatangan-Nya yang kedua kalinya. Kitab-kitab Perjanjian Baru menggambarkan kedatangan Yesus yang kedua kalinya dalam kemuliaan-Nya. Ia datang dengan segala kemegahan-Nya. Yesus Kristus datang dalam segala kemuliaan-Nya untuk menjadi hakim yang adil bagi manusia dan menjemput manusia memasuki Kerajaan-Nya yang abadi.

Minggu-minggu Advent yang diperingati selama empat minggu harus memampukan kita mendalami kedua aspek kedatangan Kristus tersebut, sehingga sebagai warga gereja kita benar-benar siap untuk memasuki hari raya Natal dengan sebaik-baiknya. Di antara dua kedatangan itulah, yaitu kedatangan pertama dan kedua, kita berkarya, memberi yang terbaik bagi Tuhan dan sesama. Bahkan tema-tema minggu Advent pertama sampai dengan minggu Advent yang keempat: “Menantikan Keselamatan dengan Damai Sejahtera”, “Berharap akan Keadilan”, “Sabar dalam Menantikan Syalom yang Sesungguhnya”, dan “Imanuel: Memantapkan Kita untuk Hidup dan Bersaksi” semakin menegaskan pentingnya kita memperhatikan kedua aspek kedatangan Kristus tersebut dengan serius.

Pentingnya kita berefleksi bagaimana sikap kita dalam menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali semakin diperkuat dengan penggunaan kain mimbar dan lilin warna ungu dalam kebaktian. Warna ungu dalam tradisi gereja melambangkan pertobatan dan penyesalan. Di masa Advent ini kita memang diajak untuk merefleksikan ulang kehidupan kita yang pada akhirnya bermuara pada pertobatan. Bertobat berarti menyesali kesalahan yang telah kita perbuat, memohon pengampunan Tuhan, dan kemudian menata kembali kehidupan agar sesuai dengan kehendak Tuhan.  Oleh sebab itu, ketika kita memasuki minggu-minggu Advent kita patut merenung dan bertanya: Apa yang telah kita persembahkan bagi Allah? Apa yang telah kita lakukan bagi sesama kita sebagai kesaksian hidup kita?

Minggu-minggu Advent merupakan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk mencegah pendangkalan makna pengharapan akan kedatangan Kristus yang kedua kali-Nya. Minggu-minggu Advent kembali mengingatkan kepada kita agar tidak sekedar hidup dalam penantian yang pasif melainkan berada dalam penantian yang aktif. Dengan demikian, tema Natal tahun 2010 ini “Memulihkan Wajah Kehidupan” akan menjiwai seluruh kehidupan kita. Kita akan menempatkan diri dan memainkan peran kita sebagai pembaru kehidupan di mana pun kita berada. Kita amenjadi pembaru kehidupan di tengah keluarga, dalam kehidupan bergereja, dan juga bermasyarakat. Kita menempatkan diri kita sebagai garam dan terang kehidupan di mana pun kita berada.

Selamat memasuki minggu-minggu Advent. Kiranya kita semakin mampu dan dimampukan untuk hidup dalam pertobatan dan menjadi kawan sekerja Allah bagi kehidupan bersama umat manusia. Tuhan memberkati kita semua.

Pdt. Jotje Hanri Karuh

Dipublikasi di Renungan Harian | Tag | 1 Komentar

SALING MELAYANI DAN MERENDAHKAN HATI

Yohanes 13: 1-17

William Barclay mengatakan, “Tidak ada orang yang lebih dekat dengan sesamanya, daripada orang yang hidup dekat dengan Allah.” Orang yang dekat dengan Allah pasti dekat dengan sesamanya.

Pasti kita semua ingin menjadi seperti Kristus? Benarkah!

Tetapi seringkali banyak orang kristen ingin menjadi seperti Kristus dalam hal-hal yang menyenangkan saja atau cocok dengan pandangannya sendiri.  Tetapi untuk hal-hal yang berbeda dengan kemauan kita sangat sulit kita melakukannya. Bahkan kalau perlu kita abaikan. Kita anggap tidak ada.

Apa yang paling sulit kita lakukan dalam mengikut Yesus? Merendahkan diri.

Apalagi jika sampai orang lain tidak lagi menghargai kita. Sejujurnya, kita membutuhkan pengakuan dan penghargaan. Oleh karena itu dalam teori psikologi dikatakan bahwa setiap orang butuh yang namanya aktualisasi diri. Aktualisasi diri berkaitan dengan harga diri!

Tetapi di balik keinginan itu tersimpan sebuah ketakutan yaitu: apa jadinya jika aku tidak dihargai? Apa jadinya jika orang lain tidak mengakui keberadanku?  Oleh sebab itu, tidak heran apabila banyak orang akan berjuang memperoleh pangakuan itu dengan berbagai cara seperti kekayaan, jabatan, pendidikan, prestasi, pengaruh atas orang lain, dan sebagainya.

Yesus memutarbalikkan konsep para murid (dan juga diri kita semua) tentang harga diri dan kebesaran. Melalui pembasuhan kaki Yesus ingin meneguhkan perkataanNya dalam Matius 20:26-28, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka diantara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu…Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk  melayani dn untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang”.

Reaksi Petrus yang merasa jengah atau tidak pantas dibasuh kakinya oleh sang Guru memerlihatkan pekerjaan itu adalah sebuah pekerjaan yang rendah. Pekerjaan yang hanya pantas dilakukan oleh seorang budak. Tidak pernah ada dalam tradisi manapun seorang guru membasuh kaki para muridnya. Yang ada adalah murid membasuh kaki sang guru. Jadi, apa yang Yesus lakukan adalah sebuah peristiwa yang mengejutkan, mencengangkan, dan dramatis karena belum pernah ada yang melakukan sebelumnya.

Di Yoh. 13:12 Tuhan Yesus berkata: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?”.  Gelar yang diberikan para murid bahwa Dia adalah Guru dan Tuhan dimaknai secara baru oleh Tuhan Yesus. Dalam hal ini gelar diri  Yesus sebagai Guru dan Tuhan bukanlah suatu gelar untuk menunjukkan suatu kekuasaan duniawi yang dipakai untuk memerintah dan merasa berhak memperoleh perhatian atau pujian dari orang lain.  Tetapi gelar diri Yesus sebagai Guru dan Tuhan dimaknai sebagai suatu gelar untuk mengungkapkan tindakan perendahkan diri yang bersedia untuk melayani orang lain, walaupun yang dilayani ternyata tidak memberi penghargaan sebagaimana yang diharapkan bahkan mereka kemudian justru mengkhianati gurunya.

Bagi Yesus, harga diri dan kebesaran seseorang lebih terkait erat pada kemampuannya bersikap rendah hati dihadapan Tuhan dan sesamanya. Aktualisasi diri terjadi ketika kita mampu melayani dengan sungguh-sungguh tanpa diembel-embeli ambisi untuk mengejar prestise atau harga diri. Sebab jika itu yang menjadi orientasi kehidupan dan pelayanan kita maka kita akan kehilangan makna pelayanan itu sendiri yang adalah untuk melayani Tuhan yang bukti konkretnya kita lakukan pada sesama kita. Kemuliaan bukan hak kita tetapi itu adalah hak Tuhan. Bukankah kita ini hanya hamba yang patut menerima kemuliaan dalah sang Tuan kehidupan itu sendiri yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Di Yoh. 13:13-15 Tuhan Yesus berkata: “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu”. Yesus mewajibkan kita untuk melakukan apa yang telah diteladankanNya. Ini wajib. Tidak bisa ditawar-tawar. Harus!

Mengapa kita sering gagal menjadi teladan bagi orang lain untuk bersikap rendah hati, ketulusan melayani, dan saling mengasihi atau melayani? Karena kita lebih banyak berbicara dari pada berbuat. Kita lebih pandai bermain kata dari pada mewujudnyatakan kata-kata kita. Kita lebih pandai berargumentasi dari pada bermeditasi apakah kita semakin dekat dengan Tuhan dan sesama. Umumnya kita merasa cukup berhasil dalam memberikan nasehat dan pengajaran tetapi sering gagal dalam menjadi teladan yang sebenarnya.

Kebesaran kita dan aktualisasi diri kita terjadi apabila kita dapat merendahkan diri di hadapan Allah dan sesama serta setia dalam melaksanakan tugas panggilan kita untuk saling mengasihi dan melayani. Oleh sebab itu, maukah kita semakin diubah dan dibarui oleh Tuhan menjadi pribadi yang peduli, mengasihi, dan melayani sesama dengan kerendahan hati?

 

Have a blessed day,

Pdt. Jotje Hanri Karuh

Dipublikasi di Renungan Harian | Tag | 3 Komentar

HIDUP YANG BERKUALITAS

Efesus 4: 11 – 16

“Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak aLlah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus…..di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala ke arah Dia, Kristus, yang adalah kepala.” (Efesus 4:13-15)

Dalam situasi kehidupan yang telah mengglobal seperti sekarang ini akibat kemajuan teknologi dan perkembangan pasar bebas antar negara sering kita mendengar istilah Sumber Daya Manusia (SDM) dan Kualitas kehidupan. Dalam kehidupan kita sekarang ini seseorang dikatakan mempunyai sumber daya apabila ia bermanfaat dan berguna bagi proses produksi suatu barang atau jasa tertentu. Semakin baik, semakin terampil semua orang mencarinya. Tetapi ketika ia tidak lagi mampu berfungsi untuk bekerja pada suatu bidang pekerjaan yang menghasilkan uang maka ia akan dibuang dan dilecehkan. Oleh sebab itulah dalam jaman sekarang ini pandangan umum terhadap kelompok manusia usia lanjut (manula) dan mereka yang cacat anggota tubuhnya sering dinilai sudah tidak lagi bersumber daya.

Di dalam kehidupan sekarang ini juga terjadi perendahan makna kualitas hidup manusia. Hidup seseorang dikatakan berkualitas hanya jika ia sukses dalam pekerjaan, sukses pelajaran di sekolah atau kampus, berhasil mendapatkan uang sebanyak mungkin atau ketika seseorang dapat mengikuti gaya hidup modern, yaitu mampu membeli dan mengikuti produk-produk keluaran terakhir yang mahal. Beberapa iklan di TV juga turut mengembangkan pemahaman ini dimana iklan-iklan itu mendorong pembeli membeli produk-produk tertantu dengan embel-embel supaya hidupnya dinilai berkualitas. Jika tidak memakai produk yang ditawarkan maka dinilai belum berkualitas hidupnya.

Apa sebenarnya makna dan ukuran kualitas hidup kita sebagai orang-orang beriman di tengah dunia yang terus berubah yang merupakan milik Allah ini?

Alkitab kita tidak pernah melihat dan memahami kualitas kemanusiaan kita seperti yang menjadi kecenderungan sekarang ini. Khususnya dalam bacaan kita hari ini, Efesus 4: 11 – 16, kita dapat melihat bahwa  Paulus mempunyai pandangan dan penilaian yang lain dalam menilai kualitas sumber daya dan kulaitas hidup seseorang. Setidaknya Paulus mengatakan ada tiga hal yang patut kita perhatikan untuk melihat dan menilai kulaitas hidup kita sendiri dan hidup orang lain. Ketiga hal itu ialah sebagai berikut:

Pertama, hidup seseorang dikatakan berkualitas apabila mempunyai kedekatan hubungan pribadi yang mendalam dengan Tuhan Allahnya. Atau dengan kata lain apakah kita mempunyai ikatan emosional dengan Tuhan kita. Pengertian emosional disini jangan diartikan kalau berdoa harus menangis, apabila bernyanyi harus bertepuk tangan, kalau berdoa harus berteriak-teriak atau tertawa. Tetapi yang dimaksudkan disini ialah apakah kita merasa begitu dekat dan selalu ingin menaati segenap perintahNya. Sehingga apabila berdoa itu benar-benar keluar dari hati kita yang paling dalam, pada saat menyanyi kita menyanyi dengan sungguh-sungguh dan penghayatan yang penuh. Apa yang kita lakukan tidak dibuat-buat.

Paulus dalam ayat berikutnya mengatakan kalau kita mempunyai kedekatan atau hubungan emosional seperti ini maka kita tidak akan terombang-ambingkan oleh berbagai macam rupa angin pengajaran yang dapat menyesatkan kita dari hadapan Tuhan. Saudara ada banyak ajaran baru yang dikemas dengan sangat menarik sehinga orang tertarik. Tetapi kalau kita teliti maka apa yang mereka ajarkan sebenarnya menyesatkan kita. Misalnya ada ajaran yang mengatakan bahwa kalau ikut Tuhan semua persolan beres, tidak akan menemui kesulitan, semua urusan bisnis pasti lancar, kaya dan berkelimpahan. Tetapi kalau kita tidak mengalami itu semua maka berarti iman kita belum beres dan belum sungguh-sungguh terima Tuhan sebagai Juruselamat. Saudara, menarik apa yang diajarkan tetapi sebenarnya menyesatkan. Mengapa? Sebab dalam firman Tuhan dikatakan bahwa setiap orang mengikut Tuhan pasti memikul salib. Ini berarti tidak semua urusan akan selalu berjalan mulus. Tidak selalu sukses dalam dagang dan mungkin suatu saat kita merugi. Tuhan tidak menjanjikan langit selalu cerah atau matahari selalu bersinar dengan terangnya bagi para pengikutNya. Yang Tuhan janjikan ialah kekuatan, penghiburan dan kemampuan dalam menghadapi semua tantangan kehidupan yang kita hadapi.

Di samping itu, mereka yang mempunyai ikatan emosional dengan Tuhan Allahnya akan melibatkan dirinya dalam pengembangan gereja. Ia tidak berpikir apa yang dapat gereja berikan baginya melainkan apa yang dapat dilakukannya bagi pertumbuhan gereja dimana ia menjadi anggotanya.

Akibat lain apabila mempunyai hubungan yang emosional dengan Tuhan Allahnya ialah mereka selalu mengucap syukur dalam segala hal. Dalam susah dan senang mereka tidak melupakan Tuhannya. Dalam kegagalan mereka tidak undur diri dai hadapan Tuhan melainkan mencari letas penyebab kegagalannya itu dan berupaya memperbaikinya. Mereka menyakini bahwa Allah akan turut bekerja dalam setiap tindakan yang mereka lakukan.

Kedua, hidup seseorang dikatakan berkualitas apabila memiliki kedewasaan dan kematangan dalam menjalani kehidupannya. Saudara, sekarang ini tampaknya budaya instant sudak merasuki kehidupan manusia. Ada kopi instant, susu instant, ijazah instant dan lain sebagainya. Orang pada umumnya tidak mau repot-repot. Semuanya ingin serba cepat. Karena itu jangan heran kalau kita melihat atau mendengar ada orang yang menghalalkan segala cara untuk cepat meraih kedudukan, kekayaan dan sebagainya. Seseorang yang memiliki kamatangan dan kedewasaan tidak melakukan hal itu. Sebab ia menyadari bahwa untuk meraih suatu keberhasilan diperlukan waktu, tenaga, kesabaran, ketekunan dan kerja keras.

Selain itu, seseorang yang mempunyai kematangan dan kedewasaan dalam hidup menyadari bahwa ia tidak dapat hidup tanpa kehadiran orang lain. Ia menyadari dirinya tidak berarti tanpa orang lain berada di sekitarnya. Mereka yang menyadari ini tentu akan bersikap mau menerima kepelbagaian suku bangsa dan agama seseorang. Ia juga akan menyadari dan menerima orang lain dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Seperti dirinya sendiri mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Ketiga, hidup seseorang berkualitas ketika ia mampu mengetahui kebenaran dan melakukan kebenaran dalam hidupnya. Saudara, apa ukurannya kalau dikatakan bahwa kita mampu mengetahui suatu kebenaran dan melakukan kebenaran itu? Dalam Yesaya 32: 17 dikatakan, “Dimana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan, dan ketentraman untuk selama-lamanya.” Dengan demikian jika apa yang kita pikirkan dan perbuat itu mendatangkan damai sejahtera, ketenangan dan ketentraman bagi  mereka yang ada di sekitar kita apakah di tengah keluarga, temnpat kerja, sekolah dan pergaulan lainnya; maka dapat dikatakan bahwa apa yang kita pikirkan dan perbuat itu adalah sebuah kenaran. Tetapi sebaliknya jika mereka yang ada di sekitar kita justru merasakan ketakutan, kecemasan, kekuatiran; itu berarti apa yang kita pikirkan dan lakukan adalah sebuah ketidak benaran.

Dunia kehidupan kita sedang berubah dan akan terus mengalami perubahan. Ada perubahan yang mendatangkan kebaikan, misalnya kemajuan teknolgi; tetapi juga ada perubahan yang tidak baik, yaitu melihat dan menilai kualitas manusia dari sudut fungsi, manfaat, kesuksesan dan kemwahan. Sebagai umat beriman kita jangan terjebak dalam pola penilaian seperti itu.  Tetapi marilah kita dalam kehidupan sehari-hari dan khususnya ditengah keluarga kita masing-masing memperlihatkan sikap yang mempunyai kedekatan hubungan dengan Tuhan, kematangan dan kedewasaan dalam hidup serta mampu melihat dan melakukan kebenaran. Sehingga mereka yang berada dekat dengan kita merasakan damai sejahtera, ketenangan dan ketentraman.

Di akhir renungan ini saya ingin menyampaikan petikan sebuah puisi yang bertutur demikian:

Yang dunia butuhkan

Seorang yang rendah hati yang menyadari keterbatasannya

Seorang yang yakin bahwa dirinya akan lumpuh jika tidak ditopang oleh sesamanya

Seorang yang sudi menjadi penopang sesamanya

Seorang yang lebih rindu memberi daripada meminta

Seorang yang tetap tersenyum walau kesuksesan terasa jauh dari hidupnya

Seorang yang dapat menghargai perbedaan yang ada

Seorang yang tetap mengasihi sesamanya yang tidak lagi mampu berbuat apa-apa

Dunia membutuhkan orang yang berkualitas demikian

Tuhan memberkati Saudara. Amin

Have a blessed Sunday,

Pdt. Jotje Hanri Karuh

Dipublikasi di Khotbah Minggu | Tag | 1 Komentar

BELAJAR DARI BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR

Lukas 16: 1 – 13

Mengapa Tuhan Yesus memuji bendahara yang kelihatannya tidak jujur ini dalam perumpamaanNya? Mengapa ia dikatakan telah melakukan sesuatu yang baik? Apakah ini berarti Yesus setuju dengan tindakan menipu? Apakah Yesus berpihak kepada ketidak jujuran?

Untuk memahami bagian ini kita perlu memahami budaya pada masa itu dalam hal pengelolaan keuangan yang dipercayakan kepada seorang bendahara. Pada masa itu, si pemilik modal hanya menyediakan suatu dana agar manajer yang diangkatnya mampu mengelola uang tersebut sehingga usaha tersebut menghasilkan keuntungan. Karena itu manager yang disebutnya sebagai bendahara yang menentukan tingkat besarnya suatu bunga. Sehingga risiko kerugian harus ditanggung penuh oleh bendahara; tetapi kalau dia berhasil, maka dia akan memperoleh keuntungan lebih. Dalam perumpamaan tersebut si pemilik modal mengetahui bahwa bendaharanya telah menghambur-hamburkan uang. Oleh sebab itu, sang bendahara ini segera dipanggil oleh tuannya untuk mempertanggungjawabkan  seluruh keuangan yang telah dikelolanya. Apa yang kemudian dilakukan oleh bendahara tersebut?

Di Luk. 16:5-7, bendahara tersebut mengurangi jumlah hutang dari para krediturnya. Dengan pengurangan jumlah hutang tersebut para kreditur dapat membayar hutangnya dan pada akhirnya sang bendahara dapat membayar apa yang menjadi kewajibannya kepada sang pemilik  modal sehingga dia akhirnya dapat menyelamatkan masa depan dan kariernya. Uang yang menjadi hak tuannya tidak berkurang sedikit pun sehingga ia tidak jadi dipecat. Yang dia potong sebenarnya adalah apa yang menjadi hak keuntungannya dari menjalankan usaha tersebut. Dari perumpamaan Tuhan Yesus ini, kita dapat belajar bagaimana sang bendahara memikirkan masa depannya secara cerdik. Walaupun dia pernah berbuat kesalahan besar, tetapi dia segera memperbaikinya.

Apa yang dapat kita pelajari dari kehidupan sang bendahara dalam perumpamaan ini bagi kehidupan kita?

  1. Di dalam situasi kritis ia mengambil langkah yang tepat untuk masa depannya. Ia tidak mudah menyerah dan berputus asa saat menghadapi kegagalan. Ia tidak jatuh dalam keputusasaan atau meratapi keadaan melainkan berpikir taktis dan kreatif untuk mengatasi masalah yang ada dihadapannya.
  2. Ia tidak sembunyi dari masalah atau mencari kambing hitam dari masalahnya, melainkan menghadapinya dan menyelesaikannya.
  3. Ia adalah pribadi yang berorientasi pada penyelesaian masalah, bukan berfokus pada  masalah. Ia menggunakan uang yang ada dalam pengelolaannya untuk menjadi modal dalam membangun pertemanan, atau lebih tepatnya membeli pertemanan, dengan sesama yang dapat menolongnya kelak jika ia mendapat masalah, dipecat dari pekerjaannya, seperti ia pernah menolong mereka.

Meskipun Yesus memuji bendahara yang tidak jujur ini dalam memikirkan masa depan kehidupannya, Yesus pun memberikan kritiknya terhadap bendahara ini. Ayat ke-9 dapat kita lihat sebagai teguran Yesus. Bagi Yesus membangun persahabatan dengan berdasarkan materi/uang adalah sebuah kesia-siaan. Hubungan itu dibangun di atas dasar yang rapuh. Ucapan Yesus di ayat ini merupakan sindiran yang halus tetapi tajam menghujam. Barangsiapa membangun persahabatan dengan mamon (materi) yang tidak jujur akan menghasilkan perbuatan yang licik dan mendapatkan persahabatan yang semu sifatnya.

Bagi Yesus, apabila mereka yang tidak mengenal Tuhan, di saat-saat yang sulit dan kritis mampu berpikir kreatif, bukankah anak-anak Allah harusnya juga mampu berpikir lebih cerdik dan kreatif dalam menghadapi masalah dengan tetap berpedoman pada iman kita kepada Yesus Kristus.  Kreatif dan cerdik tanpa berlandaskan iman hanya akan menghasilkan tindakan memperdaya dan merugikan orang lain demi kepentingan diri sendiri. Ia akan menjadi pribadi yang cerdik tetapi licik, lihai tetapi jahat. Sikap kritis dan kreatif yang berlandaskan sikap iman akan membawa kita pada kemampuan untuk menghadapi dan mengatasi masalah dengan tetap memerhatikan apa yang menjadi hak orang lain dan kewajiban kita kepada sesama.

Iman kepada Kristus seharusnya mendorong kita untuk selalu berpikir kritis, kreatif, dan dinamis. Iman kepada Kristus Yesus adalah iman yang mampu mengalahkan pencobaan dan pergumulan hidup tanpa harus kehilangan hati nurani pada sesama, pada diri sendiri, dan kesetiaan kepada Kristus.

Tuhan memberkati.

Happy Sunday,

Pdt. Jotje Hanri Karuh

Dipublikasi di Khotbah Minggu | Tag | 1 Komentar

FUNGSI RUMAH BAGI KELUARGA

Mazmur 133: 1 – 3

Mempunyai rumah merupakan dambaan setiap orang. Mengapa rumah? Karena rumah diharapkan akan memberi ketenangan, kesejukan, dan kebahagiaan hidup bagi penghuninya, sehingga tak heran orang berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkannya, serta melengkapinya dengan berbagai fasilitas, seperti ruangan berlantaikan marmer, permadani termahal, ruangan ber-AC, kendaraan berbagai merek, dan sebagainya.

Tetapi bagi setiap keluarga kristen, apabila kita berbicara mengenai rumah maka mestinya fungsi rumah tidak hanya sebatas fisik dan kelengkapan material yang ada di dalamnya. Sekedar “HOUSE”. Akan tetapi yang terpenting dari nilai sebuah rumah adalah sikap hidup setiap pribadi yang ada di dalamnya yang membuat rumah itu menjadi sebuah “HOME”. Home menunjuk pada suasana kehidupan yang ada di dalam rumah kita yang membuat setiap pribadi di dalamnya bertumbuh dalam iman dan relasi antar pribadi. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk memahami apa yang menjadi fungsi rumah bagi setiap keluarga Kristen agar tercipta “HOME” di dalamnya.

Fungsi Rumah bagi keluarga Kristen:

1.      Rumah adalah pusat ketenangan jiwa karena setiap pribadi yang ada di dalamnya saling mencurahkan kasih sayang satu terhadap yang lainnya.

2.      Rumah itu sumber energi dan sumber semangat bagi keluarga.

Jadi jika terjadi sesuatu, rumahlah generator semangatnya. Jika misalnya suami sedang memiliki masalah, maka inilah saatnya istri menjadi motivator. Karena sekuat apapun laki-laki, pasti ada titik lemahnya. Laki-laki yang gagah perkasa sekalipun, tetap menginginkan ada istri yang mendampinginya, yang berperan sebagai pengayomnya.

3.      Fungsi rumah bagi keluarga adalah sebagai cermin.

Tidak ada tempat yang paling aman untuk saling mengoreksi kecuali dirumah. Suami, istri saling koreksi, begitu juga dengan anak. Bukankah jika kita dikoreksi orang lain biasanya suka sakit hati. Tetapi jika yang mengoreksi adalah mereka yang mengasihi dan yang kita kasihi koreksi itu lebih mudah kita terima. Oleh sebab itu, rumah tangga adalah korektor yang paling aman.

4.      Rumah merupakan tempat sinergi dan saling melengkapi.

Rumah yang nyaman adalah ketika setiap pribadi yang ada di dalamnya hidup saling melengkapi satu terhadap yang lain. Ketika mereka saling melengkapi maka sinergi antar anggota keluarga tercipta. Di dalam keluarga tidak akan ada anggota keluarga yang merasa terasing atau kesepian di dalam keluarga. Sebaliknya, akan terus mengalami kekuatan dan kesukacitaan dalam menjalani kehidupan yang dialaminya.

5.      Rumah adalah sarana bagi terjadinya perjumpaan dengan Tuhan.

Pada akhirnya, jangan lupakan bahwa rumah kita harus menjadi sarana pendidikan iman yang utama dan pertama bagi setiap anggota keluarga. Keluarga kita harus menjadi tempat pembibitan dan pematangan iman yang utama bagi setiap anggota keluarga. Oleh sebab itu, sangat penting di dalam keluarga itu: orangtua menjadi penerus obor iman kepada anak-anak, ketekunan beribadah sebagai satu keluarga ketika ke gereja dan di keluarga, dan keteladanan hidup sehari-hari berdasarkan nilai iman yang kita imani kepada Kristus Yesus.

Jika demikian, rumah kita harus menjadi sebuah HOME bukan sekedar HOUSE, yaitu suasana kehidupan bersama yang saling membagun, saling mengasihi, saling memberi yang terbaik, dan sebagainya. Rumah yang menjadi HOME bagi setiap anggota keluarga akan menjadi sumber bagi terbentuknya pribadi-pribadi yang cinta akan Allah dan cinta sesama. Sumber bagi pembentukan pribadi yang utuh dan matang dalam hidup beriman dan bermasyarakat. Ayo kita jadikan rumah kita tidak sekedar menjadi tempat berteduh dan berkumpul, tetapi yang utama rumah kita harus menjadi tempat bagi setiap orang yang ada di dalamnya hidup bagi Allah dan bagi sesamanya.

Have a blessed day,

Pdt. Jotje Hanri Karuh

Dipublikasi di Renungan Harian | Tag | Meninggalkan komentar

PEMBARUAN KELUARGA

Ayub 42: 1 – 6, 10 – 17

Ada kalimat bijak yang menyatakan, “Keluarga adalah tiang penopang masyarakat dan gereja”.  Ini berarti, keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat dan gereja mempunyai peran penting bagi kehidupan masyarakat dan gereja. Kualitas keluarga sangat berpengaruh pada pembentukan kualitas kehidupan masyarakat dan juga gereja di mana ia ada di dalamnya. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk senantiasa membarui kehidupan keluarga kita agar dapat menjadi teladan yang baik bagi kehidupan bersama di masyarakat dan di dalam gereja.

Pembaruan itu sendiri bukanlah sesuatu yang dapat terjadi seketika, secara instan. Pembaruan berbicara mengenai sebuah proses yang membutuhkan waktu, ketekunan, dan upaya yang sungguh-sungguh. Salah satu contoh kisah pembaruan kehidupan pribadi dan keluarga adalah kisah Ayub (Ayub 42). Apabila kita memerhatikan perikop bacaan kita maka kita akan melihat dua hal yang hendak ditegaskan oleh penulis kitab Ayub. Pertama, bagian ini mau menegaskan kepada kita bahwa Allah adalah sumber pembaruan kehidupan Ayub (42:10). Yang kedua, adanya proses yang Ayub harus lalui sehingga ia mengalami pembaruan dalam kehidupannya. Proses pembaruan yang Ayub lalui itu ialah:

1.      Ayub berdamai dengan Allah (Ayub 42: 5). Ayub menyadari bahwa selama ini ia hanya mendengar kata orang tentang Allah, tetapi sekarang pengenalan itu ia dapatkan dari pengakuannya secara pribadi. Pada masa lalu ia meragukan kehadiran dan kuasa Allah dalam hidupnya, tetapi sekarang ia menyerahkan sepenuhnya dirinya akan Allah.

2.      Ayub berdamai dengan dirinya sendiri (Ayub 42: 6). Mereka yang tidak dapat berdamai dengan dirinya sendiri tidak akan dapat berdamai dengan orang lain. Mengapa? Mereka yang tidak dapat menghargai dirinya sendiri tidak akan dapat menghargai orang lain. Mereka yang kecewa akan dirinya dan hidupnya tidak akan mampu membangun keluarga yang penuh sejahtera. Keluarga yang indah. Ketika Ayub menyadari kekeliruannya dan menyesali semua kata-kata yang melemahkan dan merendahkan dirinya (di mana ia mengutuki hari kelahirannya) serta bertobat kepada Allah maka mulailah Ayub menyadari keunikan dan keistimewaan dirinya. Ia menyadari bahwa ia berharga di mata Allah dan sesama. Ia mulai mampu menata dirinya dan melakukan sesuatu yang berharga untuk dirinya dan orang lain di sekitarnya.

3.      Ayub berdamai dengan sesamanya (Ayub 42: 10). Ayub tidak hanya berdamai dengan Allah dan dirinya sendiri, tetapi juga dengan sesamanya. Ia berdoa untuk teman-temanya yang telah berbuat salah kepadanya. Ia mengampuni mereka.

Hasilnya bagaimana? Hasilnya adalah sebuah pembaruan kehidupan pribadi yang luar biasa. Pembaruan hidup pribadi dan keluarga juga akan terjadi dalam hidup kita jika kita mau berproses seperti Ayub. Kita berdamai dengan Allah. Oleh sebab itu, kenali Allah dan cintai Allah dengan sungguh-sungguh dari hati kita yang paling dalam. Jadikan semua pengalaman hidup sebagai bahan refleksi untuk menemukan kasih dan setia Allah dalam hidup kita. Berdamai jugalah dengan diri sendiri. Jangan pernah menganggap diri tidak berguna. Jangan pernah menganggap diri kita tidak mampu berbuat sesuatu untuk menciptakan suasana kehidupan keluarga yang semakin indah dan sejahtera. Anda unik dan berharga di mata Allah dan sesama. Jadi bersikaplah dan bertindaklah sebagai pribadi yang berharga di mata Allah dan sesama bagi diri sendiri dan sesama. Pada akhirnya, berdamailah dengan sesama. Berdamailah dengan anggota keluarga Anda. Jangan biarkan sakit hati dan kekecewaan menguasai hidup Anda dan merusak keindahan kehidupan keluarga Anda. Tidak ada pribadi yang sempurna. Kita pun pasti pernah melakukan kekeliruan. Sebaliknya, biarlah kasih, kebaikan, dan pengampunan selalu tersedia dalam hati kita untuk anggota keluarga. Pikirkan dan berikanlah yang terbaik untuk keluarga dan mereka yang ada di sekitar kehidupan Anda.

Jika demikian, keluarga hidup indah, yaitu keluarga yang di dalamnya setiap anggota saling mengasihi, saling mendoakan, saling membangun dalam hal baik; bukan sebuah ilusi atau impian tetapi akan menjadi sebuah kenyataan.

Keluarga hidup indah bisa terjadi jika kita terus mau berproses dalam pembaruan keluarga. Pembaruan keluarga bermula dari pembaruan diri bersama Allah. Amin.

Have a blessed day,

Pdt. Jotje Hanri Karuh

Dipublikasi di Renungan Harian | Tag | 2 Komentar

SURAT CINTA DARI BAPA

disalin dari YouTube :

Father’s Love Letter– an intimate Love Letter  from Father God

Anakku,

Engkau mungkin tidak mengenal Aku,

tetapi Aku mengenal segala sesuatu tentang dirimu (Mazmur 139:1)

Aku tahu kalau engkau duduk atau berdiri (Mazmur 139:2)

Aku mengerti segala jalanmu (Mazmur 139:3)

Setiap helai  rambut kepalamu

terhitung semuanya (Matius 10:29-31)

Karena engkau diciptakan dalam gambar dan rupaku (Kejadian 1:27)

Di dalamKu engkau hidup,

engkau bergerak dan engkau ada

sebab engkau ini adalah keturunanKu (Kisah Rasul 17:28)

Aku mengenal engkau

sejak sebelum engkau ada dalam kandungan (Yeremia 1:4-5)

Aku memilih engkau dari semula,

sebelum Aku menciptakan segalanya (Efesus 1:11-12)

Engkau ada bukan karena suatu kesalahan

karena hari-harimu ada tertulis dalam kitabKu (Mazmur 139:15-16)

Aku telah menentukan waktu yang tepat

untuk kelahiranmu

dan di mana engkau akan hidup (Kisah Rasul 17:26)

Kejadianmu dahsyat dan ajaib

karena aku menenun engkau

dalam kandungan ibumu (Mazmur 139:13-14)

dan mengeluarkan engkau

pada hari engkau dilahirkan (Mazmur 71:6)

Seringkali Aku tidak dipahami

oleh mereka yang tidak mengenal Aku (Yohanes 8:41-44)

Aku tidak berada di tempat jauh dan murka

tetapi Aku adalah Kasih yang sempurna (I Yohanes 4:16)

Dan kerinduanku untuk

mengaruniakan kasihKu untukmu

semua itu karena engkau adalah anak-Ku

dan Aku adalah Bapamu (I Yohanes 3:1)

Aku memberikan lebih dari yang dapat diberikan

bapamu yang di dunia (Matius 7:11)

Karena Akulah Bapamu di surga

yang adalah sempurna (Matius 5:48)

Setiap pemberian yang baik

dan setiap anugerah yang sempurna

Engkau terima dari tanganKu (Yakobus 1:12)

karena Akulah pemeliharamu dan

Aku memberi semua yang engkau perlukan (Matius 6:31-33)

RancanganKu yang diberikan kepadamu

adalah hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11)

karena Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal (Yeremia 31:3)

PikiranKu terhadap engkau tidak terhitung

seperti pasir di tepi pantai (Mazmur 139:17-18)

dan Aku bergirang karena engkau

dengan sukacita dan sorak  sorai (Zefanya 3:17)

Aku tak pernah berhenti berbuat baik kepadamu (Yesaya 32:40)

Karena engkaulah harta kesayanganKu (Keluaran 19:5)

Aku merindukan untuk mengokohkan engkau

dengan hatiKu dan jiwaKu (Yeremia 32:41)

Aku akan menunjukkan kepadaMu

hal yang besar dan ajaib (Yeremia 33:3)

jika engkau mencari Aku dengan segenap hatimu

engkau akan menemukan Aku (Ulangan 4:29)

Bergembiralah karena Aku,

maka Aku akan memberikan kepadamu

apa yang diinginkan hatimu (Mazmur 37:4)

karena Akulah yang mengerjakan di dalammu

kemauan itu (Filipi 2:13)

Aku dapat melakukan jauh lebih banyak

dari pada yang engkau pikirkan (Efesus 3:20)

karena Akulah yang menganugerahkan

penghiburan abadi kepadamu (2 Tesalonika 2:16-17)

Akulah juga Bapa yang menghiburmu

dalam segala penderitaanmu (2 Korintus 1:3-4)

Ketika engkau patah hati

Aku berada dekat kepadamu (Mazmur 34:18)

Seperti seorang gembala menggembalakan dombanya

Aku membawa engkau dekat ke hatiku (Yesaya 40:11)

Suatu hari Aku akan menghapus

semua air mata dari matamu

dan Aku akan mengangkat semua kesusahan

yang engkau derita di atas bumi (Wahyu 21:3-4)

Akulah Bapamu,

dan Aku mengasihimu

seperti Aku mengasihi putraKu, Yesus (Yohanes 17:23)

karena di dalam Yesus,

kasihKu kepadamu dinyatakan (Yohanes 17:26)

Dialah gambar wujud dari keberadaanKu (Ibrani 1:3)

Ia datang untuk menyatakan

bahwa Aku di pihakmu, dan bukan untuk melawanmu (Roma 8:31)

dan untuk memberitahumu,

bahwa Aku tidak memperhitungkan pelanggaranmu

Yesus mati supaya engkau dan Aku

dapat diperdamaikan (2 Korintus 5:18-19)

KematianNya adalah pernyataan terbesar

dari kasihKu untukmu (1 Yohanes 4:19)

Aku menyerahkan semua yang Aku sayangi

supaya Aku mendapatkan kasihmu (Roma 8:32)

Jika engkau menerima anugerah anakKu Yesus

engkau juga menerima Aku (1 Yohanes 2:23)

Dan tidak ada lagi yang akan memisahkan

engkau dari kasihku (Roma 8:38-39)

Kembalilah dan Aku akan mengadakan pesta terbesar

yang pernah ada di surga (Lukas 15:7)

Selamanya Aku adalah Bapa

dan selamanya Aku tetaplah Bapa (Efesus 3:14-15)

PertanyaanKu adalah :

Maukah engkau menjadi anakKu ? (Yohanes 1:12-13)

Aku menanti-nantikan engkau (Lukas 15:11-32)

Dengan kasih,

Bapamu, Allah yang Maha Kuasa

Anda dicintai oleh Bapa

Dipublikasi di Renungan Harian | Tag | 1 Komentar