MENABUR DAN MENUAI

Mazmur 126: 5 – 6; Galatia 6:7

Pada suatu hari seorang pemuda sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. Ternyata ia melihat seorang pemuda sebaya dengan dia sedang bergumul dengan lumpur yang mengambang, semakin bergerak malah semakin dalam ia terperosok. Pemuda yang pertama tadi hendak sekuat tenaga memberikan pertolongannya, dengan susah payah pemuda yang terperosok itu dapat diselamatkan. Pemuda yang pertama memapah pemuda yang terperosok ini pulang ke rumahnya.

Ternyata rumah si pemuda kedua sangat bagus, besar, megah, dan mewah…Ayah pemuda ini sangat berterima kasih atas pertolongan yang di berikan kepada anaknya, dan hendak memberikan uang, pemuda yang pertama ini menolak pemberian tersebut. Ia berkata bahwa sudah selayaknya sesama manusia menolong orang lain yang dalam kesusahan.
Sejak kejadian ini mereka menjalin persahabatan. Pemuda pertama adalah seorang yang miskin, sedangkan pemuda kedua adalah bangsawan yang kaya raya. Si pemuda yang miskin ini mempunyai cita-cita untuk menjadi dokter, namun ia tidak mempunyai biaya untuk kuliah. Tetapi, ada seorang yang murah hati, yaitu ayah dari pemuda bangsawan itu. Ia memberi beasiswa sampai akhirnya meraih gelar dokter.

Tahukah saudara nama pemuda miskin yang jadi dokter ini? Namanya FLEMING, yang kemudian menemukan obat Penisilin. Si pemuda bangsawan masuk dinas militer dan dalam suatu tugas ke medan perang, ia terluka parah sehingga menyebabkan demam yang sangat tinggi karena infeksi. Pada waktu itu belum ada obat untuk infeksi serupa itu. Para dokter mendengar tentang penisilin penemuan Dr.Fleming dan mereka menyuntik dengan penisilin yang merupakan obat penemuan baru. Apa yang terjadi? berangsur-angsur demam akibat infeksi itu reda dan si pemuda akhirnya sembuh !! Tahukah saudara siapa nama pemuda itu? Dia adalah WINSTON CHURCHIL, PM Inggris yang terkenal karena kepahlawanannya dalam melawan Jerman di perang dunia kedua.

Dalam kisah ini kita dapat melihat hukum menabur dan menuai. Fleming menabur kebaikan — Ia menuai kebaikan pula — cita-citanya terkabul, ia menjadi dokter. Fleming menemukan penisilin yang akhirnya menolong jiwa Churchil.

Apa yang kita tabur itu juga yang kita tuai.  Kita akan menuai apa yang telah kita tabur. Rasul Paulus dalam Galatia 6: 7 mengatakan apa yang kita tabur itu juga yang akan kita tuai.Sikap kita menentukan jalan hidup kita. Termasuk juga dalam proses belajar kita di sekolah ini.

Mazmur 126: 5-6 mengajak kita untuk belajar dari seorang petani dalam meraih keberhasilan dengan prinsip menabur dan menuai.

1. Tahu pasti apa yang ditabur itu juga yang akan dituai

Jika ia menabur benih gandum tidak akan menuai padi. Apa yang akan kalian raih untuk masa depan sangat bergantung pada apa yang kalian tabur hari ini. Prestasi belajar, nilai raport yang baik, keberhasilan dalam belajar di sekolah ini sangat bergantung pada apa yang kalian taburkan hari ini.

2. Optimis dan berpengharapan. Pantang menyerah

Apa yang kita raih sebanding dengan apa yang kita lakukan. Kita harus menanggung ongkos yang harus dikeluarkan untuk meraih cita-cita kita, yaitu: belajar yang sungguh-sungguh, mengerjaan tugas-tugas sekolah dengan jujur, dan keuletan dalam belajar.

3. Tidak dikuasai oleh kegagalan masa lalu tetapi belajar dari kegagalan untuk melangkah maju

Untuk bisa bersikap seperti itu dalam diri kita diperlukan tiga sikap ketekunan sebagai penopangnya, yaitu:

  • Ketekunan waktu. Artinya kita harus menyediakan waktu yang cukup dan menggunbakan waktu yang ada sebaik dan semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil belajar yang baik.
  • Ketekunan pikiran. Kita harus mempelajari pelajaran yang akan diujikan dengan baik. Ketekunan ini akan menghantar kalian menguasai bidang ilmu yang diajarkan.
  • Ketekunan emosi yang positif. Ketekunan inilah yang membuat kita pantang menyerah untuk meraih cita-cita.

Allah tidak akan memberikan keberhasilan dan kesukacitaan pada mereka yang malas dan tak bertekun dalam waktu, pikiran, dan emosi positif. Jadi, siapkan masa dengan Anda dengan menabur ketekunan, keuletan, belajar yang baik dan sungguh-sungguh, serta miliki emosi dan pikiran positif; maka masa depan yang baik sudah menanti Anda. Tidak jalan pintas untuk meraih keberhasilan. Keberhasilan bukan sesuatu yang turun begitu saja. Seribu mil perjalanan diawali dengan langkah pertama, yaitu menabur sikap-sikap yang diperlukan untuk meraih keberhasilan dalam proses belajar di sekolah ini.

Be blessed,

Pdt. Jotje Hanri Karuh

(disampaikan dalam Kebaktian Siswa SMAK 1 BPK Penabur Bandung)

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Pos ini dipublikasikan di Khotbah Minggu dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s