PEMBARUAN KELUARGA

Ayub 42: 1 – 6, 10 – 17

Ada kalimat bijak yang menyatakan, “Keluarga adalah tiang penopang masyarakat dan gereja”.  Ini berarti, keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat dan gereja mempunyai peran penting bagi kehidupan masyarakat dan gereja. Kualitas keluarga sangat berpengaruh pada pembentukan kualitas kehidupan masyarakat dan juga gereja di mana ia ada di dalamnya. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk senantiasa membarui kehidupan keluarga kita agar dapat menjadi teladan yang baik bagi kehidupan bersama di masyarakat dan di dalam gereja.

Pembaruan itu sendiri bukanlah sesuatu yang dapat terjadi seketika, secara instan. Pembaruan berbicara mengenai sebuah proses yang membutuhkan waktu, ketekunan, dan upaya yang sungguh-sungguh. Salah satu contoh kisah pembaruan kehidupan pribadi dan keluarga adalah kisah Ayub (Ayub 42). Apabila kita memerhatikan perikop bacaan kita maka kita akan melihat dua hal yang hendak ditegaskan oleh penulis kitab Ayub. Pertama, bagian ini mau menegaskan kepada kita bahwa Allah adalah sumber pembaruan kehidupan Ayub (42:10). Yang kedua, adanya proses yang Ayub harus lalui sehingga ia mengalami pembaruan dalam kehidupannya. Proses pembaruan yang Ayub lalui itu ialah:

1.      Ayub berdamai dengan Allah (Ayub 42: 5). Ayub menyadari bahwa selama ini ia hanya mendengar kata orang tentang Allah, tetapi sekarang pengenalan itu ia dapatkan dari pengakuannya secara pribadi. Pada masa lalu ia meragukan kehadiran dan kuasa Allah dalam hidupnya, tetapi sekarang ia menyerahkan sepenuhnya dirinya akan Allah.

2.      Ayub berdamai dengan dirinya sendiri (Ayub 42: 6). Mereka yang tidak dapat berdamai dengan dirinya sendiri tidak akan dapat berdamai dengan orang lain. Mengapa? Mereka yang tidak dapat menghargai dirinya sendiri tidak akan dapat menghargai orang lain. Mereka yang kecewa akan dirinya dan hidupnya tidak akan mampu membangun keluarga yang penuh sejahtera. Keluarga yang indah. Ketika Ayub menyadari kekeliruannya dan menyesali semua kata-kata yang melemahkan dan merendahkan dirinya (di mana ia mengutuki hari kelahirannya) serta bertobat kepada Allah maka mulailah Ayub menyadari keunikan dan keistimewaan dirinya. Ia menyadari bahwa ia berharga di mata Allah dan sesama. Ia mulai mampu menata dirinya dan melakukan sesuatu yang berharga untuk dirinya dan orang lain di sekitarnya.

3.      Ayub berdamai dengan sesamanya (Ayub 42: 10). Ayub tidak hanya berdamai dengan Allah dan dirinya sendiri, tetapi juga dengan sesamanya. Ia berdoa untuk teman-temanya yang telah berbuat salah kepadanya. Ia mengampuni mereka.

Hasilnya bagaimana? Hasilnya adalah sebuah pembaruan kehidupan pribadi yang luar biasa. Pembaruan hidup pribadi dan keluarga juga akan terjadi dalam hidup kita jika kita mau berproses seperti Ayub. Kita berdamai dengan Allah. Oleh sebab itu, kenali Allah dan cintai Allah dengan sungguh-sungguh dari hati kita yang paling dalam. Jadikan semua pengalaman hidup sebagai bahan refleksi untuk menemukan kasih dan setia Allah dalam hidup kita. Berdamai jugalah dengan diri sendiri. Jangan pernah menganggap diri tidak berguna. Jangan pernah menganggap diri kita tidak mampu berbuat sesuatu untuk menciptakan suasana kehidupan keluarga yang semakin indah dan sejahtera. Anda unik dan berharga di mata Allah dan sesama. Jadi bersikaplah dan bertindaklah sebagai pribadi yang berharga di mata Allah dan sesama bagi diri sendiri dan sesama. Pada akhirnya, berdamailah dengan sesama. Berdamailah dengan anggota keluarga Anda. Jangan biarkan sakit hati dan kekecewaan menguasai hidup Anda dan merusak keindahan kehidupan keluarga Anda. Tidak ada pribadi yang sempurna. Kita pun pasti pernah melakukan kekeliruan. Sebaliknya, biarlah kasih, kebaikan, dan pengampunan selalu tersedia dalam hati kita untuk anggota keluarga. Pikirkan dan berikanlah yang terbaik untuk keluarga dan mereka yang ada di sekitar kehidupan Anda.

Jika demikian, keluarga hidup indah, yaitu keluarga yang di dalamnya setiap anggota saling mengasihi, saling mendoakan, saling membangun dalam hal baik; bukan sebuah ilusi atau impian tetapi akan menjadi sebuah kenyataan.

Keluarga hidup indah bisa terjadi jika kita terus mau berproses dalam pembaruan keluarga. Pembaruan keluarga bermula dari pembaruan diri bersama Allah. Amin.

Have a blessed day,

Pdt. Jotje Hanri Karuh

Tentang blessedday4us

Pdt. Jotje Hanri Karuh - GKI Kebonjati Bandung
Pos ini dipublikasikan di Renungan Harian dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke PEMBARUAN KELUARGA

  1. Inggriani laismana berkata:

    Keluarga hidup indah bila TUHAN didalamnya, Dengan kasih yang sempurna, TUHAN pimpin langkahnya. Trima kasih padaMU TUHAN, KAU bimbing kami selamanya. Segaka hormat puji dan syukur, kami panjatkan kepadaMU.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s