BADAI PASTI BERLALU

Markus 6:45-52

“Badai pasti berlalu.” Begitu kata seorang mantan pemimpin bangsa ini yang ucapannya tersebut pernah ditayangkan di televisi ketika bangsa kita mulai dihempaskan oleh badai krisis ekonomi.  Ucapan ini mencoba memberikan penghiburan dan pengharapan di tengah krisis yang sedang melanda bangsa kita saat itu.  Ada orang yang mengomentari ucapan tersebut dengan pertanyaan: “Ya mungkin, tetapi kapankah badai itu berlalu, masih lamakah badai itu, dan akankah saya terlepas atau terlepas dari badai ataukah saya jadi korban dari badai tersebut?”

Badai krisis ekonomi ternyata terus berlanjut sampai kini bahkan berkembang menjadi krisis moral. Orang menjadi semakin tidak peduli lagi dengan aturan-aturan hukum yang berlaku.  Reformasi yang diharapkan membawa perubahan belum kunjung nyata; malah banyak orang beranggapan bahwa reformasi yang sedang berjalan adalah reformasi yang telah ‘kebablasan’, reformasi yang telah menyimpang dari tujuan semula. Belum lagi bahaya disintegrasi bangsa yang berdasarkan suku bangsa, agama, ras dan antar golongan (SARA) yang semakin mencuat kepermukaan dan mengkhawatirkan banyak orang. Pastikah badai itu berlalu?

Markus 6:45-52 menceritakan kepada kita tentang murid-murid Yesus yang tengah mati-matian berdayung di tengah kegelapan malam dan mengatasi angin/badai. Seolah-olah perjuangan hidup dan mati. Agaknya perjuangan mereka adalah perjuangan yang dilandasi oleh kekuatan sendiri. Kekuatan yang yang dirasa belum tentu dapat menghadapi bahaya dan ancaman gelombang. Oleh sebab itu, roh ketakutan dan kekuatiranlah yang terselib dalam perjuangan dan upaya tersebut. Itulah sebabnya, muncul prasangka buruk terhadap kehadiran Yesus yang dikira hantu. Kehadiran pihak lain yang dirasa akan mengancam bagi hidup dan perjuangan mereka yang sulit itu. Mereka tidak dapat lagi mengenal kehadiran kuasa Yesus. Ketakutan, kekuatiran serta pengandalan kekuatan sendiri (egoisme) telah menutup mata dan hati mereka dalam mengenal kehadiran Tuhan.

Menghadapi berbagai kesulitan dan gelombang hidup saat ini dengan segala krisis yang multi-dimensional ini dapat membuat kita terjerumus pada situasi tersebut di atas. Mata dan hati kita tertutup pada kehadiran serta kuasa dan kasih Allah, bisa dan telah membuat manusia bersifat sangat egoistis dan penuh prasangka terhadap orang/pihak lain. Hidup dengan kesulitan/gelombang hidup yang mau diatasi dengan kekuatan sendiri, bisa dan telah menyebabkan manusia mau selamat sendiri; lalu menolak dan bahkan memusuhi serta menghancurkan sesama. Apabila memang ini yang terus terjadi maka sungguhlah yang terjadi adalah harap yang melabuh dalam mimpi yang runtuh.

Tetapi syukurlah apabila kemudian kesadaran datang. Yesus yang diterima masuk ke dalam perahu. Yesus yang kemudian menentramkan ketakutan/badai di tengah kegelapan malam itu. Yesus yang kemudian menentramkan ketakutan/badai dalam hati dan meredakan angin serta menjadi pelita/terang di tengah kegelapan malam.

Badai kehidupan masih melanda bangsa kita. Bangsa kita belum dapat bangkit dari keterpurukannya. Meskipun demikian, jangan kita putus harap. Jangan kita patah semangat dalam hidup ini. Kristus datang ke dalam dunia justru hendak menunjukkan kepedulianNya kepada manusia yang hidup dalam pergumulan. Kristus datang untuk menunjukkan betapa berharganya manusia di hadapan Allah. Sehingga Ia mau datang untuk menunjukkan solidaritasNya dengan manusia yang hidup dalam pergulatan melawan gelombang hidup/badai kehidupan.

Oleh sebab itu, di tengah kehidupan bangsa kita yang seperti itu, kita harus tetap percaya kepada Allah bahwa Ia hadir dan tidak akan membiarkan kita berjuang sendirian. Kita harus percaya bahwa suatu saat harapan kita akan muncul menjadi kenyataan. Jangan kita mengandalkan kekuatan sendiri. Badai itu pasti berlalu!

Beserta Yesus badaipun  tenanglah

Badaipun tenanglah

Badaipun tenganglah

Beserta Yesus badai pun tenanglah

Ku dapat tersenyum

Sungguhkah Saudara percaya akan firman Tuhan ini? Tuhan memberkati saudara.

Have a blessed day,

Pdt. Jotje Hanri Karuh

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Pos ini dipublikasikan di Renungan Harian dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s