HAI PEMUDA, APA MAKNA HIDUPMU?

oleh : Pdt. Jotje Hanri Karuh

Setiap orang adalah arsitek dari kehidupannya sendiri! Apa yang Saudara pahami tentang hidup,  bagaimana Saudara memandang kehidupan itu akan sangat menentukan jalan hidup Saudara.

Ada sebuah kisah mengenai tiga tukang batu yang sedang membangun sebuah gedung gereja. Kepada ketiganya diajukan pertanyaan yang sama: Apa yang sedang engkau lakukan? Tukang batu yang pertama menjawab, “Saya sedang meletakkan batu yang satu di atas batu yang lain.” Tukang batu yang kedua sambil tersenyum menjawab, “Saya sedang mengumpulkan uang.” Tukang batu yang ketika berpikir sebentar kemudian menjawab, “Saya sedang terlibat dalam sebuah proses pembangunan umat percaya. Walaupun saya tukang batu tetapi saya berharap gedung yang sedang saya bangun ini akan membuat orang-orang berbakti kepada Tuhan dan nama Tuhan semakin dipermuliakan.”

Ketiga jawaban ini menggambarkan tiga pola manusia dalam memandang kehidupannya. Jawaban tukang batu yang pertama memperlihatkan bahwa apa yang dilakukannya hanyalah sebuah rutinitas. Tidak ada waktu atau tidak merasa perlu untuk merenung sejenak untuk melihat hidupnya dan mencari maknanya. Yang penting cukup menjalani hidup tiap hari. Hidup sudah sibuk dengan segala kegiatannya. Biarlah hidup berlalu dan berjalan apa adanya.

Jawaban tukang batu yang kedua memperlihatkan kecenderungan lain dalam hidup manusia. Hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan kesenangan duniawi semata. Seseorang dikatakan bermakna hidupnya apabila ia sukses menjalani kehidupannya. Sukses di sini berarti mempunyai kuasa, pengaruh, uang dan prestise. Di luar itu berarti  Anda dan saya masuk dalam kategori orang-orang yang kalah dalam hidup. Karena itu tidak heran dan tidak jarang orang menggunakan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesemuanya. Pertimbangan moral dan iman dapat diabaikan begitu saja; bahkan dinilai sebagai penghambat kemajuan dan kesuksesan hidup.

Sedangkan jawaban tukang batu yang ketiga memperlihatkan sikap hidup yang jauh melampaui keduanya. Tukang batu yang ketiga melihat hidupnya sebagai bagian dari proses hidup manusia dan ia ingin ambil peran di dalamnya. Tukang batu yang ketiga sudah pada tahap mencari dan menemukan makna hidupnya.

Kita berapa pada kategori yang mana?

“Suatu hari Sang Budha bertemu dengan seorang suci. Orang suci ini menanyakan berapa pertambahan umur yang dimintakannya. Berapa pun yang diminta pasti akan dikabulkan. Sang Budha menjawab bahwa ia meminta ditambahkan usia 8 tahun saja. Muris-murid yang mendengar merasa heran dan bertanya kepadanya mengapa ia tidak meminta tambahan umur 100 tahun saja. Bukankah dengan tambahan 100 tahun itu akan ada banyak orang yang mendengar dan belajar dari apa yang diajarkannya. Sang Budha menjawab bahwa yang terpenting bukan berapa lama seseorang menjalani kehidupannya di dunia ini melainkan dari apa yang dia lakukan selama ia hidup.” Cerita tersebut di atas hendak mengatakan kepada kita bahwa makna hidup seseorang tidak dilihat dari panjang atau pendek usianya; melainkan dari apa yang dilakukannya selama ia menjalani kehidupannya.

Alexander Agung ketika ditanya seseorang apa yang akan dipilihnya jika diperhadapkan pada pilihan: berumur panjang atau  berumur singkat tetapi namanya harum dan hidupnya bermakna bagi bangsanya? Ia memilih yang kedua. Bagi Alexander Agung mempunyai makna hidup yang berarti  walaupun tidak berumur panjang jauh melebihi apapun yang dimilikinya selama ini. Orang dinilai bukan dari apa yang dimilikinya melainkan dari apa yang dilakukannya selama ia hidup.Tidak banyak orang yang berani memilih seperti dia. Bagaimana dengan Anda?

Kitab Kejadian 2: 7 memperlihatkan kepada kita bahwa pemberitaan dalam Alkitab menekankan bahwa hidup adalah sesuatu yang penting dan berharga. Sebab Tuhan yang memberikanNya. Nafas kehidupan berasal dari Tuhan. Apabila hidup itu begitu penting dan merupakan suatu anugerah dari Tuhan masihkah Saudara mengabaikannya dan tidak berupaya menemukan sendiri apa makna hidup Saudara bagi diri sendiri, bagi sesama dan terutama untuk Tuhan?

Apa  yang harus kita lakukan  agar  hidup dan kehidupan kita bermakna bagi diri sendiri, bagi sesama dan bagi Tuhan?

Kita harus menyadari bahwa setiap kita adalah unik dan istimewa dihadapan Tuhan. Oleh sebab, langkah awal untuk dapat menemukan makna hidup adalah penerimaan dan penghargaan yang positif terhadap diri sendiri harus dilakukan. Keunikan dan keistimewaan kita adalah  modal  awal untuk  langkah  selanjutnya menemukan makna hidup yang kita inginkan.

Hidup kita akan berarti apabila kita menyadari bahwa kita tidak dapat hidup sendiri dan menyendiri. Kita membutuhkan orang lain. Sebab sebagai manusia kita adalah makhluk sosial. Kita baru bermakna apabila kita juga mau memberi makna bagi kehidupan orang lain. Dalam Amsal 27: 17 ada pepatah yang mengatakan, “besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” Kata menajamkan di sini dalam pengertian menajamkan makna hidupnya.

Berani mengubah paradigma berpikir yang keliru mengenai hidup, sesama, diri sendiri dan Tuhan. Paradigma atau pola pikir kita harus sejalan dengan pola pikir dan kehendak Tuhan. Oleh sebab itulah Paulus mengatakan, “…janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu (paradigma berpikir) sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12: 2). Beranilah tampil beda sejauh itu baik. Beranilah tampil beda apabila itu sejalan dengan kehendak Tuhan. Beranilah tampil beda apabila itu membuat anda menemukan makna hidup yang anda cari selama ini.

Yang berikutnya, tetapkanlah visi dan misi hidup saudara. Visi dan misi hidup itu akan memandu arah danlangkah kehidupan yang akan dijalani. Tanpa mempunyai visi dan misi hidup kita akan sulit menentukan arah; yang pada akhirnya juga akan mempersulit kita dalam menemukan makna hidup yang kita cari dan kita kejar itu.

Apabila kita bercermin kepada Yesus, yang juga masih dapat dikategorikan muda usia, kita melihat bahwa bagi Yesus, hidupNya adalah suatu pelayanan dan penebusan bagi banyak orang  yang sesuai dengan maksud Allah terhadap umat manusia.  Yesus mengarahkan  hidupnya bukan kepada diriNya sendiri, melainkan kepada BapaNya di sorga dan kepada orang-orang disekitarnya. Itulah yang dituntaskan dan digenapi oleh Yesus.

Sedangkan Paulus menemukan makna hidupnya di dalam mempersembahkan dirinya sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Ia terus-menerus berupaya melakukannya dan menggenapinya berlari seperti seorang atlet lari berlari tidak kenal lelah berusaha mencapai garis akhir.

Kepada Timotius yang muda, Paulus mendorong agar ia tidak rendah diri melainkan terus berupaya agar ia dapat memenuhi panggilan hidupnya. Sehingga ia bermakna bagi sesama yang terlihat dari keteladanannya dalam sikap hidupnya sehari-hari.

Pencarian akan makna hidup adalah sebuah keharusan. Tidak ada tawar-menawar dalam hal ini. Sekarang apa menjadi makna hidup Saudara?

“Arti hidup seseorang tidak diukur dari panjang-pendeknya usia dan apa yang dimilikinya melainkan dari isi kehidupannya.”

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Pos ini dipublikasikan di BINA SPIRITUALITAS dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s