ALLAH MEMANGGIL GEREJA MENJADI PEMBAWA PENGHARAPAN

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa, kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.” (II Korintus 4: 8-9).

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus kristus,

Ada pepatah yang mengatakan demikian: “Hadiah terbaik untuk diberikan kepada orang lain adalah harapan.” Saudara yakin dengan kebenaran pepatah ini? Kalau saudara bertanya kepada saya maka saya akan menjawab bahwa pepatah ini memang benar dan harus diakui kebenarannya. Mengapa? Karena harapan adalah sebuah kekutan untuk bertahan; dan orang yang memiliki sebuah harapan dalam hidupnya akan mampu bertahan dalam mengatasi segala persoalan dan pergumulan hidupnya. Selain itu, harapan adalah pegas/per utama yang membuat manusia tetap bergerak. Karena mempunyai harapan maka seseorang akan terus berupaya meraih apa yang menjadi harapannya. Sebaliknya, orang yang tidak mempunyai harapan adalah orang yang telah mati dalam hidup. Dalam Ibrani 6: 19 dikatakan, “pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita…”

Saudara,  pengharapan itu jugalah yang mendorong Paulus di tengah situasi yang sangat sulit dan membahayakan sekali pun, ia tidak putus asa, tidak terjepit, tidak habis akal dan merasa tidak ditinggalkan sendirian. Paulus mempunyai daya tahan yang luar biasa di tengah tantangan dan cobaan yang datang bertubi-tubi dalam hidup pelayanannya. Rahasianya ialah karena ia berpegang teguh pada sebuah pengharapannya, yaitu bangkit bersama Tuhan dan tinggal dalam kerajaanNya (ayat 14). Karena harapan inilah maka Paulus mempunyai daya tahan yang luar biasa besarnya yang membuatnya taat, setia dan selalu merasakan kehadiran Allah dalam hidupnya; serta selalu mampu melihat jalan keluar dari setiap permasalahan yang dihadapinya. Dan sumber kekuatan untuk berharap itu adalah Tuhan sendiri.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus kristus,

Bacaan kita dari II Korintus 4: 8-9 memang berbicara tentang pergumulan hidup yang begitu berat. Berbicara tentang penindasan dari pihak lain dan sebagainya. Apakah suasana seperti itu masih nampak dalam kehidupan wanita di Indonesia ?

Kenyataan sekarang memperlihatkan bahwa banyak perusahaan yang lebih suka menerima karyawan wanita dengan dasar pemikiran bahwa pekerja wanita lebih mudah diatur dan dapat dibayar dengan standar gaji yang rendah. Eksploitasi terhadap tenaga kerja wanita masih sangat jelas terlihat; misalnya kepada mereka yang akan menjadi tenaga kerja di luar negeri.

Wanita yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga sering mendapat perlakuan tidak wajar atau upah kerja yang sangat minim

Bagaimana dalam pelayanan di gereja? Memang sudah banyak wanita yang terlibat aktif dalam pelayanan tetapi belum semua kaum wanita menyambut panggilan Allah menjadi mitraNya dengan penuh tanggung jawab. Ada banyak wanita yang lebih suka menjadi pelaksana dan kurang berani atau sama sekali tidak mau memberikan pendapatnya. Dan cukup merasa puas dengan berbuat seperti itu.

Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Ditengah situasi yang seperti inilah gereja dipanggil untuk memberikan harapan. Bukan harapan kosong melainkan harapan konkret yang dapat membawa perubahan. Perubahan  yang lebih baik dari yang sebelumnya. Gereja, dan juga warganya, tidak boleh terbawa arus jaman. Ia harus melawan arus jaman yang tidak selaras dengan firman Tuhan. Gereja harus menjadi agen perubahan seperti Kristus Yesus yang memberikan harapan baru kepada semua orang yang mengikutiNya.

Apabila gereja  ingin menjadi pembawa pengharapan maka gereja harus menjadi pembela hak asasi manusia serta mendorong dan menyokong kemajuan kualitas kehidupan dan pelayanan seseorang; dan bukannya menjadi pelindung hak-hak istimewa sekelompok orang. Gereja dapat menjawab panggilan Allah menjadi pembawa pengharapan dengan berbuat:

  1. Semakin memberi kesempatan kepada wanita untuk terlibat dan berperan aktif
  2. Mendorong wanita untuk tidak menyerahkan segala tanggungjawab kepada pria. Sebab Allah menjadikan pria dan wanita dengan kemampuan yang sama walaupun di bidang yang berbeda.
  3. Gereja, yang mempunyai sumber daya dan dana yang kuat dapat memperjuangkan hak-hak perempuan yang sela ini kurang atau sama sekali tidak diperhatikan. Atau dapat melakukan bersama-sama, seperti dalam wadah Klasis, Sinode atau PGI dan PGIW  bersuara bagi kepentingan kaum perempuan.

Saudara, namun ada hal yang perlu dilakukan gereja sebelum dapat menjadi pembawa pengharapan yaitu gereja pun terlebih dahulu harus mengalami pembaharuan hidup. Sebab di dalam kehidupan gereja itu sendiri semakin nampak tiga kecenderungan yang dapat membawa bahaya bagi kehidupan gereja yang tanpa sadar kita kadang kala  mempraktikkannya. yaitu:

  1. Indvidualisme (pementingan gerejanya/ kelompok gerejanya), sehingga acuh tak acuh terhadap orang lain.
  2. konsumerisme (menumpuk harta benda gereja tetapi mengabaikan masyarakat di sekitarnya.Sehingga kehadiran gereja tidak dirasakan masyarakat). Ilustrasi: Dulu gereja terbuat dari bilik tapi hatinya emas. Sekarang dari tembok megah tetapi hatinya bilik.
  3. Separitisme (mementingkan dan mengagungkan kelompok etnis/suku bangsa atau kelompok agama tertentu)

Saudara yang terkasih,

Tidak ada situasi tanpa harapan. Yang ada adalah orang-orang yang telah kehilangan harapan terhadap suatu situasi. Disinilah panggilan kita. Memberi pengharapan adanya perubahan. Tetapi sebelumnya kita sendiri harus diperbaharui. Amin.

Have a blessed Sunday,

Pdt. Jotje Hanri Karuh

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Pos ini dipublikasikan di Khotbah Minggu dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s