ITU AYAHKU!

Seorang ayah dan anaknya sedang berjalan menyusuri pantai. Si anak agak tertinggal di belakang dan tiba-tiba ia berteriak, “Lihat, ayah, saya berjalan di dalam jejak-jejak tapak kaki ayah.” Hal ini mendorong si ayah untuk berpikir tentang tanggung jawabnya untuk memberikan bimbingan dan teladan bagi  anaknya. Kita harus menyadari bahwa anak-anak bercermin dari sikap dan tindakan kita. Keluarga merupakan sekolah moralitas yang pertama bagi seorang anak.

Saya ingin mengutip doa yang pernah diucapkan oleh seorang Jenderal besar dalam sejarah perang dunia II, yaitu Jenderal Mac Arthur.  Ia pernah mengucapkan sebuah doa yang unik bagi anaknya. Isi doanya sebagai berikut:

Ya Tuhan,

Aku mohon supaya anakku jangan berjalan di bawa ke jalan yang mudah dan lunak

Melainkan di bawa ke jalan yang penuh desakan, kesulitan dan tantangan

Didiklah anakku supaya ulet berdiri di atas badai

Bentuklah anakku menjadi manusia yang hatinya jernih yang cita-citanya luhur

Anak yang sanggup memimpin dirinya sebelum memimpin orang lain

Dengan demikian, aku, ayahnya akan memberanikan diri untuk berbisik,

“hidupku ini tidaklah sia-sia.”

Amin.

Bandingkan dengan isi doa kita untuk anak-anak kita! Biasanya kita berdoa minta supaya hidup anak-anak kita lancar-lancar saja dan mulus seperti berjalan di jalan bebas hambatan (jalan tol). MacArthur berkeyakinan bahwa yang paling hakiki yang perlu diwariskan kepada generasi muda ialah semangat kerja yang ulet dan tekun untuk bekerja keras dan bukan sifat santai, mencari kemudahan atau disediakan kemudahan dan menyukai jalan pintas dalam meraih keinginan. Dan bagi MacArthur, semangat kerja yang penuh keuletan dan ketekunan itu harus dilandasi oleh sikap hidup yang benar di hadapan Allah. Oleh sebab itu ia berdoa, “bentuklah anakku menjadi manusia yang hatinya jernih yang cita-citanya luhur…yang sanggup memimpin dirinya…”

Sekarang ini,  dalam dunia psikologi perkembangan diyakini bahwa IQ (kecerdasan intelektual) saja tidak cukup; karena itu perlu juga yang namanya EQ (kecerdasan emosi) dan SQ (kecerdasan spiritual). Kepandaian saja tidak cukup bagi seseorang untuk dapat menjalani kehidupan dengan baik dengan segala lika-likunya. Kematangan emosi yang menyangkut penerimaan dan  pengendalian diri serta penerimaan dan penghargan terhadap orang lain penting untuk dapat menjalin relasi dengan sesama. Ia dapat memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain. Kecerdasan Spiritual diperlukan untuk melengkapi seseorang agar seluruh gerak hidupnya dijiwai oleh nilai-nilai luhur kerohanian dan semangat pengabdian kepada Allah. Sebaliknya, hanya cerdas pada sisi emosi tetapi tanpa didukung oleh sisi intelektual yang cukup dan rohani yang baik akan melahirkan generasi yang sulit mengikuti perkembangan IPTEK dan derasnya tantangan jaman yang dapat melemahkan imannya. Sedangkan apabila sisi spiritualitasnya kuat tetapi sisi intelektual dan emosinya lemah dapat membuat seseorang jatuh pada sisi fundamentalis agama yang sempit, yang dapat membuatnya melakukan hal-hal yang tidak manusiawi atas nama agama.  Doa MacArthur setidaknya mencerminkan ketiga macam kecerdasan tersebut yang diharapkan dan diupayakannya nampak dalam diri dan sikap anaknya itu.

Seorang penulis yang tidak dikenal namanya mengungkapkan sesuatu yang sangat penting untuk kita renungkan:

Orang yang hati-hati, demikian seharusnya aku

Seorang anak kecil mengikutiku

Aku tidak berani bertindak salah

Karena takut ia akan melakukan hal yang sama

Tak sekalipun aku dapat lari dari matanya

Apapun yang ia lihat aku lakukan, ia coba

Ia akan menjadi seperti aku, katanya

Anak kecil itu mengikutiku

Aku harus ingat tatkala menjalani

Musim demi musim, bahwa aku membentuknya

Selama bertahun – tahun

Anak kecil mengikutiku

Hari ini, 20 Juni, merupakan hari peringatan Hari Ayah Internasional. Pada hari ini setiap pria yang berperan sebagai ayah (atau yang akan menjadi ayah dan mereka yang telah menjadi kakek) diajak untuk merenungkan kembali jejak teladan seperti apa yang telah dan yang akan diberikan kepada anak-anak kita; dan juga mendorong tumbuhnya komitmen yang baru seperti yang diungkapkan penulis Amsal, “Didiklah orang muda menurut  jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22: 6).

Doa MacArthur mengajak kita untuk mawas diri dan bertanya: keteladanan dan nilai-nilai hidup apa yang sedang kita wariskan kepada generasi penerus. Ada sebuah petuah dalam bahasa China, Yi Shen Zuo Ze, artinya: Jadikanlah dirimu sebagai teladan. Ya, keteladanan lebih berbicara dari pada kata-kata. Bukankah orang lain, apalagi seorang anak, akan lebih menghargai perbuatan yang dapat diteladani dibandingkan dengan ribuan untaian kata yang manis dan memikat. Seorang anak mungkin tidak mewarisi bakat ayahnya tetapi ia akan menyerap nilai-nilai kehidupan sang ayah. Berikanlah mereka teladan yang baik dan positif. Sehingga pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kehendak Tuhan.

Hari  ayah ini juga mau mengajak dan menggugah rasa hormat dan cinta kita kepada seseorang yang kita sapa dengan sebutan:  Ayah, Papa, Bapak, Papi, Kakek, Opa, Engkong dan sebagainya yang selama ini telah membesarkan dan banyak berkorban bagi kita.

Anda tentu senang, bahagia dan bangga bukan apabila suatu hari seorang anak Anda dengan penuh sukacita dan bangga berkata kepada teman-temannya atau anak-anaknya sambil menunjuk kepada Anda, “ Itu ayahku!”

Selamat hari Ayah.  Tuhan memberkati Saudara.

Have a blessed day,

Pdt. Jotje Hanri Karuh

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Pos ini dipublikasikan di Renungan Harian dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s