KISAH TIGA SALIB

Ada tiga orang, yaitu Andi, Dani dan David, yang diberi tugas oleh Tuhan untuk memikul salib yang berat dan besar menuju ke sebuah puncak bukit. Tuhan berjanji akan menjemput dan membawa mereka ke sorga

Di tengah perjalanan, Andi merasa bahwa salib tersebut terlalu berat, sehingga ia membuang salib itu ke jurang yang dalam dan meneruskan perjalanan ke puncak bukit. Sedangkan Dani memotong kayu salib tersebut agar lebih ringan, membuang potongannya ke jurang yang dalam dan meneruskan perjalanan ke puncak bukit. Hanya David yang memikul salib yang berat dan besar tersebut hingga ke puncak bukit.

Andi dan Dani sampai terlebih dahulu di puncak bukit. Mereka melihat ada jurang di antara puncak bukit dan sorga, tepat sama dengan ukuran salib yang berat dan besar itu. Mereka tidak mempunyai sarana ke sorga karena Andi telah membuang salibnya, dan Dani telah memotong salibnya.

David tiba di puncak bukit tidak lama kemudian. Ia meletakkan salib tersebut di antara puncak bukit dan sorga, kemudian ia menyeberang ke sorga. Setelah ia menyeberang ke sorga, salib tersebut lenyap. Andi dan Dani tertegun dan tidak dapat menyeberang ke sorga.

Saudara, jalan kehidupan kita memang tidak selalu berjalan mudah, mulus dan penuh dengan bunga-bunga keberhasilan. Dan mungkin ada dari antara kita yang berpendapat koq Tuhan sangat kejam dan Ia membiarkan salib (pergumulan, kesukaran dan tantangan kehidupan) ada dalam hidup dan kehidupan kita. Mungkin kita juga sering mengeluh dan cenderung mencari jalan keluar sendiri atas masalah hidup yang menimpa serta tidak taat kepada Tuhan.

Ingat ! Menjadi kristen tidak menghindarkan kita dari persoalan kehidupan. Tuhan Yesus sudah pernah menyatakan hal tersebut ketika Ia berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24). Mengikut Tuhan atau menjadi murid Kristus berarti siap dan bahkan lebih siap lagi untuk menghadapi tantangan kehidupan sebagai wujud kecintaannya kepada Tuhan. Siap karena yakin dan percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Allah peduli pada hidupnya.

Kualitas seorang murid Tuhan dilihat dari kemampuannya, ketekunannya dan kesediaannya untuk menyangkal diri (melawan nafsu pementingan diri sendiri), memikul salib (ketekunan dan kesetiaan dalam menghadapi tantangan kehidupan) serta mengikut Tuhan (mempelajari dan mentaati kehendakNya). Seseorang bisa saja disebut kristen karena telah dibaptis dan ber-KTP-kan kristen, tetapi ia belum tentu seorang murid Kristus. Seseorang disebut murid Kristus selain karena telah menyatakan pengakuan percayanya tetapi juga karena ia mau dan siap serta dengan tekum menjalani tiga tantangan kehidupan  tersebut yang diberikan Tuhan kepadanya.

Setiap orang mempunyai salib kehidupannya sendiri-sendiri. Setiap orang pada dasarnya pasti mampu memikulnya. Tuhan mengizinkan kita mengalami proses kehidupan dengan segala suka dan dukanya; keberhasilan dan kegagalannya  agar kita menjadi makin sempurna dan layak dihadapanNya.

Memang, tidak setiap orang yang menyebut dirinya kristen pastilah seorang murid Kristus. Tetapi seorang murid Kristus pastilah dia seorang kristen.

Have a blessed day,

Pdt. Jotje Hanri Karuh

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Pos ini dipublikasikan di Renungan Harian dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s