KELUARGA YANG BERPUSATKAN KRISTUS

oleh : Pdt. Jotje Hanri Karuh

Keluarga adalah lembaga sosial pertama yang Tuhan ciptakan bagi manusia (Kej. 2: 18-25). Keluarga merupakan bagian dari karya penciptaaan Tuhan dan Tuhan melihatnya sebagai sesuatu yang baik serta memberkatinya.  Apabila kita perhatikan kisah Tuhan mempersatukan Adam dan Hawa maka kita dapat mengatakan bahwa keluarga adalah sebuah bentuk persekutuan. Bukan sekedar perkumpulan dari sekelompok orang yang tinggal bersama dalam suatu tempat atau rumah.

Keluarga dapat hanya menjadi sebuah perkumpulan orang-orang apabila dalam keluarga itu tidak terjadi komunikasi yang hangat dan saling membangun. Semua sibuk dengan urusan pribadi dan masa bodoh dengan yang lainnya.  Rumah hanya sekedar “HOUSE”, tempat tinggal, yang tidak ada bedanya dengan hotel, losmen, tempat kost atau apartemen.

Keluarga sebagai persekutuan berarti setiap anggota merasa dan menempatkan dirinya sebagai bagian integral dari keluarga di mana ia tinggal. Setiap orang merasa bahwa kesusahan atau kesukacitaan salah seorang anggota keluarga adalah kesusahan dan sukacita mereka juga. Setiap orang merasa bertumbuh dan berkembang kedewasaannya karena dukungan semua pihak yang ada dalam rumah tersebut. Setiap orang merasa hak dan kewajibannya sebagai anggota keluarga dihargai dan dihormati. Ada komunikasi yang hangat dan saling membangun satu dengan yang lainnya. Rumah dirasakan sebagai sebagai sebuah “HOME” oleh setiap anggota keluarga yang dapat memberikan kedamaian, kebahagiaan, kekuatan, pengharapan dan keberanian untuk menapaki masa depan. Seperti yang dikatakan oleh kata-kata bijak berikut ini: “Rumah adalah tempat bagi setiap orang untuk hidup bagi Tuhan dan sesamanya.”

Keluarga merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Setiap keluarga mempunyai peran dan sumbangsih yang besar dalam kehidupan masyarakat. Untuk hal ini kita dapat belajar dari apa yang diucapkan oleh Kung Fut Tse sebagai berikut:

Apabila ada harmoni di dalam rumah

Maka akan ada ketenangan di masyarakat

Apabila ada ketenangan di masyarakat

Maka ada ketentraman di dalam negara

Apabila ada ketentraman di dalam negara

Maka akan ada kedamaian di dalam dunia

Kita juga perlu ingat bahwa setiap keluarga Kristen adalah cerminan wajah gereja di masyarakat dan juga basis kehidupan gereja. Keluarga-keluarga Kristen yang kokoh membuat gereja juga kokoh. Sedangkan apabila keluarga-keluarga Kristen rapuh maka gereja juga rapuh. Di sini kita dapat melihat bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam kehidupan masyarakat dan gereja tetapi ia mempunyai peran yang sangat besar dan penting.

Dalam kerangka berpikir seperti inilah maka tema bahasan bulan keluarga, “Keluarga yang berpusatkan Kristus” – dengan sub-temanya: “Taat dan setia kepada Tuhan” – harus kita tempatkan.

Keluarga yang berpusatkan Kristus adalah keluarga yang dimana setiap anggota keluarganya memainkan peran aktif, kreatif, proaktif dan positif dalam mengupayakan kesatuan keluarga dan  terwujudnya peran sebuah keluarga Kristen di dalam hidup gereja dan masyarakat.

Keluarga yang berpusatkan Kristus adalah keluarga  yang sungguh-sungguh menjadikan Tuhan sebagai pemandu jalan kehidupan keluarga. Tuhan sungguh-sungguh dijadikan Tuhan di dalam keluarga.

Keluarga yang berpusatkan Kristus adalah keluarga yang tidak dapat dikalahkan oleh berbagai macam tantangan, kesulitan dan pergumulan yang sedang dihadapi. Semua kesulitan dan tantangan itu dilihat sebagai sebuah ujian iman untuk dapat semakin berakar, bertumbuh dan berbuah di dalam Kristus; dan bukannya dilihat sebagai beban yang dapat menghambat dan merusak suasana kehidupan keluarga kita.

Keluarga yang berpusatkan Kristus adalah keluarga yang dapat menjadi tempat pertama dan yang terutama bagi pendidikan moral dan kerohanian anak (bdk. Ul. 6: 4 – 9).

Keluarga yang berpusatkan Kristus adalah keluarga yang menjadikan firman Tuhan sebagai dasar dalam berpikir dan bertindak.

Keluarga yang berpusatkan kepada Kristus adalah keluarga yang setiap anggota keluarganya dapat berperan sebagai terang, garam, embun dan minyak kehidupan. Seperti garam yang memberi rasa dan mengawetkan demikian juga kita harus memberi rasa yang saling membangun untuk mengutuhkan kesatuan keluarga. Seperti terang yang menunjukkan kegelapan, membimbing dan mengarahkan orang pada jalan yang benar; demikian juga kita sebagai anggota keluarga memberikan tuntunan, arahan dan koreksi yang positif. Sehingga setiap anggota keluarga dapat menempatkan dirinya dengan benar dan melaksanakan apa pun dalam hidupnya di daalam kebenaran firman Tuhan. Seperti embun yang memberikan kesegaran demikian juga setiap anggota keluarga dipanggil  untuk dapat memberikan kesegaran rohani. Sehingga setiap anggota keluarga yang sedang mengalami keputusasaan, depresi, apatis dan sebagainya dapat kita kuatkan dan dipacu  kembali semangat dan gairah hidupnya. Seperti minyak dalam tradisi Israel yang melambangkan kekudusan maka setiap anggota keluarga dipanggil untuk menjaga kekudusan hidupnya sendiri dan juga kekudusan hidup setiap anggota  keluarganya.

Apa yang saya katakan ini memang bukan hal yang mudah. Diperlukan sikap dan tindakan dimana setiap anggota keluarga memberikan hatinya, perasaannya, cintanya, waktunya bagi anggota keluarga.  Setiap anggota keluarga tidak membiarkan dirinya dikuasai perasaan iri hati, dengki, benci, amarah, dendam dan pementingan diri sendiri. Bahasa populernya ialah setiap anggota keluarga menunjukkan  KASIH-nya kepada yang lain.

Tetapi seringkali kata Kasih ini disalahartikan. Misalnya: Karena memahami arti kata kasih maka dengan sendirinya mereka akan mengasihi. Memahami suatu konsep dan bertindak atas suatu konsep adalah dua hal yang berbeda. Bagaimanapun kasih adalah sesuatu yang harus kita lakukan. Uskup Stephen Neill mendefinisikan kasih sebagai “arah yang tetap dari kemauan yang kokoh terhadap kebaikan bagi orang lain.” Kesalah-pahaman lainnya ialah anggapan bahwa dengan tidak melakukan apapun terhadap orang lain sehingga kita tidak mungkin melukai perasaan orang lain seringkali dianggap sebagai tindakan kasih. Padahal dalam berita Yesus kasih adalah sesuatu yang bersifat aktif (Matius 7: 12). Ia tidak dapat berdiam diri apabila melihat ada orang lain/anggota keluarga yang membutuhkan uluran tangannya.

Salah satu bentuk ketaatan dan kesetiaan kita kepada Tuhan dalam hidup berkeluarga dapat kita lakukan dengan cara saling memberikan dorongan semangat (encouragement). Kita harus memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk memberi dorongan semangat kepada yang lain. Dorongan semangat adalah oksigen bagi jiwa. Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak saudara melihat arti dari setiap huruf pembentuk kata ‘Encouragement’ ini untuk melihat peran kita sebagai anggota keluarga yang berpusatkan kepada Kristus Yesus.

E adalah untuk enthusiasm (antusiasme) dan Energy (energi) dalam mendukung hal-hal yang penting bagi setiap anggota keluarga anda. Apakah kita menunjukkan antusias yang tinggi dan memberikan dukungan nyata bagi setiap anggota keluarga kita dalam pertumbuhan dan kematangan pribadi, hubungan antar pribadi, hubungannya dengan Tuhan dan upayanya meraih cita-cita.

N adalah untuk mengatakan ‘Next Time’ (lain kali) kau akan berhasil. Sebagai bentuk dukungan dan dorongan semangat bagi anggota keluarga kita yang belum dapat mencapai harapan atau impiannya.

C adalah untuk compassion (belas kasihan) kita.

O adalah untuk open lines of Communication (jalur-jalur komunikasi yang terbuka). Kita tidak akan membiarkan terjadinya kebekuan komunikasi antar anggota keluarga. Setiap persoalan dibahas dengan pikiran terbuka.

U adalah untuk understanding (pengertian). Apakah kita memahami kepribadian dan pergumulan setiap anggota keluarga.

R adalah untuk rooting (berakar) dalam tim. Sebuah keluarga dapat dikatakan sebagai sebuah tim. Apakah kita terlibat dan melibatkan diri dalam suasana kehidupan keluarga setiap harinya. Apakah kita memberikan sumbangsih bagi kekuatan, ketabahan dan keceriaan keluarga kita.

A adalah untuk arranging (menata)  jadual anda. Adakah waktu yang kita sisihkan (bukan disisakan) untuk kita lewatkan bersama anggota keluarga lainnya. Sehingga kita mempunyai waktu yang baik untuk berkomunikasi, bertukar pikiran, bertukar perasaan dan lain sebagainya untuk semakin meningkatkan tali kasih dan ikatan batin di antara anggota keluarga.

G adalah untuk going the second mile (memberi lebih dari yang diminta).

E untuk empowering (memberi kuasa) atau kesempatan kepada anggota keluarga lainnya untuk  melakukan sesuatu yang dianggap penting

M untuk motivation (motivasi). Mampukan kita saling memotivasi agar setiap anggota keluarga kita tetap dapat melangkah maju dengan ketegaran.

E adalah untuk example (contoh) atau teladan bagi keluarga dalam hal pertumbuhan rohani dan pelayanan kepada sesama.

N adalah untuk never (tidak pernah) bosan berbuat yang baik untuk keluarga

T adalah untuk taking (mengambil) waktu untuk memeluk dan mencium; yang menggambarkan kehangatan dan kedekatan hubungan antar anggota keluarga.

Keluarga yang berpusatkan kepada Kristus adalah keluarga yang taat dan setia kepadaNya. Untuk mewujudkannya diperlukan keterlibatan semua anggota keluarga. Mewujudkan sebuah keluarga yang berpusatkaan kepada Kristus sebagai bentuk ketaatan dan kesetiaan kita kepada Tuhan bukan hal yang mudah. Tidak semudah kita membicarakannya. Kadang dibutuhkan waktu yang cukup lama. Ini harus kita sadari dan akui. Untuk itu kita harus mempunyai ‘POWER”  yang kuat untuk merealisasikannya, yaitu:

P: Pray, berdoa

Doa adalah sarana dimana kita mengungkapkan segala permohonan, pergumulan dan kerinduan kita kepada Allah. Tetapi juga sekaligus kita belajar rendah hati dan berserah diri kepada Allah. Seorang Kristen yang tidak berdoa adalah seorang Kristen yang tidak memiliki sumber kekuatan (Matius 21: 12; Yohanes 14: 14).

O: Obey, ketaatan kepada kehendak Allah

Kita belajar untuk tetap setia kepada Kristus dalam segala keadaan. Jangan biarkan situasi dan kondisi memberi pengaruh buruk pada diri kita (Efeses 6: 16 )

W: Worship, ibadah atau persekutuan dengan saudara seiman

Beribadah atau bersekutu di gereja adalah tempat di mana kita memuji Tuhan, mempelajari firmanNya dan berinteraksi dengan saudara-saudara seiman yang dapat mendukung pertumbuhan imannya.

Ada artikel yang menggambarkan seorang Kristen yang tidak mau beribadah atau bersekutu di gereja sebagai berikut:

Seorang siswa yang tidak mau ke sekolah

Seorang prajurit tanpa pasukan

Seorang pelaut tanpa kapal

Seorang penabuh drum tanpa band

Seorang pemain bola tanpa tim

Seekor lebah tanpa sarang

E: Evangelize, kesaksian hidup kepada sesama

Kesaksian hidup melalui kata dan perbuatan akan semakin menumbuhkan kita dalam kasih dan kepedulian sesama sebagai wujud kasih kepada Yesus Kristus.

R: Read, membaca (kitab suci, Alkitab)

Hidup rohani kita memerlukan “makanan rohani” yang diperoleh dari Alkitab, yaitu Firman Tuhan (I Petrus 2:2; II Timotius 3: 16). Meskipun kita tidak dapat mengingat atau mengerti semua yang kita baca tetaplah membaca. Membaca mempunyai pengaruh yang baik, yaitu memurnikan pikiran dan hati.

Bagaimana dengan kehidupan keluarga kita sekarang ini! Sudahkah kelurga kita menjadi keluarga yang berpusatkan kepada Kristus? Apakah keluarga kita adalah sebuah “HOME” atau hanya sekedar “HOUSE” bagi setiap anggota keluarga? Apakah keluarga kita sudah menjadi pondasi yang kokoh bagi kehidupan gereja dan masyarakat?

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Pos ini dipublikasikan di BINA KELUARGA dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s