DOA MENJELANG NATAL

Desember telah tiba, Natal kembali menjelang

Masih adakah yang mempesonaku bagai binar mata seorang bocah

Saat memandang cemara berhias, setumpuk kado

Dan mendengar sahdu penuh pesona lagu Malam Kudus

Tuhan, rebut aku dari antara hari-hari sibuk

Dan hati yang riuh-gemuruh

Agar dapat teduh dan menghitung hari-hari

Karena segalanya sering lalu dan tanpa makna

Jadikanlah Natal tahun ini sebagai Natal

Yang penuh makna

Itulah kerinduanku

Tuhan, rebut mataku dari pendar cahaya lampu

Dan hati yang melekat pada gemerlap Desember

Agar dapat senyap melangkah bersamamu

Karena segalanya sering kuyup dan tanpa asa

Jadikanlah Natal tahun ini sebagai Natal

Yang mengingatkanku akan besarnya kasihMu

Terhadap manusia yang berdosa

Itulah pengharapan jiwaku

Ya Bapa, penuhilah ruang dalam hatiku

Sehingga tak ada celah tanpa ucapan syukur

Atas hidup yang terbeli lunas

Oleh tetes darah dan hembusan nyawa anakMu

Jadikanlah Natal tahun ini sebagai Natal

Dimana aku tersungkur karena takjub akan kasihMu

Kepada aku yang berdosa

Itulah pintaku

Amin

Bulan Desember telah tiba. Berarti persiapan Natal sudah dan sedang kita persiapkan. Tetapi pertanyaan penting yang harus kita ajuakan kepada diri kita sendiri ketika mempersiapkan dan merayakan Natal adalah: “Apakah Kristus lahir dalam hati kita?”, “Apakah kehidupan beriman kita sungguh-sungguh dijiwai dan diwarnai semangat kasih Allah?”

Doa menjelang Natal tersebut di atas mengajak kita untuk memeriksa diri kita apakah semangat Natal ada dalam diri dan kehidupan kita? Ataukah peristiwa Natal yang akan kita rayakan hanya merupakan salah satu bentuk rutinitas keagamaan yang tidak lagi bermakna apa-apa.

Ketika Natal hanya dilakoni sebagai salah satu bentuk rutinitas keagamaan maka semangata Natal yang terkandung didalamnya bahwa Allah datang untuk menyelamatkan manusia yang berdosa karena kasihNya (Yoh.3: 14-17) tidak akan kita rasakan. Tetapi sebaliknya kita akan terjebak dan terseret dalam gemuruhnya komersialisasi Natal. Sehingga kita belum merasa merayakan Natal jika belum membeli pakaian dan sepatu baru. Kita belum merayakan Natal jika belum menyaksikan pentas musik, paduan suara, vocal group dan drama Natal di gereja. Kita belum merayakan Natal jika belum berpesta.

Betapa mudah kita terjebak dan terseret dalam arus komersialisasi Natal. Tetapi butuh pergumulan iman untuk dapat menjadikan Natal sebagai saat-saat yang penuh khidmat dan penuh pesona untuk mengenang dan merefleksikan maknanya bagi kehidupan kita.

Semoga kita tidak menjadikan Natal sebagai salah satu bentuk rutinitas keagamaan. Semoga kita tidak terjebak dalam hiruk-pikuknya komersialisasai Natal. Sehingga kehilangan makna yang sesungguhnya dari peristiwa Natal itu sendiri

Selamat memasuki masa Advent. Selamat mempersiapkan Natal. Kiranya damai sorgawi dapat kita wujudkan dalam kehidupan kita di keluarga, di tempat kerja, kuliah, sekolah, lingkungan pergaulan dan di gereja!

Have a blessed day,

Pdt. Jotje Hanri Karuh

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Pos ini dipublikasikan di Renungan Harian dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s