BELAJAR MELIHAT HUTAN, BUKAN POHON-POHON

Sebuah catatan reflektif dari Bina Kader Pengampu Organisasi GKI

oleh: Pdt. Jotje Hanri Karuh

Sebuah pengalaman menarik dan mencerahkan daya pikir mengikuti Bina Kader Pengampu Organisasi GKI. Selama satu minggu, 11 – 17 Pebruari 2008, peserta Bina Kader dibekali berbagai masukan teoritis mengenai pendekatan sistem (System Thinking) dalam melihat kehidupan gereja (internal dan eksternal) di dalam upayanya menghadirkan tanda-tanda Kerajaaan Allah bagi lingkungan di mana ia berada. Selain itu, peserta juga dilatih  kepemimpinan, kekompakan, dan berpikir sebagai satu kesatuan melalui pendakian ke puncak Gunung Sibayak. Tak kalah pentingnya, setiap peserta juga dibekali berbagai refleksi teologis yang berkaitan dengan spiritualitas dalam melayani sebagai pemimpin jemaat, baik dari aspek pastor ataupun pemimpin organisasi jemaat.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Badan Bina Pendeta GKI SW Jawa Barat yang memberi kesempatan kepada saya untuk mengikuti bina kader ini. Terima kasih juga kepada BPMK Bandung yang memberikan dukungan, baik legalitas formal pengutusan maupun pembiayaan yang diperlukan, untuk mengikuti kegiatan tersebut. Beberapa catatan reflektif di bawah ini merupakan upaya menuliskan kembali apa yang didapat dalam proses belajar di bina kader tersebut yang kiranya dapat menjadi bahan pertimbangan berikut di kemudian hari apabila Badan Bina Pendeta GKI SW Jawa Barat meminta kembali kepada BPMK Bandung mengutus pendeta di lingkungan Klasis Bandung untuk mengikuti kegiatan serupa di kemudian hari.

Bina Kader Organisasi: Pembibitan pemimpin GKI di masa depan?

Bina Kader Pengampu Organisasi yang diselenggarakan pada tanggal 11 – 17 Pebruari 2008 ini merupakan angkatan pertama. Rangkaian proses Bina Kader Pengampu Oganisasi ini akan dibagi dalam tiga tahap. Tahap pertama ini diikuti oleh 11 orang peserta. Peserta tahap pertama ini akan diseleksi kembali dan mereka yang lolos seleksi akan mengikuti Bina Kader Pengampu Organisasi tahap II yang kemungkinan akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2008. Kemudian, mereka yang lolos seleksi pada tahap kedua akan mengikuti Bina Kader Pengampu Organisasi tahap III yang rencananya akan dilaksanakan pada tahun 2009. Jumlah peserta yang mengikuti bina kader tahap III ini tentunya akan semakin kecil jumlahnya. Konon, peserta tahap III dibatasi hanya 4 (?) orang saja. Dapat dikatakan proses yang berlangsung dalam bina kader ini adalah sebuah proses yang berlangsung dengan materi yang padat yang disertai dengan evaluasi yang ketat.

Ada sebuah harapan besar yang ingin dicapai dari seluruh rangkaian proses yang padat materi  dan ketat dalam evaluasinya, yaitu didapatinya calon-calon pemimpin GKI di masa depan, entah sebagai personalia pada tingkat Klasikal atau pun Sinodal, dengan kualifikasi seperti yang diharapkan. Jadi, keikutsertaan dalam bina kader ini merupakan sebuah proses belajar mempersiapkan diri untuk mengemban panggilan pelayanan yang lebih luas di masa depan.

Dunia atau lingkungan kehidupan sekitar kita berubah dan terus berubah. Gereja perlu menanggapinya dengan bijak dan kontekstual. Untuk itu, gereja memerlukan pemimpin-pemimpin yang dapat melihat perubahan konteks secara tepat dengan wawasan berpikir yang luas, cermat, dan kontekstual. Tampaknya, bina kader ini dilaksanakan untuk mengantisipasi kebutuhan akan kader-kader pemimpin GKI di masa depan yang dapat membaca konteks dan merencanakan sebuah proses pembaruan gereja yang kontekstual. Oleh sebab itu, materi yang berfokus pada sistem berpikir (System Thinking) mengajak peserta untuk melihat gereja dalam konteks. Peserta diajak untuk melihat sebuah persoalan dalam skala yang luas. Belajar melihat masalah dalam perspektif yang luas. Tidak berpikir fragmentaris. Atau dengan kata lain, “belajar melihat hutan bukan pohon-pohonnya saja. ”Pendekatan fragmentaris tidak akan menghasilkan sebuah pendekatan yang holistik dan kontekstual. Ia hanya melihat sebuah penyakit dan berupaya mengobatinya tetapi tidak melihat apa yang menjadi sumber penyakit itu sendiri.

Apakah bina kader ini dapat menjawab kebutuhan tersebut? Saya berharap demikian! Mengapa? Pendidikan yang diterima di bangku kuliah di sekolah teologi atau fakultas teologi sangat sedikit membekali mahasiswa teologia akan pendidikan manajemen gereja. Sedangkan ketika memasuki ladang pelayanan di jemaat, tidak dapat tidak seorang lulusan pendidikan teologia harus berhadapan dengan persoalan-persoalan yang membutuhkan keterampilan dalam aspek kepemimpinan di dalam menghadapi persoalan konkrit jemaat, baik dalam lingkup internal maupun eksternalnya. Selama ini, setiap lulusan sekolah teologia lebih banyak harus belajar sendiri dalam mengembangkan kemampuan kepemimpinannya. Oleh sebab itu, upaya yang dilakukan Badan Bina Pendeta GKI SW Jabar mengadakan Bina Kader Pengampu Organisasi ini merupakan sebuah langkah konkret yang harus disambut dengan antusias oleh pendeta GKI, Majelis Jemaat, Majelis Klasis (cq. BPMK), dan Majelis Sinode (cq. BPMSW dan BPMS GKI). Bina kader dapat dilihat sebagai sebuah upaya yang disengaja untuk mencari dan mendapatkan kader-kader pemimpin GKI di masa depan. Apa yang Badan Bina Pendeta lakukan melalui Bina Kader Pengampu Organisasi ini juga merupakan sebuah upaya mengatasi sumber permasalahan kepemimpinan di GKI. Badan Bina Pendeta telah belajar “melihat hutan bukan sekedar pohon-pohon”.

Gereja: Sebuah sistem di dalam sebuah sistem

Apabila dilihat dari perspektif teori sistem maka gereja bukanlah sebuah organisasi yang statis dan berdiri sendiri lepas dari pengaruh lingkungan eksternalnya. Gereja merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dunia ini. Ia terus berada dalam sebuah ketegangan dengan sistem lain yang lebih luas dari dirinya sendiri, yaitu lingkungan kemasyarakatannya bahkan dunia itu sendiri. Gereja berada dalam sistem yang lebih besar lagi dalam dunia ini, misalnya sosial budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya. Apa yang terjadi dalam lingkungan kemasyarakatannya pasti berpengaruh terhadap kehidupan gereja. Sebaliknya, apa yang gereja lakukan dalam menanggapi perubahan keadaan tersebut pada akhirnya juga akan memberikan dampak kepada lingkungannya. Jadi, ada hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Jika demikian, gereja harus dapat membaca secara cermat dan tepat segala perkembangan yang terjadi di luar dirinya dan kemudian menanggapinya dengan kontekstual sesuai dengan identitas dan kemampuan yang ada dalam dirinya. Apabila gereja mengambil sikap menarik diri dari situasi lingkungannya, mengambil sikap tertutup, maka gereja lambat laun akan kehilangan hakikatnya sebagai persekutuan umat yang diutus dalam dunia untuk ikut serta proses penciptaan Tuhan yang masih terus berlangsung bagi pembaruan situasi kehidupan bersama yang lebih baik.

Teori yang dikembangkan Schwartz, Vijay Sathe, dan Jan Hendriks memperlihatkan dinamika yang terus berlangsung antara gereja dengan lingkungannya. Gereja menerima apa yang terjadi di lingkungan kemasyarakatannya sebagai masukan (input) dalam proses transformasi dirinya bagi dunia. Proses transformasi yang dimaksud ialah dinamika internal dalam jemaat di dalam mengelola input. Bagi Schwartz terdapat delapan hal penting yang harus diperhatikan, yaitu: kepemimpinan yang memberi inspirasi, struktur dan prosedur yang tepat guna, iklim kasih dalam persekutuan yang erat, adanya sel-sel yang holistik, program yang meraih ke luar, pengenalan karunia tiap pribadi yang terlibat dalam pelayanan sehingga pelayanan dapat dikelola berdasarkan karunia-karunia tersebut, ibadah yang mengilhami, dan spiritualitas yang bergairah.  Bagi  Schwartz ini merupakan bagian yang harus dilakukan setiap pemimpin gereja untuk mengembangkan gereja. Bagaimana dengan Vijay Sathe? Bagi Vijay Sathe organisasi yang mampu memberikan kontribusi yang positif terhadap lingkungannya sangat ditentukan oleh kualitas (spiritual) para pemerannya, kualitas dan fitur kepemimpinannya, kualitas struktur dan prosedural organisasi, iklim hubungan yang dibangun, identitas,visi dan misi yang dianut bersama, serta kualitas perencanaan strategis dan postur strategi yang diambil. Sedangkan bagi Jan Hendriks terdapat lima faktor penting yang harus diperhatikan dalam proses transformasi jemaat. Kelima faktor itu ialah kepemimpinan, iklim, struktur, tujuan/tugas, dan identitas. Pendapat ketiga pakar tersebut di atas pada intinya hendak mengatakan bahwa input yang diterima suatu organisasi (dalam hal ini gereja) dari lingkungan kemasyarakatannya harus dikelola dengan baik. Proses yang terjadi harus berlangsung dalam satu kesatuan yang utuh antara bagian atau komponen yang ada dalam gereja.

Input dari lingkungan kemasyarakatan ini oleh dikelola gereja dengan menggunakan mekanisme yang ada yang telah disepakati bersama sehingga terjadi proses tranformasi. Hasil proses transformasi ini adalah output yang akan gereja berikan pada lingkungannya. Hasil atau output dapat berupa peningkatan kualitas hidup individu yang ada dalam gereja, peningkatan kualitas setiap komponen yang ada di dalamnya, dan peningkatan kualitas pelayanan gereja terhadap masyarakat. Semua hasil proses transformasi internal itu (output) diharapkan turut memberikan warna yang positif bagi pembaruan dunia. Pada akhirnya, perubahan yang terjadi sebagai dampak dari output yang dihasilkan gereja akan menjadi input baru bagi gereja dalam proses transformasinya lebih lanjut. Proses ini terus berlangsung terus-menrus. Tidak pernah berhenti. Jadi, gereja ada dalam dinamika yang demikian hidupnya dengan lingkungannya. Oleh sebab itu, gereja harus mampu memberikan respon yang kontekstual agar kehadirannya tetap dirasakan sebagai garam dan terang dunia tanpa harus harus kehilangan identitas dirinya. Ini merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh gereja.

Gereja sebagai sebuah sistem terdiri dari berbagai komponen yang ada di dalamnya, misalnya: anggota jemaat, pendeta, penatua, aktifis, karyawan gereja, dana, sarana-prasarana, dan sebagainya. Pendekatan teori sistem memperlihatkan bahwa komponen-komponen yang ada itu saling berkait erat satu dengan yang lainnya. Suatu perubahan yang terjadi pada suatu komponen akan mempengaruhi komponen lainnya dan menghasilkan dinamika tertentu dalam kehidupan gereja. Hal ini perlu kita sadari, ingat, dan perhatikan terus-menerus ketika kita mengupayakan pembaruan organisasi gereja kita. Hal ini tentunya menuntut setiap pimpinan gereja untuk melihat permasalahan yang ada dalam jemaat dalam skala yang lebih luas, tidak hanya pada satu komponen tersebut.

Pendekatan fragmentaris yang umum dilakukan dalam mengatasi suatu permasalahan tidak terlalu menjawab permasalahan. Ia hanya fokus pada gejala bukan akar masalah yang sebenarnya. Melihat pohon bukan hutan permasalahannya. Pendekatan ini gagal mengenali hubungan sebab akibat yang ada antara komponen yang saling terkait di dalamnya. Contohnya: Masalah berkurangnya jumlah kehadiran anak-anak di sekolah minggu. Jika dilihat dari teori sistem maka hal ini tidak hanya persoalan Komisi Anak. Apabila kita ingin memperbaikinya harus dilihat kaitannya dengan komponen lain yang berkaitan dengan hal tersebut, yaitu kualitas guru sekolah minggu, progam Komisi Anak, orangtua anak sekolah minggu, kebijakan Majelis Jemaat, dan sebagainya yang berkaitan dengan masalah tersebut. Pendekatan sistem meletakan fokus pada akar permasalahan dan bukan pada gejalanya saja. Berkurangnya jumlah kehadiran anak-anak di sekolah minggu ada sebuah gejala yang harus dicari akar permasalahannya. Jika kita terpaku pada gejalanya saja dan tidak mampu menemukan akar permasalahannya maka semua upaya yang dilakukan dalam pembaruan organisasi tidak akan banyak berguna. Akar permasalahan akan tetap ada.

Kepemimpinan yang tidak mampu melihat semua komponen yang ada dalam gereja dan sistem lain yang berpengaruh terhadap kehidupan gereja tidak akan dapat membawa gereja mencapai visi dan misinya. Selain itu, ketidak mampuan dalam sistem berpikir yang demikian akan membuat seorang pemimpin mengabaikan perannya untuk menjadikan organisasi yang dipimpinnya atau komunitas umat menjadi organisasi yang melakukan proses pembelajaran bersama. Ia tidak mengembangkan dirinya sendiri dan juga pribadi-pribadi yang ada di dalamnya.

Belajar Kepemimpinan dari Sibayak

Pengalaman mendaki hingga ke puncak gunung Sibayak memberikan beberapa hal penting untuk direnungkan dalam kepemimpinan bersama di gereja (Jemaat, Klasis, dan Sinode).

  1. Kekuatan atau kemampuan sebuah tim dapat diukur dari bagiannya yang paling lemah. Di dalam kelompok kami terdapat dua anggota yang lemah. Sebagai sebuah tim tentu kami harus sampai di puncak gunung sebagai satu tim. Seberapa pun cepatnya dari antara kami mendaki gunung tersebut pada akhirnya harus menunggu rekan yang tertinggal. Pengalaman ini memberikan sebuah bahan perenungan yang penting dalam kehidupan pelayanan bersama di gereja. Kita tidak bisa berjalan sendiri dengan kemauan sendiri tetapi juga harus memperhatikan yang lain. Kecepatan kita melangkah harus memperhatikan kelompok atau pribadi yang lain dalam mencapai tujuan bersama. Pada akhirnya, kualitas pelayanan kita sebagai sebuah tim juga ditentukan oleh mereka yang kemampuan berjalanya tida seperti yang kita miliki. Titik lemah gereja kita menjadi tolok ukur keberhasilan dan keseluruhan proses yang berlangsung dalam jemaat.
  2. Saling menyemangati menciptakan sinergi yang luar biasa. Ketika melihat anggota kelompok yang kemampuan berjalannya berbeda dengan kita maka yang diperlukan adalah kepekaan dan empati kepada mereka. Kepekaan dan empati dapat diperlihatkan melalui dorongan semangat dan kerendahatian kita untuk memahami kesulitan mereka. Kadang dalam pendakian kami, kami banyak kali berhenti untuk memberi waktu pada teman-teman yang kemampuan mendakinya berbeda dengan yang lain untuk mereorientasikan diri dan memulihkan diri agar dapat mendaki kembali. Beberapa dari antara kami yang lebih kuat fisiknya juga semakin dimotivasi melihat rekan yang lemah berjuang dengan segenap kemampuan mereka untuk sampai bersama-sama di puncak gunung Sibayak. Anehnya, ketika kami melakukan itu semua ada suasana sukacita. Ada gembira. Ada persahabatan. Waktu tempuh sekitar 4,5 jam tidak terasa. Yang sebenarnya terjadi ialah sebuah proses yang saling menguatkan, saling mendorong, saling memotivasi, dan pada akhirnya tercipta sebuah sinergi yang memampukan kelompok mencapai tujuan bersama, sampai di puncak gunung Sibayak. Saya jadi teringat slogan sebuah film, “One for All, All for One.”  Apabila dalam gereja semangat seperti ini ada dalam pelayanan bersama para aktifisnya tentu suasana pelayanan bersama akan terasa indah, penuh kegembiraan, dan ada rasa persahabatan. Semua yang terlibat melihat dirinya sebagai satu kesatuan.
  3. Merayakan keberhasilan bersama. Sesampainya di puncak gunung Sibayak semua rasa letih hilang, yang ada adalah kesukacitaan. Tujuan bersama telah diraih. Kelompok kami saling menyalami atau mengucapkan kata selamat satu kepada yang lainnya. Kami merayakan keberhasilan bersama. Ini bukan keberhasilan individu tapi keberhasilan bersama sebagai satu kelompok. Betapa indahnya jika hal ini juga dapat kita lakukan dalam Jemaat, Klasis, dan Sinode kita! Tetapi, menurut saya, tidak hanya keberhasilan tetapi juga kegagalan dalam mencapai suatu tujuan bersama harus dilihat sebagai kegagalan bersama. Jika hal ini dapat dilakukan tidak akan ada pribadi atau kelompok yang merasa disudutkan apabila gereja belum mencapai tujuannya secara optimal.

Kemampuan melihat persoalan dari perspektif yang luas/menyeluruh dan kemampuan mencari solusi terbaik dari permasalahan yang dihadapi merupakan sebuah keterampilan yang dibutuhkan seorang pemimpin. Di dalam menjalankan kepemimpinannya ia harus dapat bermain sebagai satu tim dengan yang lainnya. Ia tidak dapat berjalan sendiri dan melakukan pembaruan kehidupan gereja seorang diri. Ia membutuhkan kehadiran orang lain. Oleh sebab itu, kerendahan hati dan pengosongan diri (kenosis) harus menjadi dasar dalam melayani. Setiap pemimpin harus terus mengasah kemampuannya agar dapat memberikan segenap kemampuannya bagi pembaruan kehidupan jemaat seoptimal mungkin sebagai bentuk persembahan hidupnya kepada Tuhan, pemilik gereja. Kepemimpinan yang dikembangkan adalah kepemimpinan yang menghamba seperti yang diteladankan Yesus. Inilah bentuk spiritualitas yang sehat.

Schwartz mengingatkan kita bahwa dalam proses pembaruan kehidupan gereja ada bagian Tuhan dan ada bagian kita. Bagi saya, menjadi pemimpin yang transformatif yang mampu melakukan pendekatan secara menyeluruh merupakan bagian yang harus kita lakukan untuk membarui gereja dengan sepenuh hati dan bertanggungjawab kepada Tuhan.

Gereja yang terbaik memang tidak sempurna, tetapi terus menerus menuju kesempurnaan.

Oleh sebab itu, dibutuhkan kepemimpinan yang transformatif. Pemimpin yang transformatif mengetahui apa yang menjadi bagian yang harus dilakukannya dalam arus pembaruan dunia melalui bidang pelayanan yang dilakukannya. Semua dilakukan dengan kerendahan hati dan pengosongan diri sebagai wujud panggilan spiritualnya.

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Pos ini dipublikasikan di BINA SPIRITUALITAS dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s