BERKORBAN TANPA PAMRIH

Yohanes 12: 20 – 36

“Hari gini berkorban buat orang lain, kagak lah yau!” sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari. Kalimat ini mau memperlihatkan bahwa berkorban bagi orang lain bukan perkara yang mudah. Di jaman yang sedang dikepung dengan pola materialisme maka berkorban bagi sesama menjadi sikap yang “mahal” dan jarang kita temui. Seseorang mau berbuat sesuatu untuk orang lain jika orang itu dapat memberikan keuntungan baginya, entah keuntungan ekonomis atau rasa aman.  Jika tidak, untuk apa berbuat baik pada orang itu. Selalu ada pamrih. “No free lunch” begitu kata orang jaman sekarang.

Yesus dalam perikop bacaan kita ini berbicara tentang pengorbananNya bagi keselamatan dunia. Yesus mengorbankan diriNya karena kasihNya bagi dunia dan bagi kemuliaan Bapa. Bahkan seluruh jalan hidupNya adalah untuk memuliakan Bapa di sorga. Jadi, apa yang dilakukanNya bukan untuk popularitas diriNya. Tidak ada ruang dalam hatiNya bagi kesombongan. Tidak ada ruang untuk mencari pamrih atau balas jasa. Ia melakukannya dengan tulus. Bentuk pamrih sangat beragam, misalnya: popularitas, sanjungan, materi, tuntutan agar di kemudian hari agar ditolong, dan sebagainya.

Yesus mengibaratkan diriNya seperti biji gandum yang harus mati terlebih dahulu agar dapat tumbuh dan menghasilkan buah yang berguna bagi kehidupan. Ia harus mati agar dari kematianNya ada sebuah kehidupan baru bagi umat manusia. Kehidupan baru yang lepas dari kuasa dosa serta mempunyai kehidupan yang kekal. Kemudian Yesus melanjutkan pernyataanNya yang menegaskan bahwa setiap mereka yang mau mengikutNya harus mau juga menempuh jalan hidup yang ditempuhNya (25-26). Mengikut Yesus berarti melakukan apa yang telah dilakukan Yesus. Yesus menjadi terang bagi penuntun langkah kehidupannya, sehingga mampu mengalahkan kegelapan yang ada di dalam dirinya dan sekelilingnya.

Oleh sebab itu, berkorban bukan hanya menyangkut soal perasaan tetapi juga menunjuk kepada sebuah keputusan dan komitmen dalam diri untuk berbagi kehidupan dengan orang lain. Adakalanya kita tidak ingin berkorban, namun mau tidak mau kita harus berkorban, disanalah arti pengorbanan yang sesungguhnya. Jadi, berkorban bukan sikap pasif, tetapi sebuah tindakan aktif yang didasarkan pada kasih. Kita dapat berkorban bagi orang lain (keluarga, teman, sabahat, rekan sepelayanan, saudara, dan sebagainya) jika di dalam diri kita ada yang namanya penyangkalan diri (kenosis). Kenosis memampukan kita untuk bertindak seperti benih gandum. Mati tetapi tumbuh yang baru. Kita dapat mengendalikan kecenderungan keegoisan kita dan di dalamnya akan tumbuh sebuah sikap hidup baru yang telah dipulihkan dan dibarui yang memampukan kita untuk berbuat sesuatu yang baik bagi orang lain. Dengan demikian, kita akan menjadi anak-anak terang (30). Ini memang bukan perkara yang mudah tetapi tidak mustahil untuk dilakukan asalkan kita mau menyontoh apa yang telah Yesus lakukan dan ajarkan.

Have a blessed day,

Pdt. Jotje Hanri Karuh

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Pos ini dipublikasikan di Renungan Harian dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s