PLURALISME AGAMA

oleh : Pdt. Jotje Hanri Karuh

Kondisi obyektif yang tidak dapat dipungkiri kebenarannya mengenai bangsa kita ialah selain tidak saja terdiri dari ribuan pulau, aneka suku bangsa serta tradisinya, tetapi juga ia adalah suatu bangsa yang di dalamnya hadir dan hidup berbagai agama. Dalam konteks seperti inilah kekristenan, gereja dan umatnya hadir dan melayani. Kesadaran akan pluralitas ini seharusnya membawa umat kristen pada pengakuan bahwa di dunia ini tidak ada satu jalan tunggal dalam upaya manusia untuk mengenal, beribadah dan memperoleh keselamatan dari Tuhan bagi dirinya.

Ketika menggumuli pluralisme agama, kita berjumpa dengan berbagai kontroversi yang memperlihatkan dengan jelas bahwa sebenarnya agama mempunyai banyak wajah (multifaces). Agama bukan sesuatu yang konvensional, yaitu semata-mata terkait dengan persoalan ketuhanan, kepercayaan, keimanan, kredo, pedoman hidup, dan seterusnya. Ternyata, agama juga terkait erat dengan persoalan-persoalan sosial, politis, historis, kultural dan struktural yang merupakan persoalan keseharian manusia; menyikapi pluralisme agama berarti memasuki persoalan agama yang multifaces itu.

Kontroversi Pluralisme Agama

Perbedaan definisi terhadap pluralisme agama telah menimbulkan kontroversi. Mereka yang memandang pluralisme agama secara positif berpendapat bahwa pluralisme agama adalah kenyataan hidup kita bersama. Pluralisme agama harus dipahami sebagai umat berbagai agama dan denominasi yang hidup berdampingan dalam suasana damai, saling menghormati dan saling menghargai. Jadi, dalam pluralisme perbedaan dihormati tanpa terjebak pada pembedaan. Perbedaan diakui karena memang perbedaan itu riil, tetapi tanpa niat mengontraskannya; kalau pluralisme agama dipahami dalam pengertian seperti ini, ia tidak perlu dilarang apalagi diharamkan!

Mereka adalah orang yang mampu bersikap realistis bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk, baik agama, suku bangsa, budaya dan bahasa. Sebagai bangsa yang majemuk, kita tidak memiliki pilihan selain menerima kemajemukan, menghargainya dan belajar untuk menemukan formula yang tepat untuk dapat hidup berdampingan dalam kesetaraan, keadilan dan kedamaian. Para pendiri bangsa kita sangat sadar pada kenyataan ini. Itulah sebabnya mereka bersepakat untuk membangun bangsa ini dengan motto bersama “meski berbeda-beda, tetapi tetap satu”. Melalui motto ini, segenap warga negara Indonesia diingatkan untuk tidak terjebak pada absolutisme perbedaan, pada satu sisi, atau absolutisme persatuan, pada sisi lain. Almarhum T.B. Simatupang dalam berbagai kesempatan mengatakan, “Kita hanya bisa mentransenden sekaligus absolutisme perbedaan dan absolutisme persatuan dengan mempertahankan ketegangan yang kreatif”.

Sebaliknya, mereka yang berpandangan negatif menolak dan mengharamkan pluralisme karena ia dipandang sebagai ancaman yang bisa menggoyahkan iman. Mengapa? Karena bukan saja pluralisme mempertanyakan, bahkan bila perlu menggugat, setiap klaim ‘kebenaran’ tunggal yang menjadi ciri khas agama. Lebih dari itu, spirit pluralisme agama mempertanyakan sikap puritan agama, termasuk Kristen, yang memegang teguh suatu “doktrin kudus” warisan abad pertengahan, yakni: “tolerance of differences was not allowed”. Sesungguhnya sangat menyedihkan bahwa penolakan dan bahkan pengharaman terhadap pluralisme telah mengubah total wajah agama. Ia menjadi garang terhadap setiap perbedaan, baik internal maupun ekstenal. Dalam hubungan Yahudi, Kristen dan Islam, “doktrin kudus” itu telah menciptakan skandal intoleransi dan saling membinasakan antarumat yang mengorbankan nyawa berjuta-juta orang. Di Indonesia, “doktrin kudus” itu telah menjadi sekat yang menciptakan pembedaan dan pemisahan terhadap bangsa ini, bahkan terhadap sesama manusia. Lebih parah dari itu, pengharaman terhadap pluralisme telah digunakan sebagai nilai yang lagi-lagi dianggap “kudus” untuk melegitimasikan kekerasan atas nama agama. Ancaman penyerangan terhadap Jaringan Islam Liberal (JIL) dan kekerasan terhadap eksistensi kaum Ahmadyah yang terjadi di Nusa Tenggara Barat dan di Cianjur adalah akibat, langsung atau tidak langsung, dari penolakan terhadap realitas pluralisme agama.

Sikap antipluralisme ini, bila tidak dicegah, akan terus merambat ke segala penjuru; mulai dari pelarangan dan bahkan pembakaran buku-buku yang mendukung nilai-nilai pluralisme, pembatasan serta pengaturan media masssa dan karya seni, pelanggaran hak azasi manusia melalui produk hukum dan perundang-undangan, dan puncaknya adalah genocide. Sejarah telah membuktikan bahwa ketika manusia tidak mampu menghargai pluralisme agama, dan ketika manusia tidak berjuang untuk mencari “aturan main” bersama dalam keanekaragaman ini maka yang terjadi adalah kehancuran bersama. Beberapa bukti bisa dikemukakan di sini: enam juta umat Yahudi yang mati sia-sia oleh karena kekejaman Hitler telah menjadi saksi bisu; pembantaian suku-suku Indian Amerika, yaitu Cathar dan Pequot, oleh  kaum puritan Kristen yang melakukannya demi dan atas nama Allah; patut dicatat juga di sini adalah pembasmian muslim Bosnia oleh Kristen Othodox Serbia. Resiko penghancuran manusia dan kemanusiaan kita seharusnya mendorong kita untuk berpikir dan bertindak secara positif dan realistis dalam menggumuli persoalan pluralisme agama. Kita harus melihat dan menggumuli persoalan ini dengan sangat serius karena masa depan bangsa, masa depan gereja, masa depan kita dan anak-anak kita adalah taruhannya. Kita tidak bisa melakukannya sendiri-sendiri; untuk itu kita harus bekerja sama dengan umat lain dan pemerintah. Persoalannya, bagaimana sikap pemerintah?

Bebeberapa Pendekatan Teologis Terhadap Pluralisme Agama

Dalam menghadapi tantangan pluralisme agama, gereja tidak berdiam diri. Gereja berusaha menggali kekayaan tradisi, doktrin dan bahkan mengambil inspirasi dari kekayaan tradisi agama lain serta dari persoalan sosial yang muncul di tengah masyarakat. Sikap reflektif gereja telah memberikan kekayaan berteologi yang bisa kita pelajari bersama-sama. Ada beberapa paradigma pandangan Kristen terhadap agama lain:

Eksklusivisme

Dengarlah pengakuan seorang eksklusif: “saya bergaul dengan mereka yang berbeda agama karena saya ingin menobatkan mereka. Saya mengasihi mereka bukan sebagai teman, tetapi sebagai dokter kepada pasiennya. Saya ingin menyembuhkan mereka. Saya berharap kiranya dosa dan kekafiran lenyap di hadapan anugerah Firman dan Roh. Saya memiliki Firman dan Roh, sementara mereka yang lain agama hidup dalam dosa. Saya gunakan pendekatan “adaptasi missioner,” yaitu mencari titik persamaan agar bergaul dengan mereka untuk menobatkan mereka. Agama lain adalah kegelapan. Kalau mereka tidak bertobat, mereka harus diperkecil atau dimusnahkan”. Sikap eksklusif dianut banyak umat Kristen dan umat lainnya. Kelebihan sikap ini adalah kesetiaan total terhadap agamanya. Kekurangannya? Ia menciptakan konflik dan kesalahpahaman antar umat beragama. Ia menciptakan sikap dikotomi: kami vs mereka, terang vs gelap, baik vs jahat. Sikap ini mendorong Marcopolo melaksanakan “misi suci” dengan membantai puluhan ribu Indian yang menolak Injil Kristus.

Inklusivisme

Sikap ini dianut terutama oleh Gereja Katolik. Konsili Vatikan II merupakan lompatan besar dalam teologi agama-agama Gereja Katolik; sebelumnya, Gereja Katolik berpendapat “tidak ada keselamatan di luar gereja”. Dalam Vatikan II, gereja Katolik jutsru mencantumkan hal-hal positif tentang kebenaran dan nilai-nilai agama lain. Karl Rahner yang meletakkan dasar positif Gereja Katolik terhadap agama-agama lain. Rahner berpendapat bahwa orang Kristen bukan hanya bisa, tetapi bahkan harus menganggap agama-agama lainnya sebagai “sah” dan juga merupakan “jalan keselamatan.” Rahner melihat betapa banyaknya umat beragama lain yang baik hati dan penuh kasih. Menurut Rahner, mereka ini adalah “Kristen anonim”; meski mereka Hindu, Buddha atau Islam tetapi sebenarnya mereka adalah orang “Kristen.”

Bagi Rahner, mereka yang bukan Kristen diselamatkan oleh kehadiran Kristus yang bekerja secara terselubung dalam agama-agama mereka. Jadi, pekerjaan Kristus, menurut Rahner, tidak bisa dibatasi oleh kekristenan; Kristus juga bekerja dalam agama-agama lain, meski secara terselubung. Kristus inilah yang membuat umat lain pun bisa memperoleh keselamatan. Kelebihan sikap inklusif adalah sikapnya yang positif terhadap agama-agama lain; kekurangannya adalah anggapan bahwa keselamatan umat lain bukan berasal dari agamanya sendiri, tetapi dari Kristus yang bekerja dalam agama-agama tersebut. Dengan demikian, sikap positif Rahner terhadap agama lain muncul karena hakekat dan eksistensi agama lain itu telah ia ganti dengan isi yang baru, yaitu Kristus. Eksistensi agama lain didegradasi, diturunkan posisinya di bawah kekristenan.

Pluralisme

Kaum pluralis tidak satu; sesuai dengan namanya, kelompok pluralitas ini bersifat plural. Anselm Min menyebutkan bahwa paling sedikit ada lima paradigma yang dianut kaum pluralis. Pendekatan-pendekatan tersebut adalah:

  • Pertama, the phenomenalist pluralism; tokohnya John Hick dan Paul Knitter. Dalam pendekakatan ini agama hanya dilihat sebagai fenomena respon yang berbeda terhadap realitas transenden yang satu (baca: Allah); pendekatan ini lebih theosentris. Mereka percaya bahwa Allah yang Esa itu tidak bisa dipenjara oleh satu agama atau doktrin agama mana pun. Keanekaragaman agama bukan dilihat sebagai keanekaragaman Allah, tetapi keanekaragaman interpretasi tentang Allah yang bekerja dan dipahami di dalam konteks historis serta budaya masyarakat di mana Allah menyatakan diri. Oleh karena itu, mereka mengakui adanya kebenaran pada agama-agama lain. Semua agama dianggap menyembah Allah yang menyatakan diri dan dipahami dalam berbagai interpretasi; kelemahan utama yang tidak diperhitungkan adalah bahwa tidak semua agama menyembah Allah, misalnya agama Buddha.
  • Kedua, the universalist pluralism; tokohnya Leonard Swidler, Wilffred Cantwell Smith, Ninian Smart dan sebagainya. Pendekatan ini menekankan kemungkinan, dan bahkan keperluan dibuatnya satu teologi yang universal berdasarkan pengalaman sejarah agama-agama. Kelemahannya, pendekatan ini terlalu menekankan universalitas yang bisa mengorbankan partikularitas.
  • Ketiga, soteriocentric pluralism (Rosemary Ruether, Suchocki, Tom Driver dan juga Knitter) menegaskan perlu keadilan sebagai ukuran dan praxis bersama umat berbagai agama. Pendekatan ini menekankan segi fungsional dan sosial demi kemaslahatan bersama. Kelemahan pendekatan ini ialah terlalu mengabaikan kekayaan tradisi dan doktrin gereja.
  • Keempat, ontological pluralism; tokohnya Panikkar yang menegaskan bahwa pluralisme bukanlah sekedar suatu pengetahuan, tetapi bahkan eksistensi dan hakikat hidup manusia. Pendekatan ini lebih bersifat kristosentris; tetapi baginya Yesus sejarah cuma salah satu penampakan dari Kristus. Pendekatan ini cukup berani untuk dipengaruhi pemikiran Hindu yang memiliki ribuan dewa/dewi.
  • Kelima, the confessionalist pluralism; tokohnya adalah Hans Kϋng, John Cobb, Jurgen Moltmann, Kenneth Surin, dan sebagainya. Pendekatan ini menegaskan bahwa meskipun kita harus menghargai agama-agama lain, orang Kristen harus tetap mengakui identitas dan finalitas Yesus Kristus sebagai juruselamat dunia; tanpa pengakuan ini, orang Kristen kehilangan identitas Kristennya. Sebaliknya, tanpa sikap positif terhadap agama lain, orang Kristen terjebak dalam kepongahan rohaninya. Kelemahan pendekatan ini justru kebalikan dari pendekatan ketiga. Pendekatan ini lebih bersikap deduktif dan bisa terjebak pada abstraksi teologis yang tidak relevan bagi kehidupan kita kini.

Telah diuraikan tiga pendekatan: eksklusif, inklusif dan pluralis. Pemaparan yang disampaikan di atas bukan dimaksudkan agar kita meng-copy mentah-mentah apa yang dihasilkan teolog-teolog tersebut. Kita sendiri harus berupaya untuk mencari dan menggali sikap teologis kita yang relevan dengan konteks kita di Indonesia; namun, paling tidak kita bisa belajar melalui ketiga pendekatan di atas. Dari kaum eksklusif kita belajar bahwa iman itu harus “eksklusif”, yaitu iman yang mempertahankan dan menjaga keunikan kita. Dari kaum inklusif kita belajar bahwa kita harus memiliki kebanggaan tehadap apa yang kita yakini. Tetapi, dari kaum pluralis kita belajar bahwa kita harus memiliki kerendahan hati, keterbukaan dan kemampuan untuk berelasi dan bekerjasama.

DIALOG ANTAR UMAT BERAGAMADAN PERDAMAIAN

Saya sangat setuju dengan pendapat yang menegaskan adanya keterkaitan antara agama dengan perdamaian dalam dunia dan oleh karena itu dibutuhkan dialog antar umat beragama. Sebuah dialog yang tidak didasarkan atas sikap superioritas terhadap yang lainnya tetapi dalam penghargaan dan penerimaan terhadap perbedaan dan kekhasan masing-masing. Pengalaman bangsa Indonesia beberapa tahun terakhir ini sudah cukup untuk memperlihatkan kebenaran dari tesisnya ini. Berbagai konflik sosial yang terjadi di negara ini jika ditelusuri lebih dalam pasti ada unsur sentimen keagamaan di dalamnya. Seringkali kita melihat agama menjadi sumber bencana bagi kehidupan manusia.

Abdul Munir Mulkham menyatakan bahwa konflik serta kekerasan atas nama agama yang kian jauh dari kepekaan dan empati kemanusiaan ialah karena kita menganggap mereka yang berbeda keyakinan iman dengan kita sebagai “The Others”.  The Others dipandang sebagai reperesentasi kekafiran sehingga harus dimusuhi, ditaklukkan dan yang perlu “dimurnikan” dengan membawa The Others itu ke keyakinan mereka.  Dalam beberapa kasus di Indonesia, sering kali masalah agama dijadikan kendaraan politik untuk kepentingan sekelompok orang. Tidak jarang masalah pertikaian antar suku juga dibalut dengan masalah agama. Sehingga yang muncul kepermukaan adalah masalah pertikaian antar umat beragama padahal sesungguhnya tidak demikian. Hal yang esensial yang perlu nampak ialah bagaimana seorang penganut suatu agama menerima dan menghormati agama lain sekaligus memegang teguh otentisitas kebenaran agamanya sendiri.

Setiap umat beragama, termasuk orang kristen, ketika berhadapan dengan pemeluk agama lain harus siap menghadapi dan mengakui perbedaan mendasar dalam hal pendangannya tentang dunia, hidup, cara berperilaku dan bersikap. Oleh sebab itu, melakukan dialog dengan pemeluk agama lain merupakan sebuah keharusan. Dalam dialog yang jujur tidak mungkin kita mengabaikan apalagi mengeksklusifkan dimensi iman agama yang diyakini setiap pemeluknya. Dialog yang dikembangkan oleh kedua pembicara dalam seminar ini tidak terbatas pada dialog teologis tetapi juga dialog kehidupan, yaitu dialog yang menyangkut masalah-masalah sosial yang dihadapi bersama.

Dialog yang tidak terbatas pada dialog teologis tetapi juga sebuah dialog kehidupan harus memperhatikan beberapa hal penting sebagai berikut, yaitu:

  1. Hanya jika kita berusaha memahami kepercayaan dan nilai-nilai, ritus dan simbol-simbol orang lain atau sesama kita, maka kita dapat memahami orang lain secara sungguh-sungguh.
  2. Hanya jika kita berusaha memahami kepercayaan orang lain, maka kita dapat memahami iman kita sendiri secara sungguh-sungguh: kekuatan dan kelemahan, segi-segi yang konstan dan yang berubah-ubah.
  3. Hanya jika kita berusaha memahami kepercayaan orang lain, maka kita dapat menemukan dasar yang sama – meskipun ada perbedaannya – dapat menjadi landasan untuk hidup bersama di dunia ini secara damai.

Dalam kerangka pemahaman seperti ini, dialog tidak hanya meningkatkan rasa toleransi, melainkan juga pengalaman transformatif bagi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Dialog seperti ini menuntut suatu sikap terbuka daripada defensif dan sikap rendah hati daripada perasaan dirinya selalu yang paling benar. Dengan demikian, pendekatan eksklusif dan inklusif tidak memadai bagi sebuah dialog yang jujur dan memungkinkan terjadinya kerja sama antar umat beragama yang tulus dalam mengatasi berbagai macam masalah sosial kemasyarakatan yang dihadapi bersama.

Dialog antara umat beragama tidak bertentangan dengan semangat keberagaman seseorang bahkan merupakan bukti konkret dari kehidupan keagamaannya yang penuh cinta pada Tuhannya dan sesama. Penerimaan terhadap perbedaan yang ada di antara pemeluk agama tidak harus membuat setiap pemeluk agama jatuh pada sikap relatitivisme. Di dalam dialog inilah mereka harus mengapresiasi keberagaman yang ada dan menggalang kerja sama dalam mengatasi berbagai macam persoalan kehidupan yang ada di lingkungan masing-masing.  Memang benar, bagi saya dialog baru menjadi bermanfaat ketika ditemukan makna praktis dan etisnya bagi kehidupan bersama. Jika tidak, dialog yang dilakukan hanya sesuatu yang membuang-buang waktu, tenaga dan energi saja. Bagi saya, kebenaran agama terletak pada komitmen solidaritas dan visi emansipatorisnya bukan pada sikap arogansi dan membela doktrin agama dengan membabi buta yang dapat menghancurkan kehidupan bersama. Oleh sebab itu, dengan berdasarkan pada pandangan kedua pembicara ini, pola kehidupan beragama yang perlu diwujudkan ialah pola kehidupan keberagamaan yang humanistik, yang menyentuh aspek-aspek kemanusiaan.

Apabila kita berbicara mengenai iman Kristen maka sebenarnya kita berbicara tentang Allah yang tidak hanya hidup untuk diriNya sendiri. Allah yang diimani dalam kekristenan adalah Allah yang keluar dari dirinya sendiri dan menemui manusia ciptaanNya melalui inkarnasiNya. Hidup itu benar-benar hidup kalau ia mengarah kepada orang lain. Allah yang hidup berarti Allah yang selalu mengarahkan diriNya kepada manusia. Hidup bagi diri sendiri bukanlah hidup yang benar. Hidup yang benar itu dinamakan kasih. Kasih selalu mengarah kepada orang lain. Oleh sebab itu, bagi Viktor Tanya, semakin kita mendalami iman Kristen kita yang berdasarkan kasih maka semakin kita hidup dan bekerja bagi orang lain sama seperti kita hidup dan bekerja bagi diri sendiri. Orang lain baginya adalah sahabat kerja Tuhan dan sarana di mana kasih itu beroperasi. Orang lain bukanlah ancaman dan sasaran untuk ditaklukkan. Bagi saya di sinilah kita dapat melihat hakikat ketaatan kita kepada Kristus dalam berelasi dengan mereka yang berbeda dalam keyakinan keagamaan. Kita menjumpai sesama yang berbeda dalam keyakinan keagamaan dengan penuh cinta dan pengosongan diri.

Jika kita dapat menempatkan diri dalam pemahaman tersebut di atas maka pluralisme keagamaan tidak merupakan bahaya atau bencana yang harus diratapi. Sebaliknya, pluralisme ini dengan sadar kita pahami sebagai sebuah kenyataan sosial yang tidak dapat kita hindari tetapi juga sebuah keadaan yang perlu kita syukuri. Dengan demikian, agama tidak akan menjadi sumber bencana tetapi menjadi sumber kedamaian bagi kehidupan umat manusia dan dunia.

KESELAMATAN BAGI SIAPA?

Keselamatan pada prinsipnya adalah untuk semua orang. Dalam Perjanjian Lama, meskipun unsur particular sangat menonjol, namun unsur universal dari keselamatan terungkap di sejumlah tempat. Dalam Yes. 42:1, misalnya, dinyatakan demikian: “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hokum kepada bangsa-bangsa.” Hal senada dapat kita temukan dalam Yes. 45:22;  Zef. 3:9; Za. 8:20-22, dll.).

Dalam Perjanjian Baru unsur universal dari keselamatan itu semakin menggaung. Dalam Matius 28: 19-20 diserukan pemuridan bagi semua bangsa. Dalam Luk 4 :18-19, yang merupakan kutipan dari Yes. 61 :1-4, penulis menghilangkan ayat 2b dari Yesaya 61 yang bertutur tentang pembalasan atas bangsa-bangsa. Dengan demikian unsur nasional dari keselamatan itu dieliminasi.  Memang harus diakui bahwa konbsep keselamatan yang universal ini tetap memiliki ketegangan dengan unsur partikularis/kekhususan. Keselamatan memang tidak lagi dibatasi pada bangsa tertentu, namun harus dikatakan bahwa keselamatan itu hanya sampai pada mereka yang percaya. Hal ini tidak boleh disembunyikan, bahkan  dalam pengembangan dialog antariman. Keyakinan  bahwa keselamatan terjadi dalam Yesus Kristus perlu kita pegang teguh.

Dalam kaitan dengan relasi antar manusia, Alkitab mengajar kita untuk rendah hati dan menyadari bahwa keselamatan yang boleh kita alami itu terjadi semata-mata karena anugrah Allah. Allah-lah yang berinisiatif menyelamatkan ciptaan-Nya. Allah-lah yang memberikan keselamatan. Manusia hanya penerima. Manusia tidak memiliki hak apa pun dalam mengatur siapa saja yang diselamatkan oleh Allah.  Kita harus yakin pada pokok iman kita mengenai keselamatan dalam Yesus, dan pada saar yang sama kita menghormati mereka yang memiliki keteguhan pada iman yang mereka anut. Dalam bahasa Dewan Gereja-gereja Se-Dunia (WCC): “Kami tidak dapat menunjuk jalan keselamatan lain kecuali Yesus Kristus; pada saat yang sama kami tidak dapat mendirikan batas bagi kuasa penyelamatan Allah.”. Keselamatan bagi kita memang melalui Kristus. Tetapi ini tidak memberi kita hak untuk menghakimi orang lain. Yesus bahkan melarang kita untuk menghakimi (Mat.7:15) dan sekaligus mengajarkan: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh  hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat. 7:12)

POKOK-POKOK PENDALAMAN

  1. Mengapa persoalan hubungan antar agama sampai sekarang tetap menjadi persoalan yang menarik untuk digali?
  2. Sebutkan apa saja yang menjadi penyebab sulitnya membangun hubungan antar umat beragama? Berikan contohnya!
  3. Sebutkan sikap yang bagaimana yang harus kita kembangkan untuk dapat menciptakan hubungan yang tulus dan jujur antar umat beragama?
  4. Sebutkan dampaknya bagi kehidupan bersama jika dalam bangsa Indonesia ini sikap untuk saling menerima dan menghargai umat beragama kurang dikembangkan?
  5. Adakah hubungan langsung antara spiritualitas dengan penerimaan dan penghargaan terhadap kepelbagaian uamt beragama? Jelaskan!

Pekerjaan manusia yang paling berat adalah menggerakkan agamanya dari mulut ke otot-ototnya.(Anonim)

Hakikat hidup keagamaan bukan hukum melainkan hubungan yang saling menghargai dan membangun sesama sebagai wujud kasih kepada Allah(Jotje Hanri Karuh)

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Pos ini dipublikasikan di BINA SPIRITUALITAS dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s